Sabtu, 06 Desember 2008

@khwaT 5eJat1


Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, "Abi ceritakan padaku tentang Akhwat sejati?"

Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum.

Anakku...
Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.
Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.
Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.

Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.
"Lantas apa lagi Abi?" sahut putrinya.

Ketahuilah putriku...
Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan tetapi dilihat dari Kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda. Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.

Dan ingatlah...
Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.

Setelah itu sang anak kembali bertanya, "Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?"

Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, "Pelajarilah mereka!" Sang anak pun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan "Istri Rasulullah".

dikirimin a' Eko
thanks ya akhiiiii...............

Selasa, 18 November 2008

Re5eP b4Ha61a

Assalamu'alaikum Warahmatullah......

ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia:

  1. bebaskan hatimu dari rasa BENCI
  2. bebaskan pikiranmu dari segala KEKHAWATIRAN
  3. hiduplah dengan SEDERHANA
  4. Berikan LEBIH banyak
  5. jangan terlalu banyak berharap
by: mas Yanu
15 Nov '08

Senin, 15 September 2008

$ah4bAt.........

TEMAN SEJATI . . .
Mengerti ketika kamu berkata "Aku lupa . . "
Menunggu selamanya ketika kamu berkata " Tunggu sebentar "
Tetap tinggal ketika kamu berkata " Tinggalkan aku sendiri "
Membuka pintu meski kamu BELUM mengetuk dan berkata " Bolehkah saya masuk?"
Dan jika berkata, berkatalah kepada aku tentang kebenaran persahabatan?..

Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lapa dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.
Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “ya”.
Dan bilamana ia diam, hatimu tiada ‘kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita; Karena yang paling kaukasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu. Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria berbagi kebahagiaan.
Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar jati dan gairah segar kehidupan

(dikirimin dari: mba' Gumilang)

Selasa, 17 Juni 2008

Dia Ka#????



waa... ga nyangka banget....
puantes beberapa hari ini lo SMS dia suka nanya2 yang rada aneh gitu...

ya...beberapa hari lalu, setiap dapet moment waktu smsan, seorang kenalan ikhwan suka nanya hal yang menjurus2 soal pernikahan... mulai dari nanya soal " dah punya calon apa belum???" sampe " kapan target nikahnya ukhti?"

busyeetttt....saya kaget tak kepalang. awalnya memang bisa merespon biasa saja. tapi karena pertanyaannya yg ga biasa itu, bikin saya penasaran juga. 'ada apa sih dengan nih ikhwan?' ko nanya-nanya kesana??? mulai deh dag dig dug.. takut dia ada something ke saya (hehehe....GR duluan nieh).

tapi, usut punya usut, selidik punya selidik. akhirnya, rasa penasaran saya terjawab juga. sang ikhwan pun sempat memancing kembali dengan pertanyaannya tentang bagaimana perasaanku padanya... gubraakkk!!!! serasa apa ya??? au ah gelap. yang pastinya dag dig dug banget deh... dan lanjutan bahasannya (dari sang ikhwan), ternyata doski punya sedikit "rasa2 istimewa" gimana...gitu...

haaa..... ya Alloh.....bagaimana ini????

Kamis, 12 Juni 2008

t3nt4n6 HiDup


hidup ini adalah pilihan dimana engkau harus memilih arah tujuan
hidup ini adalah kenyataan dimana engkau akan mendapatkan rintangan
hidup ini adalah perjuangan dimana engkau akan menempuh berbagai rintangan
hidup ini adalah anugerah dimana engkau harus banyak memberi sebagai rasa syukurmu kepada-Nya

namun kenapa banyak orang yang belum bisa menentukan pilihan
putus asa dalam keterpurukan
berhenti ketika mendapat rintangan, kufur atas pemberian Tuhan

dimana letak keimanan dalam menentukan pilihan
dimana kepercayaan ketika jatuh dalam keputus asaan
dimana cinta dan semangatmu dalam menempuh medan dakwah yang penuh rintangan
dimana rasa kesyukuran kala Tuhanmu memberikan kelebihan

rintihan seorang hamba.....
yang dalam keguncangan jiwa
cobaan dalam dada
ejekan teman.... makian kawan...
dalam kesakitan...tak tahu arah tujuan
akankah diakhiri dengan kematian ????

Naudzubillah....
masih ada disana kawan yang mendengar
saudara yang memberi harapan dan mendo'akan

dikirimin dari : Mba' Zizah
8 juni 2008

Rabu, 11 Juni 2008

W4spaDa C1nl0K !!!!


Mungkin saat kita berbicara tentang cinta lokasi (cinlok), mengingatkan kita pada suatu acara reality show yang dihadirkan salah satu stasiun televisi Indonesia. Acara yang dibuat khusus bagi para jomblo yang ingin segera punya pacar. Caranya? Ternyata cukup singkat, program ini akan membantu para jomblo untuk mencari pasangan dengan menghadirkan 2 orang kandidat yang akan menjadi pilihan.

Tapi insya Allah pada tulisan kali ini, kita tidak akan membahas cinlok versi tersebut. Melainkan cinlok versi aktifis dakawah. Ups!!! Ada cinlok di kalangan aktifis? Namun memang begitulah realitanya, bahkan sebenarnya ini bukan lagi hal baru yang terjadi. Soalnya dah banyak juga para aktifis yang sempat menggelutinya.

Maka, Maha Besar Allah dan segala puji bagiNya yang telah menciptakan manusia dengan berpasang-pasangan. Laki-laki dan perempuan. Sebagaimana firmanNya, "Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan daripadanya Ia ciptakan isterinya..." (QS. 4 : 1). "Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan." (QS. 78 : 8), dan seperti yang disabdakan pula oleh RasulNya, "Sesungguhnya wanita adalah belahan tak terpisah dari laki-laki." (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).

Dan Allah SWT menciptakan laki-laki dan perempuan dengan masing-masing keunikannya untuk saling melengkapi satu sama lain. Dan karena itulah Allah yang Maha Pencinta ini pun menganugerahkan rasa kasih sayang dan cinta serta ketertarikan di antara keduanya. Sebagaimana difirmankan dalam kitabNya yang mulia, "Dijadikan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini (syahwat) dari wanita-wanita, anak-anak, dan harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan Allah, di sisiNyalah sebaik-baik tempat kembali." (QS. 3 : 14).

Cinlok (cinta lokasi), ternyata memang kerap kali terjadi di kalangan aktifis dakwah. Karena itu, cinlok bukan lagi istilah yang hanya digunakan bagi para aktris dan aktor yang saling kepincut sejak bertemu di lokasi syuting. Dari beberapa responden yang tentu saja adalah para aktifis dakwah pun tak mengelak untuk mengakui bahwa beberapa di antara mereka pernah mengalami hal ini. Bahkan salah satu responden akhwat yang berpartisipasi menyatakan, "Apabila dipersentasekan, maka kemungkinan terjadinya cinlok di kalangan aktifis berkisar pada angka 50 s/d 90 persen."

Lalu mengapa cinlok bisa hadir pula di antara para aktifis dakwah ini? Banyak hal yang melatarbelakangi kemunculan cinlok. Salah satunya adalah besarnya frekwensi pertemuan dan perbincangan di antara mereka. Entah dalam rapat, majelis, kebersamaan dalam suatu kepengurusan, dan sebagainya. Karena itu seorang akhi pun mengingatkan bahwa, "Interaksi yang terlalu sering terjadi di antara 2 jenis ini (ikhwan dan akhwat, red) akan berdampak munculnya 'rasa-rasa' tersebut (ketertarikan, perhatian, bahkan cinlok)."

Kehadiran 'rasa-rasa' tersebut memang merupakan hal yang wajar, lumrah, bahkan memang sudah ada dari sananya alias fitrah manusia. Namun akan kurang pas jika ternyata para aktifis dakwah justru turut pula bergelut di kegiatan para pengumbar cinta yang tidak atau belum halal bagi mereka. Ikhwah lain yang memiliki pengalaman pribadi tentang cinlok mengungkapkan, "Biasanya mereka (ikhwan-akhwat yang terjerat cinlok) kurang atau perlu waktu lebih lama untuk menyadari kealfaan tersebut, kecuali jika 'hubungan gelap' itu telah diketahui oleh ikhwah lainnya (ada yang mengingatkan), sehingga indikator-indikator di dalamnya pun kerap bersambut."

