Selasa, 29 Januari 2008

saat harus dewasa

pernah dengar slogan "menjadi tua itu sudah pasti hukumnya, tapi menjadi dewasa adalah pilihan sifatnya..".

seseorang bisa menjadi tua tanpa harus menjadi dewasa. sebaliknya seseorang tidak selalu perlu berusia tua untuk menjadi dewasa. ya, menjadi dewasa memang sebuah pilihan. dan sama sekali bukan sesuatu yang pasti datang. kadang begitu mudah, semudah membaca buku dan menemukan kearifan di tiap lembarnya. bahkan ada yang lebih mudah, seperti bercermin pada setiap kejadian yg terjadi pada orang lain.

tapi tidak jarang, kiya harus menempuh jalan yang begitu berat untuk menjadi dewasa dan sadar. kita mesti melewati sungai fitnah yang deras. mesti membelah rimba cobaan dengan kerja dan sabar. bahkan kita harus penuh luka sebelum akhirnya memetik hikmah dan menjadi dewasa.

ada yang berhasil, tapi banyak pula yang gugur di tengah jalan.
mereka yang berhasil akan lebih arif sikapnya, lebih dalam kemampuannya dan lebih terbuka menerima segala sesuatu.

Kamis, 17 Januari 2008

CemBurU


“uuhh!!!...Bete…Bete…” Fath masih nampak gelisah hari ini. Susana belajar yang ramai di kelas pagi menjelang siang ini ternyata tak mampu membuatnya ‘sadar’.

Sejak bertemu di musholla pagi tadi, gadis cantik berjilbab ini selalu saja mengungkapkan kebosanannya. Yup!, ia akhir-akhir ini memang sedang asyik menikmati biusan dari seorang ikhwan yang mulai rajin menemaninya bercanda ria via ponsel. Ups!fath sedang terjaring jerat VMJ yang belum disadarinya. Lagi-lagi.. ikhwan dan akhwat korban ponsel…

“ukhti… masa’ malam kemaren ana sms dia, tapi ko ga di balaz-balaz sampe sekarang. Ana bete…bete…!!?”Fath berujar mengungkap isi hatinya pada Een dan Nini tadi pagi, tak lupa dengan raut ekspresi manyunnya.

“ya… mungkin bener-bener lagi sibuk” Een berujar.

“atau lagi ga punya pulsa! Kan pulsanya anti kuras tuuuhh!!” tambah Nini sambil rada meledek..he..he..

ya.. sebenarnya bukan maksud hati mendukung atau coba menghibur Fath yang terus-terusan bete saat tak dapat sms dari sang ikhwan. Tapi kali ini mereka hanya tak ingin kena getahnya.

Sejak sekitar sebulan ini Fath asyik ‘bermain’ bareng sang ikhwan, ia nyaris hanya bersama Een dan Nini di saat-saat seperti ini, bete karna ga dihubungin ato ga bias ngubungin sang ikhwan. Selebihnya??jangan Tanya lagi, seolah kehadiran dua sahabat ini tak lagi begitu menghibur hati Fath. Fenomena yang tak menyenangkan..

***

lain dua hari kemarin, lain pula Fath di hari ini. Sejak masuk kelas, ia tampak sibuk pencat-pencet hp dan tak jarang senyam-senyum sendiri. Tampak cerah ceria eeuuyy….

“duuhh!!yang senyumnya dah merekah hari ini…”Een yang baru dating bersama Nini langsung saja menggodanya..

“lancar nieh yee smsannya… doski dah punya pulsa ya...”Nini tak mau kalah menggoda Fath. Ya.. sebenarnya mereka lagi-lagi justru sedang menyindirnya.

Fath pun melemparkan nyengir kuda yang lebar sembari cipika-cipiki menyambut dua sahabatnya itu. Senyum yang sangat khas.

Tapi…gedubbraakk!! Dalam hati kedua sahabat ini sedang jatuh, sindiran itu ga nyentuh.. gaaawaattt…mereka pun saling menatap iba sambil merapikan tempat duduk masing-masing. Huuhh! Payah nieh..!!

Saat tiap-tiap pelajaran silih berganti hari ini, Een dan Nini masih tak luput memperhatikan tingkah Fath. Sepanjang pelajaran ia terkadang masih sibuk berkutat dengan ponsel birunya yang mungil itu.

tiba saat rehat, ketiganya keluar kelas dan berjalan menuju kantin. Een dan Nini sengaja memperlambat langkah hingga keduanya berjalan beberapa jarak dibelakang Fath yang masih saja melanjutkan cengar-cengir bareng ponselnya. Ya, mereka masih bersenda gurau ria.

“bagaimana ini, kita tak mungkin membiarkan kebathilan dihadapan mata kan??”Nini membuka perbincangan serius dengan nada suara yang dipelankan agar Fath tak mendengar mereka.

“yaa tentu saja tidak, terlebih fath kan saudara kita. Jika ia terjerumus namun terlena begitu, kitalah yang harus membantunya.kita harus bertindak fath tak boleh terus-terusan begitu.”