Karena kegiatan cinlok terjadi di lembaga atau organisasi dakwah, maka untuk melindungi cinlok, para aktifis pun mengangkat dalih untuk kepentingan dakwah sebagai background-nya. Kan mereka adalah orang-orang yang bergelut di bidang ini. Dan atas nama dakwah, awalnya hubungan yang terjadi relatif terkontrol perlahan terselip pula di dalamnya perhatian-perhatian khusus yang bersifat pribadi yang saling berkelanjutan hingga pada hal-hal kecil. Inilah yang dimaksud dengan 'gayung bersambut' tersebut.

Sebenarnya cukup mudah untuk mengenali indikator-indikator munculnya virus-virus cinlok. Karena indikator-indikator ini tidak jauh beda dengan yang terjadi di kalangan umum. Mulai dari besarnya rasa ingin tau segala sesuatu tentang si dia hingga mengalirnya perhatian-perhatian khusus tentang masalah-masalah pribadi si dia untuk tetap mendapatkan simpatinya.

Jadi, jalan dominan yang harus banyak dilakukan untuk diterapkan pada diri kita sendiri khususnya adalah dengan menjaga hati. Persis seperti senandungnya Aa Gym.

Jagalah hati... Jangan kau kotori!

Jagalah hati... Lentera hidup ini.

Jagalah hati... Jangan kau nodai!

Jagalah hati... Cahaya Ilahi.

Ya.. Saat kita merasa hati ini mulai dimasuki virus-virus merah jambu, maka berusahalah sekuat tenaga untuk dapat mengontrolnya dan jangan sampai kita tunduk hingga memperturutkannya saja. Bukankah banyak jalan yang dapat kita tempuh untuk sampai ke kota suci? Maka banyak pula cara dan ikhtiar yang dapat kita lakukan untuk menjaga hati, hingga Allah SWT mempertemukan kita dengan yang halal. Dan satu lagi sebagai pengontrol diri, ingatlah bahwa Allah SWT, Rabb kita yang Maha Pencinta itu juga adalah yang Maha Pencemburu.

Minggu, 08 Juni 2008

Qsah AdiK sang PenyemiR 5ePatu


Hmmm…hari ini aku bener2 mati kutu, pasalnya tadi malam aku ga ada belajar. Padahal pagi ini akan ada Quiz. Mata kuliah Kebijakan dan Inovasi Pendidikan. Dengan dosen pengajar yang cukup tegas.

Demi memanfaatkan waktu, selama perjalanan menuju kampus, sekitar 30 menit. Aku sempatkan membaca beberapa bahan materi ujian dari makalah teman2 yang telah di presentasikan sebelumnya. Ya…lumayanlah, walaupun hanya dapat sekedar membaca seadanya materi. Setidaknya aku paham sedikit. Dan siap tak siap quiz pagi ini harus dijalani.

Setibanya di kelas. Aku masih berat mengatur nafas. Alhamdulillah aku tak terlambat. Sebelum sang dosen terlihat ‘penampakannya’ dalam hati aku sempat berharap “ya Alloh…semoga hari ini bapak ga hadir trus ga jadi ujian deh…”. Ada2 saja, ketahuan banget lo ga siap ujian, hehehe….tapi ternyata harapan serupa tak hanya terpanjat dari hatiku sendiri. Beberapa teman pun salaing berbincang dengan harapan yang demikian.

Namun, sayang harapan sirna saat sang dosen mulai tampak di depan pintu. Hari ini beliau hanya membawa map absensi saja. Sudah jelas itu artinya kita akan tetap Quiz…so, Bismillah….ku panjat do’a dalam hati. “mudahkan ya Alloh…”. Dan pak dosen pun ternyata hari ini hanya mengeluarkan 1 soal saja yang perlu dijelaskan. Soal ini menilai sejauh mana pemahaman kami akan mata kuliah yang beliau pandu. Alhamdulillah….ini soal yang cukup mudah bagiku.

Selama 1 jam bergelut memerah otak dalam quiz. Akhirnya selesai juga. Teman2 segera meninggalkan kelas, beberapa ada yang menuju kantin, memnuhi hak si perut. Ada yang bersegera ke perpus, harus mengembalikan buku yang dah terkena denda akibat lambatnya pengembalian. Dan entah kemana2 lagi berhamburannya temen2ku itu. Dan pak dosen pun telah meninggalkan kelas pula. Sementara itu aku, Salsa, Eni, Siti, Nia, Rusla dan Putri (maaf bila ada yang tak tersebutkan namanya ya…mungkin saya lupa). Masih ingin menetap sejenak lagi di kelas. Dan tak lama….

Seorang adik datang dan masuk ke dalam kelas. Jika saya mengira-ngira, mungkin usianya sekitar 11tahun. Awalnya diantara kami ada yang tak mengerti ucapannya saat masuk. Karena jujur, logat bahasanya sungguh beda, jenis suaranya pun begitu khas. Saya bahkan belum pernah dengar yang seperti dia. Ia pun duduk di salah satu kursi temen2 putra. Dan berkata “mba… ada yang mau semir sepatu kah?” ya begitulah kira-kira. Kebetulan yang tersisa di dalam kelas hanya tinggal kami saja.

“sebaiknya di tawarkan ke ruang dosen saja dek…” seorang diantara kami memberi saran.

“ dosen tuh apa sih mba?” ternyata dia tak mengerti.

“ dosen itu artinya guru” kali ini Rusla angkat bicara.

“ ooo…memangnya dimana itu (ruang guru_red)” tanyanya lagi.

“ di gedung sebelah sana dek…” yang lain ikut memberi petunjuk dengan tangan. Mengarahakan tangannya menunjukkan sebuah gedung di seberang bangunan kelas kami. “ mungkin disana kamu bias nyemir sepatunya dosen-dosen” sahut teman yang lain.

“ ooo…sudah tadi saya kesana, nyemirkan sepatu sampai sepuluh.” Jawabnya.

“ wa…Alhamdulillah.. kalo begitu.. kalau di ruang dosen yang sebelah sini?” Eni menwarkan seraya menunjukkan ruang dosen lain, di gedung sebelah kiri bangunan kelas kami.

“ sudah juga. Saya sudah keliling tadi.” Jawabnya dengan senyum dan mimic wajah yang tampak ceria dan begitu khas.

Saying, kami tak bias memanfaatkan jasanya. Soalnya, kebetulan diantara kami tidak ada yang mengenakan sepatu dari bahan kulit. Yang cocok untuk disemir. Karna bingung, kami sempat saling sibuk kembali dengan urusan masing-masing. Dan sementara itu, ternyata si adik penyemir sepatu itupun bersenandung. Dia menyanyikan lagu dangdut. Buuusyyeeetttt… perhatian kami kembali padanya.

“ suka nyanyi ya? Suaranya bagus juga” celetuk seorang teman

“ hehehe…iya mba, tapi saya bisanya Cuma lagu dangdut. Yang lain, saya ga bias” jelasnya malu-malu (tapi mau…)

“ suaranya bagus, kenapa ga ikut dangdut mania kah gitu?” Eni menawarkan. Sementara itu, si penyemir sepatu hanya tertawa saja. Entah apa jawabannya saat itu, aku tak begitu memperhatikan. Aku masih sesekali sibuk dengan ponselku.

“ mba mau kunyanyikan lagunya Rhoma Irama kah?” ia menawarkan pada kami.

“ wah…iya..iya…boleh…” sahut Putri.

Dan adik itu pun kembali bersenandung. Suaranya beneran bagus. Tapi karna rada malu-malu mau, nyanyinya jadi sepotong-sepotong. Lucu juga dia nih…

Tiba-tiba ada salah seorang teman yang bertanya “ kamu muslim kah?”

“ iya mba… saya baru saja masuk Islam. Baru 2 bulan lebih.” Begitu katanya kalau tidak salah. Hmmm…ternyata dia cukup terbuka. Walaupun kami tak mengenalnya, tapi ia mau saja berbagi cerita. Dari sini, keingintahuan tentangnya pun semakin besar.

“ oya, memangnya kamu orang mana sih?” Tanya Putri.

“ saya dari Ambon. Bapak saya asli orang Dayak. Ibu saya asli Ambon jawabnya. “ Bapak saya sudah meninggal. Ibu saya juga meninggal sekitar 2 tahun lalu” lanjutnya. Sebenarnya waktu itu dia sempat menjelaskan sebab meninggalnya sang ayah. Namun maaf, saya lupa ceritanya.

“ trus kok bias ke samarinda ikut siapa? Sama keluarga kah? Sama kakak atau adik?” Tanya teman yang lain lagi. Aku tak pernah memperhatikan siapa yang bertanya, aku lebih tertarik dengan ceritanya si penyemir sepatu itu. Dan maaf lagi, aku tak tahu namanya.

“ waktu itu saya ikut kapal. Saya anak tunggal. Ga punya sodara” jawabnya singkat.

“ trus disini kamu tinggal dimana?” lanjut temanku bertanya

“ disini saya nge-kost. Saya nyemir buat bayar uang kost” jawabanya, tetap dengan mimic wajahnya yang ceria. Selama bercerita tak pernah sedikit pun ia menampakkan ekspresi wajah sedih atau mengiba.

“ berapa biaya uang kost-nya?” Rusla kembali bertanya.

“ seratus lima puluh ribu. Ruangannya kecil, Cuma kamar saja” sahutnya. “Hmmm…. Ya Alloh dek… kamu hebat banget. Bias bertahan di wilayah orang dengan kesendirian. Bekerja semampumu untuk membiayai dirimu sendiri…hebat…” gumamku dalam hati. Selama mendengarkan ceritanya, beberapa kali aku dan teman2 mengucapkan tasbih. “Subhanallah…” perjalanan hidup adik seusianya bener2 mengagumkan buatku dan temen2. pasalnya sampai seusia ini, kami masih bergantung pada orangtua. Sedangkan dia…. Ya Alloh… kuatkan dia…

“ oya, trus kenapa kamu jadi masuk Islam?” Tanya Eni.

“ waktu itu, saya ketemu seorang bapak-bapak. Dia nanya ke saya, katanya ‘ kenapa kamu menyembah yesus? Dia itukan hanya nabi, bukan Tuhan?’. Gitu mba, trus saya mikir, iya juga. Tuhan kok mati sih?” jawabnya polos.

saya bersyahadat di masjid Darussalam. Waktu itu sampai 3 kali mengucapkan syahadat, baru bias masuk Islam” ujarnya. Merinding saya mendengar ceritanya di sesi ini. Seolah berujar dalam hati “ Baarokallah ya dek…selamat bergabung dalam barisan, semoga tetap istiqomah dalam kebenaran”

“ waktu saya dulu ke gereja, pendetanya pernah berpidato begini. ‘ rasakanlah kehadiran Yesus dalam dirimu…’. Padahalkan Yesus sudah mati, makamnya saja masih ada di Yerussalem” lanjutnya bercerita sembari tertawa. Ia malah geli sendiri mengingat hal itu. Kami pun jadi turut tertawa bersamanya.

“Allahu Akbar…. Mudahnya Engaku memberi hidayah padanya ya Robb…” gumamku lagi dalam hati. Aku hanyut dalam kekagumanku akan kuasa Alloh SWT dari cerita adik penyemir sepatu itu. Tak hanya aku, saat dia bercerita demikian, teman2 yang lain pun berdecak kagum memuji Alloh SWT. Robb kami, Robb seluruh alam semesta ini.

“ dek... kamu sekolah sudah kelas berapa?” Tanya Eni lagi.

“ saya ga pernah sekolah dari kecil. Orangtua saya ga punya biaya-nya mba..” jawabnya. Namun ia menjawabnya tetap dengan senyum khas di wajahnya itu.

“ memangnya kamu bercita-cita jadi apa?” Tanya yang lain.

Hehehe… maaf lagi, saya malah lupa jawabannya waktu itu apa.. penulis cerita yang payah nih, saya…

“ saya dengar, katanya ada sekolah gratis disini ya mba? Dimana itu?” kali ini dia balik bertanya. Sepertinya, keinginannya untuk bersekolah cukup besar.

“ iya, ada di tenggarong” jawab Rusla.

“ wa… jauhnya ya…” sahut sang adik penyemir sepatu.

“ di Bontang juga ada” tambah Rusla.

Yeee….yang di Tenggarong saja, dia sudah kejauhan. Apalagi yang di Bontang….piye tho mba???? Ada-ada saja nih.

Tak terasa waktu berlalu, seru banget mendengarkan cerita adik penyemir itu. Namun saying, kami tak bias berbincang lebih lama dengannya. Dia harus kembali mengitari kampus, menjemput rezeki. “ saya pergi dulu ya mba… Assalamu’alaikum..” si adik penyemir sepatu itu pun berpamit. Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarokatuh...senang bisa mendengar ceritamu dek…semoga tetap berada dalam keadaan sebagai muslim, hingga akhir hayat, Baarokallah… aamin..

# Samarinda, 10 Juni ‘08

khansa_asysyifa

sepekan setelah pertemuan denganmu dek…

Ke3p 15tiQ0maH yaaaa

Minggu, 06 April 2008

1nf0rMa5! p3neRban64n 9r@t1zzz...


Bila kita akan 'berangkat" dari alam ini ia
ibarat penerbangan ke sebuah negara.

Dimana informasi tentangnya tidak terdapat dalam
brosur penerbangan, tetapi melalui Al-Qur'an dan
Al-Hadist.

Dimana penerbangan bukannya dengan Garuda
Airlines, Singapore Airlines, atau American
Airlines, tetapi Al-Jenazah Airlines.

Dimana bekal kita bukan lagi tas seberat 23Kg,
tetapi amalan yang tak lebih dan tak kurang.

Dimana bajunya bukan lagi Pierre Cardin, atau
setaraf dengannya, akan tetapi kain kafan putih.

Dimana pewanginya bukan Channel atau Polo,
tetapi air biasa yang suci.

Dimana passport kita bukan Indonesia , British
atau American, tetapi Al-Islam.

Dimana visa kita bukan lagi sekedar 6 bulan,
tetapi 'Laailaahaillallah'

Dimana pelayannya bukan pramugari jelita, tetapi
Izrail dan lain-lain.

Dimana servisnya bukan lagi kelas business atau
ekonomi, tetapi sekedar kain yang diwangikan.

Dimana tujuan mendarat bukannya Bandara
Cengkareng, Heathrow Airport atau Jeddah
International, tetapi tanah pekuburan.

Dimana ruang menunggunya bukan lagi ruangan ber
AC dan permadani, tetapi ruang 2x1 meter, gelap
gulita.

Dimana pegawai imigrasi adalah Munkar dan Nakir,
mereka hanya memeriksa apakah kita layak ke tujuan
yang diidamkan.

Dimana tidak perlu satpam dan alat detector.

Dimana lapangan terbang transitnya adalah Al
Barzah

Dimana
tujuan terakhir apakah Syurga yang
mengalir sungai di bawahnya atau Neraka Jahannam.

Penerbangan ini tidak akan dibajak atau dibom,
karena itu tak perlu bimbang.

Sajian tidak akan disediakan, oleh karena itu
tidak perlu merisaukan masalah alergi atau halal
haram makanan.

Jangan risaukan cancel pembatalan, penerbangan
ini senantiasa tepat waktunya, ia berangkat dan tiba
tepat pada masanya.

Jangan pikirkan tentang hiburan dalam
penerbangan, anda telah hilang selera bersuka ria.

Jangan bimbang tentang pembelian tiket, ianya
telah siap di booking sejak anda ditiupkan ruh di
dalam rahim ibu.

YA! BERITA BAIK!! Jangan bimbangkan siapa yang
duduk di sebelah anda.

Anda adalah satu-satunya penumpang penerbangan
ini.

Oleh karena itu bergembiralah selagi bisa! Dan
sekiranya anda bisa!

Hanya ingat! Penerbangan ini datang tanpa
'Pemberitahuan' .

Cuma perlu ingat!! Nama
anda telah tertulis
dalam tiket untuk Penerbangan. ...

Saat penerbangan anda berangkat... tanpa doa
Bismillahi Tawakkaltu 'Alallah, atau ungkapan
selamat jalan.

Tetapi Innalillaahi Wa Inna ilaihi Raaji'uun....