Yang membuat keduanya gusar adalah Fath merupakan pribadi yang terlalu sensitive. Ia terlalu mudah menangis, segala sesuatu terlalu cepat di masukkan ke ati. Seolah ia menganggap bahwa dirinya sedang dihakimi. Hal ini akan membuat luluh hati dan memunculkan perasaan bersalah yang teramat sangat pada dua sahabatnya.

“kita harus bicarakan ini, kita harus buat rapat. Kalau perlu kita adakan ‘sidang’. Yaa.. tentu saja ‘sidang’ tarbiyah”

“’sidang tarbiyah? apa maksudmu dangan itu?” Een tamapak kurang faham dengan istilah baru ini.

“ya.. kita adakan siding yang tak menghakimi, tapi disana kita munculkan lagi tarbiyah tentang hubungan ikhwan akhwat dalam Islam. Sebagaimana yang sudah kita dapat dari MR. jadi intinya bentuk siding kita memang hanya sharing tapi dengan bobot” jelas Nini.

“apa kita harus melibatkan MR dalam siding ini?”

“jangan dulu, cukup kita saja. Apabila setelahnya tak ada perubahan, baru kita bicarakan pada MR. OK?”

“Ok. kapan kita gelar sidangnya?” Een tampak semangat, ia begitu khawatir pada Fath.

“kita lihat sikon dulu. Bagaimana perkembangan Fath kedepan. Jika ia makin terlena, baru kita adakan rapat atau sidang. Sementara ini kita beri sindiran-sindiran saja dahulu” jelas Nini

“OK..OK…”jawab een singkat. Mereka harus menyudahi perbincangan ini. Fath sudah menunggu mereka di kursi depan bakso kantin.

***

“ukhti… sudah semingguan gini dia ga da sms ana ukh..!!HP ana jd ga bunyi-bunyi..” lagi-lagi.. Fath merengek mempersoalkan sms itu.

“padahalkan HP ana aktif terus, 24 jam lho.. tapi dia tetep aja gas sms atau apa kek!!” kusut wajahnya mulai muncul.

“kira-kira dia kenapa ya ukh?? Ana ada salah kah ma dia, kok dia ga sms ana lagi??” lanjut Fath kecemasan.

‘busyeettt… meneketehe… kan situ yang asyik sendiri ma doski. Emangnya gue tahu perkara elo..’gerutu Een dalam hati. Ia begitu gemez dengan saudaranya yang satu ini.

“kenapa ga coba silaturrahmi ma temen-temen yang lain aja? Kan kenalan anti banyak tuh!!” Een coba memunculkan realitas.

“sama siapa lagi?? Ana kan ga punya temen??” Fath beralasan.

‘Allahu Akbar!! Terus kita-kita ini apaan? Bukan temen loe orang ya… alamak… kacau…kacau…padahal sebelum sidia muncul tuh, loe kan mainnya ma kite-kite orang niee…’ lagi-lagi Een menggerutu dalam hati sambil pelotot-pelototan heran ke Nini.

“bukannya masih ada temen-temen akhwat, temen-temen sekolah dulu, keluarga atau siapa kek! Ko’ bisanya anti bilang ga punya temen, emangnya kita berdua bukan temen anti apa?” kali ini Nini berani nyindir terang-terangan. Dan Fath, ia hanya mampu terdiam. Tampaknya kali ini sindiran itu kennnaaa…

tapi perbincangan tak dapat diteruskan. Karna sudah saatnya masuk kelas.

Siang hari saat sekolah usai, een dan nini sengaja tidak ingin pulang. Hari ini mereka akan adakan ‘rapat’.

“kalian ko ga pulang sih? Ada acara ya? Acara apaan emangnya? Perginya barengan kah? Kemana memangnya? Ko ana ga diajak sieh?” kebiasaan. Fath langsung saja menyerbu dua sahabatnya itu dengan pertanyaan bertubi.

“iya, kami masih ada acara. Kebetulan bareng. N kenapa ga ngajak anti? Bukannya anti bilang tadi pagi lo sore ini anti ada acara di rumah?” Een menjelaskan.

“ya..iya sieh. He..he.. ana lupa. Ya udah deh, ana pulang duluan ya…Assalamu’alaikum!!”Fath pamit sambil diiring peluk dan cium dua sahabatnya.

“wa’alaikum salam.. hati-hati ya sayang!!” Een lagi romantis. Dan huff… ia lega, Fath kali ini tak banyak mengungkit kegiatan mereka. Keduanya lantas kembali masuk ke musholla sekolah dan rapat dimulai.

***

sesuai rencana hasil rapat, bahwa siding akan dilaksanakan tiga hari setelahnya. Dan benar saja, sikon saat itu tampak begitu tepat. Hari ini Fath tampak ceria. Suasana hatinya sedang bagus, begitu pula sikap yang dimunculkannya pada dua sahabatnya.