Anda berangkat pulang ke Rahmatullah. Mati.

ADAKAH KITA TELAH SIAP UNTUK BERANGKAT?

'Orang yang cerdas adalah orang yang mengingat
kematian. Karena dengan kecerdasannya dia akan
mempersiapkan segala perbekalan untuk
menghadapinya. '

ASTAGHFIRULLAH 3X, semoga ALLAH SWT mengampuni
kita beserta keluarga... Amiin WALLAHU A'LAM

Catatan:

Penerbangan ini berlaku untuk segala
umur...tanpa kecuali, maka
perbekalan lebih baik
dipersiapkan sejak dini.....sangat tidak bijak dan
tidak cerdas bagi yang menunda-nunda mempersiapkan
perbekalannya.


Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga hal yaitu:

1. Doa Keluarga

2. Hartanya

3. Amalnya


Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal
Bersamanya yaitu;

1. Keluarga dan Hartanya Akan Kembali

2. Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.

Maka ketika Roh Meninggalkan
Jasad...Terdengarla h Suara Dari Langit Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..

Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau
Dunia Yang Meninggalkanmu

Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan,
Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu

Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia, Atau Dunia
Yang Telah Menumpukmu

Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia, Atau Dunia
Yang Telah Menguburmu."

Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan.. ..
Terdengar Dari Langit
Suara Memekik, "Wahai Fulan
Anak Si Fulan...

Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini
Terkulai Lemah

Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih, Mengapa Kini
Bungkam Tak Bersuara

Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa
Kini Tuli Dari Seribu Bahasa

Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia,
Mengapa Kini Raib Tak Bersuara."

Ketika Mayat Siap Dikafan...Suara Dari Langit
Terdengar Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan

Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha

Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah ."

"Wahai Fulan Anak Si Fulan...

Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan
Nun Jauh Tanpa Bekal

Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan
Kembali Selamanya

Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang
Penuh Pertanyaan."

Ketika Mayat Diusung.... Terdengar Dari Langit
Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..


Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan

Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat

Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat."

Ketika Mayat Siap Dishalatkan. ...Terdengar Dari
Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..

Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau
Lihat Hasilnya Di Akhirat

Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik

Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk."

Ketika Mayat Dibaringkan Di Liang
Lahat....terdengar Suara Memekik Dari Langit, "Wahai
Fulan Anak Si Fulan...

Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang
Luas Di Dunia Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap
Gulita Di Sini Wahai Fulan Anak Si Fulan...

Dahulu Kau Tertawa, Kini Dalam Perutku Kau Menangis

Dahulu Kau Bergembira, Kini Dalam Perutku Kau Berduka

Dahulu Kau Bertutur Kata, Kini Dalam Perutku Kau
Bungkam Seribu Bahasa."

Ketika Semua Manusia
Meninggalkannya
Sendirian... . Allah Berkata Kepadanya, "Wahai
Hamba-Ku.... .

Kini Kau Tinggal Seorang Diri

Tiada Teman Dan Tiada Kerabat

Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..

Mereka Pergi Meninggalkanmu. . Seorang Diri

Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku

Hari Ini,....

Akan Kutunjukan Kepadamu

asih Sayang-Ku

Yang Akan Takjub Seisi Alam

Aku Akan Menyayangimu

Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya".

Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman,
"Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah Kepada Tuhanmu

Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya

Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba- Ku

Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku"

Anda Ingin Beramal Shaleh...?

Tolong Kirimkan Kepada Rekan-Rekan Muslim
Lainnya Yang Anda Kenal...!!!Semoga Kematian akan
menjadi pelajaran yang berharga bagi kita dalam
menjalani hidup
ini.

Rasulullah SAW. menganjurkan kita untuk
senantiasa mengingat mati (maut) dan dalam sebuah
hadithnya yang lain, beliau bersabda "wakafa bi
almauti wa'idha", artinya, cukuplah mati itu akan
menjadi pelajaran bagimu!

Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amiin....

Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang
mungkin terlalu sibuk bekerja...

Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih
untuk mendapatkan kesempatan membaca email ini.


Aktifitas keseharian kita selalu mencuri
konsentrasi kita. kita seolah lupa dengan sesuatu
yang kita tak pernah tau kapan kedatangannya.
Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat
menakutkan.Tahukah kita kapan kematian akan
menjemput kita???


Kamis, 27 Maret 2008

kePad4 BunD@....


Pautan dua cinta yang terikat kuat antara ibu dan anak sepertinya takan pernah putus. Tetapi kekokohannya bukan tidak mungkin usang dan kendur. Dan selalu anak yang mengendurkan tali kasih itu. Ibu, rasanya terlalu mulia untuk dituduh mengusangkan kekokohan pautan cinta suci yang berakar di hatinya.

Ibu tidak pernah mengumbar janji untuk menyayangi anaknya. Derai air mata dan cucuran peluhnya jauh lebih nyaring mengatakan "sayang" ketimbang janji manis atau bahkan omelannya ketika si anak berulah. Baginya cinta dan sayang selalu ada untuk anak-anaknya, hingga ia tak perlu lagi janji, karena janji hanya untuk sesuatu yang belum tersedia.

Tetapi terkadang janji adalah suara sehari-hari yang sampai ke telinga seorang ibu dari mulut anak-anaknya. Dan sering kali janji itu jauh lebih memekakan telinga daripada menjernihkan mata karena melihat bukti dari janji-janji itu.

Ada sebuah fragmen yang cukup menarik, dikisahkan pada suatu ketika seorang anak yang merasa sudah cukup sukses berucap janji kepada orang tua yang tinggal satu-satunya; ibu yang sangat disayanginya. "Ibu, kalau sudah punya cukup uang saya ingin sekali mengongkosi ibu naik haji." Ibunya tersenyum. Dari ujung matanya kristal-kristal bening meleleh. Didekapnya buah hati yang memiliki niat baik itu. Tanpa suara. Hanya dadanya yang bergemuruh memikul haru yang begitu besar. Bayangan masa-masa kecil anaknya yang menyimpan banyak kenangan manis lalu pun hadir. Disusul bayangan kerinduan yang sangat untuk berziarah ke baitullah. Dalam hatinya ia berucap, "Semoga niat sucimu terkabul, sayang." Dan sebuah kecupan mendarat di dahi puterinya yang cantik itu.

Waktu pun berlari menyisakan hitungan hari, hingga pada suatu saat keberuntungan berpihak pada puteri cantik pemilik niat baik itu. Bersama suami dan anak-anaknya ia kembali ke tanah air dari tugas dinas suaminya. Tentu di kantong keluarga kecil itu telah terkumpul cukup uang. Hal ini dipahami oleh sang ibu. Seketika hatinya berbunga menyambut kepulangan anak, mantu, dan cucunya.

Namun meski demikian, pantang bagi si ibu untuk mengungkit janji yang pernah diucapkan puterinya tentang naik haji itu. Ia tak ingin selaksa amalnya terkotori oleh sedikit pun pamrih. Namun, puterinya yang cantik itu seperti lupa dengan janji yang diucapkannya. Seminggu, sebulan, dua bulan, dalam hati, seorang bunda menunggu-nunggu anaknya yang mungkin akan memberikan buku ONH (Ongkos Naik Haji) atas namanya dan suaminya. Waktu pun berlalu tanpa suara, seperti tak berani janji kapan peristiwa itu akan terjadi. Hingga tibalah suatu hari, hati seorang bunda pecah dalam diam ketika anaknya itu membeli sebidang tanah seharga tiga kali ongkos haji untuk dibuat kolam ikan dan tempat peristirahatan keluarga kecilnya bila pulang ke desa.

Tak tahu sebesar apa gemuruh yang bergelombang di dada ibu, hanya dia yang tau, karena ia tetap tersenyum di depan semua anaknya. Tak terkecuali di depan puterinya yang cantik itu. Ia tak pernah menagih janji anaknya, bahkan sekedar mengungkit pun tidak. Tapi, entah isyarat apa ketika ikan-ikan di kolam anaknya tak pernah menghasilkan keuntungan. Rumah peristirahatannya pun menjadi hanya sebatas rumah kosong yang tidak banyak memberi manfaat. Lalu, entah isyarat apa ketika anak-anak yang lain yang ikut menggunakan uang anak perempuan ibu itu untuk berbagai usaha, tak satu pun dari mereka yang sukses. Alih-alih, sebuah kesalah-pahaman keluarga terjadi meretakan keharmonisan keluarga ibu yang diingkari janji itu.

Entah isyarat apa. Apakah itu akibat sakit hati ibu karena anaknya sendiri telah mengingkari janji untuknya? Hanya "mungkin" jawabannya. Karena senyum ibu tidak pernah berubah untuk semua anaknya; do'a ibu tidak pernah berganti untuk semua buah hatinya, selalu untuk kebaikan; dan pangkuan serta pelukannya selalu terbuka untuk seluruh belahan jiwanya. Tapi apakah seorang ibu tidak bisa sakit hati? itu juga pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Karena ibu juga manusia biasa, tapi sangat luar biasa jasanya. Terlalu mahal semua jasanya untuk ditukar dengan janji-janji kosong. Mungkin kekebalan hati seorang ibu telah mampu menyembunyikan sepedih apapun sakit hatinya, namun Allah tetaplah Dzat yang Maha Adil yang telah mentakdirkan Rasul-Nya bersabda: "Keridhoan Allah ada dalam keridhoan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah ada dalam kemurkaan Allah."

Mungkin lautan kasih sayang ibu terlalu dalam untuk sekedar menenggelamkan sebesar apapun kesalahan anak-anaknya hingga tak muncul kepermukaan. Tetapi sebagai anaknya, kita harus memahami sifat manusiawi ibu kita, bahwa beliau juga punya hati yang sakit jika tergores. Dan yang pasti Allah adalah Dzat yang Maha Adil, dan tidak pernah lupa dengan janji-janji yang tertuang dalam ajaran-ajaran Rasul-Nya. Jadi, berhati-hatilah memelihara janji yang pernah diucapkan di hadapan bunda.

Sahabat, sayangi ibumu, ibumu, ibumu!

Wa4JJI a'lam.

dikirimin dari Lis Susanti

L0v3 You M0m...


Seorang anak menulis :

Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anak yang mendapatkan
ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur.
Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. si
ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang
dihulurkan oleh si anak dan membacanya.

OngKos upah membantu ibu:
1) Membantu Pergi Ke Warung: Rp20.000
2) Menjaga adik Rp20.000
3) Membuang sampah Rp5.000
4) Membereskan Tempat Tidur Rp10.000
5) menyiram bunga Rp15.000
6) Menyapu Halaman Rp15.000
Jumlah : Rp85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya
berbinar-binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang
kertas yang sama.

1) OngKos mengandungmu selama 9bulan- GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu -GRATIS
4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu -GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu -GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu,
memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu".Kemudian si anak mengambil
pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya: "Telah
Dibayar" .

KAMU SAYANG IBUMU????
JIKA ADA JALAN UNTUK MEMBAHAGIAKAN IBUMU .. MAUKAH ANDA MELAKUKANNYA ??

DiPili# at4U m3miL1H


Hampir jam delapan. Kukeluarkan ponselku, tidak ada pesan baru. Sudah satu jam lebih sms yang kutunggu-tunggu belum juga sampai. Mungkin nanti. Tunggu saja. Atau mungkin disini sinyalnya kurang bagus? Kucoba mengirim sms ke mba Dina, mengatakan kalau aku dalam perjalanan pulang ke Purwokerto, dan besok pagi aku sempatkan mampir ke rumahnya di Perumahan Berkoh Indah. Terkirim. Lima menit kemudian kudapatkan balasannya : OK, mba Dina tunggu ya.Berarti sinyalnya bagus.

Pukul delapan lewat sepuluh menit, bis yang saya tumpangi berangkat, pelan-pelan keluar dari terminal, seperti gajah yang berjalan lamban keluar kandang. Setelah berhasil keluar, bis-ku terus melaju melintasi jalan raya, menembus gelap malam, berputar balik di Jalan Baru, lalu masuk jalan tol. Sms yang kutunggu belum juga ada.

Di kota Jakarta yang padat ini, aku mengontrak rumah bersama seorang temanku. Kecil memang, tapi harga sewanya terjangkau dan cukup nyaman untuk ditinggali berdua. Setahun sudah aku tinggal disitu bersama Wahyu, temanku yang kukenal sejak kuliah dulu.

"Jadi hari Jum'at ini mau pulang?" tanya Wahyu dua hari yang lalu.

"Iya yu. sudah kangen sama mbok.nanti kalau Sabtu Wawan kesini, bilangin aja buku yang mau dipinjem ambil aja"

"oke Di. aku boleh nitip kripik tempe asli purwokerto nda?"

"yo wes gampang, sip. tenang ae.."

Tentang Wahyu, dia memang teman yang baik hati dan pengertian. Buatku yang sudah lama tinggal dengannya, Wahyu adalah teman dalam suka dan duka. Fisiknya memang kecil, tapi sangat percaya diri, tidak gampang down atau putus asa.

Wahyu jugalah yang membuatku kenal dengan orang-orang di daerah sini. Cara bergaulnya yang supel membuat banyak orang kenal dengannya. Karena aku paling sering bersama Wahyu, aku jadi kecipratan ikut banyak kenal orang sekitar. Aku jadi kenal dengan mas Azik yang biasa mengisi pengajian remaja, dengan Dody ketua karang taruna, dengan Nia yang mengajar TK Islam, dan banyak orang lain yang tinggal di daerahku, profesi mereka beragam, dari pegawai negeri sampai penjual mie ayam. Aku juga jadi kenal dengan seseorang yang sering kujumpai saat aku berangkat dan pulang kantor, seseorang yang selalu menyapaku dengan senyumnya. Sofi.

Bis malam yang kutumpangi kini melewati daerah UKI Cawang. Saat ini pukul 20.40, pedagang kaki lima masih semangat mangkal di trotoar, malam-malam begini mereka masih setia menunggu barangkali ada orang yang tertarik dengan dagangannya. Jakarta memang tempat mencari rupiah.

Melalui kaca kulihat mereka menjual aneka sepatu kulit yang kelihatannya masih bagus, bermacam-macam tas wanita, CD-CD lagu populer, pakaian, dan ada juga perkakas berat seperti tang, palu, dan obeng. Sms yang benar-benar kutunggu belum ada juga. Kutaruh ponselku di saku jaket. Aku merasa gelisah, kenapa belum juga sms itu datang. Dinginnya AC tak lagi terasa, tertelan oleh rasa gundahku sendiri.

Setelah beberapa lama, akhirnya bisa juga bis besar ini melewati macetnya jalan di dekat UKI, lalu kembali masuk ke jalan tol.

"Kenal Nila kan Di? yang rumahnya di gang Abah, sebelah warung bu Meideh." tanya Sofi sebulan yang lalu. Kami bertemu tak terduga di suatu sore, saat kami sama-sama pulang kerja.

"mm. yang mana ya? Apa yang agak tinggi itu yah?" aku pura-pura menebak-nebak. Padahal aku tahu Nila.

"iya. Kantornya cukup dekat denganku. Biasanya kami bareng, tapi hari ini sepertinya dia ngga masuk."

"oh." jawabku singkat sebelum aku mengucapkan sampai jumpa di dekat rumahnya. Kontrakanku masih agak jauh masuk ke dalam gang.

Begitulah beberapa kali perbincanganku dengan Sofi, biasanya di sore hari saat aku pulang kerja, itu juga kalau aku tidak ada kerjaan lemburan. Kalau ada kerjaan tambahan pasti aku pulang malam. Di pagi hari Sofi berangkat agak siang, tapi sering ia terlihat duduk di kursi teras di depan rumahnya. Kalau aku tidak buru-buru biasanya kami sempat mengobrol sebentar. Dibatasi oleh pagar coklat yang mengelilingi taman bunganya, kami seperti sama-sama menikmati sejuknya embun pagi yang menetes dari daun jambu. Pernah suatu kali ia menawari aku kue nastar, katanya kemarin ia buat sendiri. Rasanya manis.

Bis besar yang kutumpangi melesat tanpa hambatan di jalan tol di daerah Cikarang. Di sebelah kanan dan kiriku terhampar tanah luas, diantaranya berdiri pabrik-pabrik, bentuknya hanya gedung-gedung satu lantai yang punya halaman dan pekarangan sangat luas. Di jembatan penyeberangan banyak terpampang reklame produk elektronik dan ucapan selamat datang di kawasan industri Jababeka.

Mobil-mobil sedan berwarna silver dan biru 'terbang' meninggalkan bis-ku. Dari balik awan tipis yang melapisi angkasa, bulan bulat sempurna menampakkan keindahannya. Sepertinya, rembulan yang berkilau itu selalu mengiringi kemanapun aku pergi.

Aku bosan menunggu sms, kucoba saja untuk tidur, memejamkan mata sambil bersandar di kursi. Sekarang jam sembilan lewat dua puluh menit. Kucoba menghalau perasaan gelisahku. Mungkin memang tidak malam ini. Malam yang pekat, mungkinkah kau menyimpan satu rahasia? Jangan biarkan aku gelisah sendirian. Temani aku dengan sepimu. Tenangkan aku dengan gulitamu. Biarkan dinginmu merasuk menyegarkan jiwaku. Bulan yang cantik, nyanyikan aku sebuah lagu pengantar tidur.

"Jadi sebaiknya gimana?"

Wahyu diam sejenak, sepertinya berpikir sesuatu. Aku menunggu jawabannya sambil berbaring menatap langit-langit kamar.

"Kalo kamu udah mantap, ya udah nikah aja Di. toh kamu udah punya kerjaan tetap. Kakakmu udah berkeluarga semua"

Aku diam. Masih melihat langit-langit.

"Tapi gajiku ngga seberapa yu. apa dia bakal mau?"

"Di. rizki itu udah ada yang ngatur. Kayak ga pernah mbahas surat AnNur aja. Inget, jika mereka miskin, Allah akan mengayakan mereka dengan karunia-Nya"

Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Hari-hari yang kulalui besoknya, lebih banyak kugunakan untuk merenung. Lamunan-lamunan panjang itu, kadang tak berujung dan tak berbuah kesimpulan. Namun, semakin aku berfikir, makin aku mempunyai sebuah kemauan. Angin musim hujan telah meniup semua keraguan dan menghembuskan semua ketakutan yang ada dalam hatiku.

"Sofi, ada seseorang yang ingin menikah denganmu." Ucapku melalui telepon disuatu malam.

Ia terdiam sejenak. Sepertinya kaget.

"eeh. ini serius Di?" suaranya masih seperti biasanya.

"iya serius. Dia ingin menikah denganmu"

"mm. siapa Di?"

"Aku. Mau ngga nikah denganku?" Seperti antara sadar dan tidak aku mengatakannya. Seperti telah hilang semua rasa takut dalam jiwaku.

"Kamu ga perlu ngasih jawaban sekarang." aku buru-buru menambahkan.

"okay mmm. gimana kalau aku telfon kamu hari Jumat malem?" kata Sofi.

Jumat malam? Wah. Jumat malam kan. gimana ya?

"Jumat malem ya? kalau sms aja fi. bisa?"

"Oh, baik kalo gitu, Jumat malem ku-sms yah."

Bis yang kutumpangi entah sampai dimana. Aku mencoba lagi untuk tidur ketika tiba-tiba kudengar dering sms dari HP-ku. Pohon-pohon yang berderet di kanan-kiri dan jalan raya yang tidak terlalu lebar membuatku mulai merasakan suasana luar-kota Jakarta. Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk metropolitan. Bulan bulat sempurna masih setia menemaniku diatas sana.

Jantungku berdebar-debar, gelisah yang mendera begitu terasa hingga aku seperti dapat merasakan darah yang mengalir di seluruh tubuhku. Agak gemetar kubuka inbox di ponselku.

From:Hendra. "Ass, besok Senin jangan lupa emailkan perkembangan terakhir kegiatan kita. Oya, oleh-olehnya jgn lupa ya."

Ah ternyata cuma Hendra. Uuh bikin kaget aja. Ngga tau apa orang lagi nunggu sms penting. biarin, kubalas saja,

To : Hendra."insya Allah, jazakallah"

Hehe, emang enak dibales gitu doang. Paling-paling dia ngedumel sendiri. Tak Sampai lima menit kemudian kudengar dering sms balasan dari Hendra. Segera saja kubuka, masih sambil nyengir penasaran gimana kira-kira Hendra bakal protes dengan sms jawabanku.

Ups, ternyata bukan dari Hendra. Pesan itu datang begitu mengagetkan hingga aku perlu membaca dua kali agar otakku bisa mengolah informasi dalam pesan itu.

From:Sofi. "Ass. Di, aku begitu menyukaimu sebagai temanku. Tapi aku tidak bisa menerima permintaanmu. Maaf ya Di, aku masih ingin melanjutkan kuliah ke S1. Saat ini, aku takut kehilanganmu sebagai temanku. Kuharap kau tetap seperti yang kukenal. kamu layak mendapat yg jauh lebih baik dari aku Di.. tak perlu sedih dengan keadaan ini."

Kututup ponselku. Berbagai pikiran berkelebat dalam kepalaku. Tiba-tiba semua terasa menyesakkan, dan tiba-tiba dingin terasa menusuk sampai tulang-tulangku. Kupejamkan mata dan kueratkan jaketku untuk mengusir rasa dingin dan sepi ini.

"yu, kalau misalnya dia ngga nerima gimana?" tanyaku.

"maksudmu ditolak?" kata Wahyu, sambil sedikit tertawa.

"Tenang aja Di. kalau misalnya ditolak, kamu ngga sendirian kok."

"maksudnya?" tanyaku bingung.

"Ya. buat laki-laki ditolak itu hal yang wajar. Banyak laki-laki merasakannya."

Wahyu berhenti sejenak.

"Hidup adalah sebuah pilihan Di. hidup itu kebebasan untuk memilih dan memilah. Tapi kamu juga harus menyadari, kita hidup dengan konsekuensi. Bebas memilih tidak membuat manusia bebas dari konsekuensi "

"Jika kamu memilih untuk mengajaknya menikah, konsekuensinya kamu harus menerima resiko terburuk, yaitu ditolak. Cuma ditolak Di.. Lalu, jika kamu memilih untuk tidak berani melamarnya, kamu juga menerima konsekuensi, perasaannya padamu tetap menjadi rahasia, padahal bisa jadi dia menerima loh."

"Sebagai laki-laki Di.. sebaiknya kita berani. Laki-laki sejati tidak takut ditolak. Hanya laki-laki penakut yang tak pernah berusaha mewujudkan hasrat hatinya."

"Banyak contoh orang ditolak."

"Siapa misalnya?" tanyaku penasaran.

"Ya saya. sudah tiga kali ditolak hehehe" Wahyu tertawa.

Aku jadi tersenyum sendiri mengingat tawa ceria teman satu kontrakanku itu. Rasa sesak dalam dadaku sedikit berkurang.

"Mungkin terlalu tinggi kali yu, sampe ditolak 3 kali." kataku polos.

"Mungkin Di. tapi untuk yang terakhir, sebelum aku melamarnya, aku sudah bertanya pada tiga orang temanku, apakah standar atau tidak dia denganku. Dan sama seperti perasaanku, mereka juga bilang aku cukup se-level dengannya."

"Lalu?" tanyaku.

"Ya, begitulah Di.. perempuan juga punya hak untuk tidak menerima. Seperti kita yang juga punya hak untuk memilih."

"iya. Bener juga ya yu."

"Tapi kuharap tidak banyak yang demikian Di. aku melihat beberapa orang laki-laki yang setelah gagal dalam proses membina rumah tangga, entah ditolak atau orangtuanya tidak setuju, tapi sikap mereka menjadi berbeda sama sekali."

"Ada yang jadi sensitif, sedikit kasar, banyak juga yang tidak lagi produktif, lebih banyak murung, ya jadi beda lah. makanya aku berharap banyak pada perempuan, sedikit nrimo."

Kukeluarkan ponselku, kubalas sms Sofi, mengatakan aku baik-baik saja dan mencoba untuk bersikap sama dengan kemarin, tetap menjadi teman. Aku juga mengabarkan padanya aku dalam perjalanan pulang ke kampung halaman.

Sang rembulan cepat berlalu mengusir malam, dan mentari kembali menggeser gulita, bertahta di singgasananya, menciptakan pagi yang benderang. Pukul tujuh aku sampai di depan rumah.

Ibu menyambut kepulanganku dengan segelas teh manis hangat. Teh tubruk pekat khas buatan ibu. Semua kegundahan dan rasa sedihku telah kubuang jauh-jauh. Kupasang muka ceria demi sang ibu tercinta. Bunda yang akan selalu kuberikan kehangatan yang kupunya.

"Loh kok mukanya dilipet begitu?" tanya ibu. Ternyata ibu masih bisa membaca perasaanku, betapapun telah kupaksa bersikap ceria didepannya. Ah ibu, bundaku yang selalu menyayangiku. Aku menyandarkan kepalaku di pangkuannya. Ibu membelai lembut rambutku. Sebagai anak terakhir, aku memang sering dibilang paling manja. Tapi biarlah, dari dulu memang begitu.

Air mataku meleleh membasahi pakaian ibuku. Meskipun manja, biasanya aku tak pernah menangis. Saat ini, kubiarkan saja air mata itu jatuh. Kubiarkan saja. Kurasakan belaian bundaku begitu hangat.

"Loh loh loh. kenapa? Kok malah nangis?"

judul cerpen: sketsa rembulan jingga
FLP 2005; oleh : Wahyu Yuliadi

Senin, 24 Maret 2008

D0'a C1nT@....

hari ini aku jadi teringat tentang bahasan liqo'at kemaren sore...boleh ku ceritakan ya...menurutku, ini bahasan yang seru banget....
"bi... ada seorang lelaki yang datang kepadaku... dia menanyakan apakah aku mau menjadi pendampingnya...tapi bi... beliau belum mengaji..."curhat seorang temen akhwat, saat liqo' kemaren sore.
"memangnya, kamu suka dengan dia?" tanya abi balik.
si akhwat hanya tersenyum-senyum saja. ia tampak malu ingin menjawab pertanyaan abi saat itu. mungkin masih 50:50...namun, abi paham dengan gelagatnya.
"ya...kalau dia belum mengaji...maka ajaklah dia agar bisa ikut mengaji terlebih dahulu. bukankah kita ingin mendapat pasangan yang dengannya, kita semakin dekat kepada Allah??"jalas abi perlahan.
"jika dia memang serius padamu dan ikhlas karena Allah...insyaAllah, dia akan bersedia. bukankah para lelaki itu adalah pemimpin bagi isteriya? jika dia tak memiliki ilmu yang baik terhadap Allah dan Islam, lalu ke jalan mana kira-kira ia membimbingmu dan anak-anakmu?"lanjut abi, masih dengan nada suaranya yang lembut.
"ingat firman Allah: sesungguhnya lelaki yang baik itu adalah untuk wanita yang baik-baik. dan sebaliknya, wanita yang baik-baik adalah untuk lelaki yang baik pula. jadi tak perlu ragu...." abi meneruskan nasihatnya. kami yang hadir, turut pula serius mendengarkan nasihat abi. ustadz liqo'at kami. dan memang begitulah kami menyapa beliau, sudah seperti ayah kedua setelah ayah kandung...
"bismillah...bicaralah dengannya secara baik-baik. kalau perlu, mintalah ia untuk menghadap abi, ya..."nasihat abi menutup bahasannya. sudah waktunya ashar, liqo' pun di rehat....
maka dalam sholat ashar itu, dalam hati terpanjat do'a....

Senin, 17 Maret 2008

"C3rMiN Dir1"


karya: Abdullah Gymnastiar

tatkala kudatangi sebuah cermin

tampak sesosok wajah yang telah kukenal

dan sangat sering kulihat,

namun aneh sesungguhnya aku belum mengenal siapa yang kulihat

tatkala kutatap wajah…hatiku bertanya

apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya…bersinar di surga sana

ataukah wajah ini yang akan hangus legam di neraka Jahannam

tatkala ku tatap mata…nanar hatiku bertanya

mata inikah yang akan menatap penuh kelezatan dan kerinduan

menatap Allah…menatap Rasulullah…menatap kekasih-kekasih Allah kelak

ataukah mata ini yang akan terbeliak…melotot…

menganga…raih menatap neraka Jahannam

akankah mata penuh maksiat ini akan menyelamatkan

wahai mata…apa gerangan yang kau tatap selama ini

tatkala ku tatap mulut

apakah mulut ini yang akan mendesah penuh kerinduan

mengucap Laa Ilaaha Illallaah… saat sakaratul maut menjemput

ataukah menjadi mulut menganga dengan lidah menjulur

dengan lengking jeritan pilu

yang akan mencopot sendi-sendi pendengar

ataukah mulut ini menjadi pemakan buah jakun Jahannam

yang getir penghangus…penghancur setiap usus

apakah gerangan yang engkau ucapkan wahai…mulut yang malang

berapa banyak dusta yang kau ucapkan

berapa banyak hati yang remuk

dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam

berapa banyak kata-kata manis semanis madu

yang palsu yang kau ucapkan untuk menipu

betapa jarang kau jujur

betapa langkanya engkau syahdu memohon agar Tuhan mengampunimu

tatkala ku tatap tubuhku

apakah tubuh ini kelak yang akan penuh cahaya

bersinar…bersuka cita…bercengkrama di syurga

atau tubuh yang akan tercabik-cabik

hancur…mendidih di dalam lahar membara…terpasung tanpa ampun

derita yang tak pernah berakhir

wahai tubuh…berapa maksiat yang engkau lakukan

berapa banyak orang-orang yang kau dzalimi dengan tubuhmu

berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah

yang kau tindas dengan kekuatanmu

berapa banyak peri pertolongan yang kau acuhkan padahal engkau mampu…

berapa banyak hak-hak yang kau rampas wahai…tubuh

seperti apa gerangan isi hatimu

apakah isi hatimu sebgaus kata-katamu

atau sekotor daki-daki yang melekat ditubuhmu

apakah hatimu segagah ototmu

atau selemah daun-daun yang mudah rontok

apakah hatimu seindah penampilanmu

atau sebusuk kotoran-kotoranmu

betapa beda…betapa beda

apa yang tampak di cermin dengan apa yang tersembunyi

aku…aku telah tertipu…aku tertipu oleh topeng

betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng

hanyalah topeng belaka

betapa yang pujian terhambur hanyalah memuji topeng

betapa yang indah hanyalah topeng

sedangkan aku…hanya seonggok sampah busuk yang terbungkus

aku tertipu…aku malu ya Allah…aku malu

Allah…selamatkan aku ya Allah

Allah…selamatkan aku…selamatkan aku

Aamin yaa Robbal ‘alamin

#Samarinda, 15 Maret ’08 (10.36 am)

Khansa Asy-syifa

Muhasabah 21 tahun…

Semoga Allah SWT senentiasa memberkahi dan menyelamatkan

Aamin…

Senin, 10 Maret 2008



Maka gemuruhlah Makkah dan Madinah

Oleh lantunan takbir dan talbiyah,

Ketika sunyi membungkam Roma dan Konstantinopel

Dalam kekakuan dogma.

Maka hangatlah diskusi-diskusi di Bashrah dan Kufah,

Saat Genoa dan Venesia di hantui inkuisisi.

Maka bersinarlah perpustakaan Kairo,

Ketika para dukun komat-kamit di kegelapan Lissabon.

Maka gemerlaplah Baghdad oleh lantunan ayat di semarak malam,

Ketika Paris gulita sejak senja dalam takhayul dan mitos.

Maka gemericiklah air mancur Damaskus dalam kesucian thaharah.

Ketika para ‘bangsawan’ di London

Menganggap mandi adalah aktivitas berbahaya.

Maka berdengunglah ayat-ayat Allah menjelang buka puasa

Dengan sajian kurma, yoghurt, serta buah segar

Di balkon-balkon pualam Cordoba dan Granada,

Saat Kathedral di Wina dan Bern menutup makan malam

Dengan pudding darah babi.

(disadur dari buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim karya Salim A. Fillah)

Rabu, 05 Maret 2008

LaHirKaN 63neRa5! RaBbaN1


“assalamualaikum.....

cuma mo ngasih tau , ukhti ayu udah melahirkan dengan selamat hari sabtu , jam 01:30, anaknya laki-laki(kaya' gagah seperti bapaknya). bayinya udah di kasih nama, namanya ABDULLAH KHAIRUL AZZAM, saya sempat kaget dengar nama itu, bagus banget, trus juga itu kan nama tokoh utama dalam novelnya "ketika cinta bertasbih 1&2" karangan Habiburrahman Elsirazy. saya senang banget arsyad kasih nama itu, biar nanti dia saya panggil azzam. haa... ha..ha.. saya senang banget hari vyn...”.

Wa….saya pun senangnya tak kepalang, menyambut kabar kelahiran si adik bayi dari email yang dikirim temen baik saya itu. Setelah hamper 2 pekan lalu, keluarga besar yayasan pengajian kami kehilangan seorang generasi mujahid mudanya. Kini Allah SWT mendatangkan ganti sang calon mujahid kecil. Memang adik kecil yang berpulang itu, tentulah takkan tergantikan. Dia satu-satunya. Namun maksudnya, Allah kembalikan seorang mujahid kecil kembali padaNya, dan kini Allah pun akan bersegera mendatangkan kepada kami 1000 calon mujahid kecil lainnya. Allahu Akbar… pasalnya, memang beberapa ummahat dalam waktu yang nyaris berdekatan akan segera melahirkan. Aku jadi teringat tentang janji Allah SWT akan suatu generasi Rabbani. namun sebelum kita bahas itu, boleh saya ajak antum sekalian untuk memaknai kelahiran dulu ya…seperti dalam ayat berikut:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging,

dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang,

lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.

Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.

Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”

(QS. 23: 13-14)

Maha benar Allah dengan segala firmanNya…

Jika kita mau memaknai arti diri kita sendiri, ternyata dari surah tersebut diatas noh… kita ga da apa-apanya ya… bahkan di akui atau di ingkari, kita tuh hanya seonggok tanah yang di bentuk sedemikian rupa oleh Allah Rabb sang Pencipta. Bahkan nih ya…asal muasal kejadian kita tuh ternyata dari saripati tanah yang kemudian di jadikan air mani. Allahu Akbar…segitu kerdilnya kita ternyata.

Tapi…mbo ya ko muaasssiiihhh….buuaaannnyyyaakkk bener manusia-manusia yang menyombongkan dirinya di dunia ini. Tak ayal dan tak sedikit manusia yang men”dewa”kan dirinya. Misalnya nih ya… ketika seseorang meraih sukses dalam hidupnya (sukses duniawi nih umumnya), dengan PD yang teramat sangat orang tersebut malah merasa bahwa semua kesuksesan (duniawi) itu adalah hasil jerih payahnya sendiri aja tuh, bahkan yang lebih ngerriiii lagi apabila di kala susah Allah SWT mengujinya dengan menahan sejenak hajatnya akan kemajuan atau kesuksesannya itu, sehingga ia merasa Allah itu ga adil n bahkan ga ada. Kemudian saat jayanya tiba, ia lantas berasumsi kalo semua itu tanpa campur tangan Allah SWT…hiii…na’udzubillah ya…

Padahal jika kita mengetahui asal muasal kita tuh ya… rasanya ya muana puantes makhluk selemah kita ini mo menyombongkan diri di bumi Allah, lha wong tinggal di bumi aja numpang ya tho??bahkan yang paling bikin ga pantes tuh, tiap desah nafas kita aja masih ngarep dari Allah, bener kan??...dan adalah Allah Maha Kuasa untuk melengserkan kita dari muka bumiNya dengan sangat mudahnya. Seperti firman Allah SWT berikut: Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS.5: 54)

Dari ayat ini, jelas banget lo Allah SWT akan dengan mudahnya menggantikan kita-kita yang ingkar, sombong, bahkan berpaling dari pembelaan terhadap Islam dan penegakan syari’atNya atau kembali kepada kebathilan setelah mendapat kebenaran, yang merupakan makna lain dari kata murtad. Dengan generasi Rabbani, yakni generasi yang Allah SWT mencintai mereka dan merekapun begitu cintanya kepada Allah SWT.

Sok atuh…. kita mulai kerdilkan kesombongan kita terhadap apa-apa yang Allah berikan kepada kita di dunia ini, bahkan kesombongan kita terhadap Allah SWT itu sendiri, dan secara tegasnya “yuk..jangan sampai kita termasuk golongan ashabul murtadin. Teruss…kita mulai deh mebangun dan membentuk diri menjadi generasi Rabbani yang kriterianya sebagai berikut (QS. 5: 54):

1. mereka itu bersikap lemah lembut dan rendah hati pada orang-orang mukmin (… yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin…). Yang mana orang-orang mukmin itu adalah mereka yang menjadikan Allah SWT, rosulNya dan orang-orang yang beriman sebagai penolong bagi mereka (liat lagi QS. 5: 55 ya..)

2. bersikap keras terhadap kaum kuffar (…yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir..). Artinya, mereka itu tegas terhadap mereka. Kata keras disini, jangan lantas di maknai dengan bersikap kasar ya… beda lho… keras ma kasar tuh…kaji juga nih maknanya dari kamus- kamus kebahasaan. Ya…

3. yang mereka itu berjihad di jalan Allah (…yang berjihad dijalan Allah…). Ada banyak ragam jihad lho ternyata, ga cuman sebatas turut berperang ke Palestina aja (tapi itu juga tetep salah satunya kok). Nilai jihad lain seperti: saat antum hendak pergi ngaji misalnya, trus terjadi suatu musibah yang menimpa antum di pertengahan jalan, maka niat hati n perjalanan antum yang tertahan itu juga dah dapet nilai jihad lho… Subhanallah ya… tentang jihad, bisa antum kaji lebih lanjut di beberapa referensi lain. Saya belum pantas membahas lebih banyak.

4. mereka itu tidak takut akan celaan dari orang-orang yang gemar mencela (… dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela…). Yang ini contoh paling kecilnya, saat antum (dari pihak ikhwan) di ledekin tuh ma temen-temen sebagai seorang yang kekurangan kain atau kebanjiran di tiap musim, coz mereka melihat celana antum yang cingkrang. Atau dibilang kayak (maaf) kambing, karena jenggot antum yang menawan (cieeyy…apaan nieh??) atau kalo di akhwat, biasanya orang-orang suka ngeledekin tuh… “eh..ada gulungan kain mo lewat” saat anti mengenakan jilbab besar nan lebar n jubah tergerai menutup kaki. Atau “awas..ninja mendekat tuh…kabuurrr….” ketika anti mengenakan cadar misalnya. Maka kamu harus pandai-pandai menyikapi mereka. Setidaknya maklumilah, karena celaan mereka tuh bukti nyata bahwa mereka belum punya ilmunya…

Demikian lah kriterianya para generasi Rabbani, susah-susah gampang. Walau biasanya banyakan susahnya, tapi Allah punya imbalan lho…buat kita-kita yang senantiasa berusaha menjelmakan criteria tersebut pada diri kita. Apaan ya…??? Yakni berupa karunia terbesar yang Allah SWT berikan kepada kita, berupa KEMENANGAN. Firman Allah SWT :

“Dan barangsiapa mengambil Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS. 5: 56)

dan firmanNya dalam ayat lainnya:

“ Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang Kuat (banyak). Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (QS. 48:1-4)

Subhanallah…begitu banyaknya ya imbalan yang Allah SWT janjikan untuk kita. Ga tanggung-tanggung....apalagi pada janji Allah SWT di surah 48: 1-4 itu, siapa hamba yang ga ngiler coba. Itu kalo kamu mo masuk dalam barisan para generasi Rabbani tadi. Ya..kan..ya..dong…benerkan…bener dong… dan yang bikin tambah ngeh nih ya…janji Allah itu pan selalu bener. Ga ada bo’ongannya deh.. Pasti gitu lho…

Trusss…siapa nih yang pada siap berlomba n berkompetisi tuk mampu mejadikan dirinya sebagai generasi Rabbani (antum kah??? )…sok atuh…basmalah n… let’s start….

#samarinda, 01 maret ’08. (08.21pm)

Khansa_asysyifa

Saat memaknai kelahiran para penerus generasi…

ABDULLAH KHAIRUL AZZAM (putra pasangan M. Arsyad &Ayu Astria)

NADA SAHLA SYAHIDAH (putri pasangan Riyan &Hema)

Barokallahu…