Fath tak lagi hanya mengeluh saat datang kepada mereka. Bahan perbincangan pun hingga pagi menjelang siang ini cukup ramai dan beragam. Tak hanya didominasi soal lucunya guyonan si dia, sms yang tak terbalas ataupun bahagianya saat malam-malam terlewat bersama sms-sms si dia. Tapi saat rehat waktu sholat…

“ukhtis-ukhtis…”sapa fath tiba- tiba. ‘Ukhtis’ apa maksud loe?? Een dan Nini keheranan mendengar istilah itu. Lantas keduanya tersenyum geli. Sok kebarat-baratan gitu. Pengennya menampilkan unsure English di dalamnya, namun tampak tak cocok. Uuhh!!ga banget dehh…

“tau ga tadi malam masa dia…” belum selesai fath berujar, Nini sudah angkat bicara.

“oya, ada undangan rapat hari ini setelah pulang sekolah di musholla sekolah kita. Jangan lupa hadir ya…wajib n kudu, lo anti tak dating, rapat ga akan dimulai” ujar Nini sembari terus berlalu meninggalkan temapt wudhu bareng Een menuju kedalam musholla dan meninggalkan fath seorang diri. Kebetulan saat itu mereka hanya bertiga disana.

Saat bel pulang berdentang, nini dan Een telah lebih dulu ngacir. Fath yang ditinggalkan pun sengaja memperlambat gerak. Ia masih ingin meregangkan otot-ototnya. Tubuhnya terasa pegal.

Fath mulai melangkahkan kaki menuju musholla. Sesampai disana, dua sahabatnya itu telah duduk rapi di salah satu sudut. “tafadhol…silahkan masuk dan bergabung ya..ukhti” Nini mempersilakan fath bergabung dengan mereka.

Namun fath justru tampak heran “ ko cuma kita aja?yang lain pada kemana? Emang kita mo rapat tim apa sieh? Untuk bentuk tim cheers ya? Siapa yang akan bina?”panjang pertanyaan fath dengan ditambah nada canda.

Suasana pun di buat santai mengikut alur yang dibawa fath, mereka mencoba mengalihkan sejenak untuk kemudian bicara serius. Hal ini agar Fath tak langsung ‘pingsan’ karna merasa ‘diserang’.

“sebelumnya maaf, karma rapat ini bukan rapat resmi. Ini memang hanya rapat kita-kita aja. Trus, maksud daripada rapat ini adalah…..” Een tak harus menjelaskan, itu tugas Nini. Sebagaimana hasil rapat mereka sebelumnya.

“tafadhol ukhti.. mungkin bias langsung saja” een mempersilahkan Nini angkat bicara.

“begini ukhti, ada hal yang ingin kami bicarakan pada anti. Ini tentang perubahan sikap anti. Tapi sebelumnya kami harap anti tak merasa terhakimi, karma kami pun tak bermaksud menghakimi anti.”

“kami ingin kita bicara soal hubungan anti dengan seorang ikhwan yang akhir-akhir ini kami rasa mulai mengkhawatirkan…” nini berhenti untuk mengatur nafasnya. Ia tak kuasa menatap mata Fath. Ia tahu mungkin Fath akan sangat terkejut tentang ini.

Suasana pojok ruang musholla yang lengang itu hening. Ketiganya masih dalam diam. Sementara Fath, ia masih heran dan penuh tanda Tanya ‘sebenarnya apa yang ingin dibicarakan kedua sahabatnya ini’. Fath belum connect, ia masih menganggap wajar hubungan antara dirinya dan ikhwan X tersebut.

“begini ukhti. Kegelisahan dan berontak sebenarnya menggebu dalam hati kami saat kami melihat perubahan sikap anti. Saat pancaran kebahagiaan justru tampak di wajah ukhti saat dia dengan rajinnya melayani anti. Jujur kami cemburu, tapi kami bukan cemburu karma hanya anti saja yang begitu asyik bercanda ria dengan dia. Bukan..”

“tapi kami cemburu karma keceriaan itu bukan lagi dari dan untuk kami. Karma hingga akhirnya anti seolah hanya mengharapkan dia. Bahkan yang paling membuat cemburu adalah saat anti tak lagi menganggap kami saudari bahkan sekedar teman pun tidak…”een mulai tak kuasa, setumpuk air mata yang ditahannya mulai ingin gugur meluap.

“Fath… kami tak ingin anti terjerumus. Hubungan yang terjalin antara kalian itu sudah tidak begitu wajar. Apa yang kalian perbincangkan malah jauh dari suatu hal penting. Itu hanya perkara yang dipenting-pentingkan saja. Lelucon-lelucon yang anti anggap hiburan itu sudah berlebihan…” Nini kembali diam.

“anti tentu ingat nasehat Rosulullah terindu ‘dan janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang perempuan tanpa ada mahromnya, karna yang ketiganya adalah syaithan’ . dan kita juga pernah dapat materi dari MR tentang HTS kan? Belum lagi contoh-contoh kisah yang MR sajikan pada kita.”

“kami hanya tak ingin anti begitu, kami tak ingin anti terpaling setelah dapat pengetahuan kebenaran…”

suasana semakn mengharu biru, dua sahabat itu membiarkan keadaan lengang. Fath kini sedang hanyut dalam muhasabahnya.

Mereka membiarkannya menyelami lautan hatinya. Mereka sengaja membiarkan Fath mengoreksi dirinya sendiri. Dan…selang beberapa saat, Fath serta merta melemparkan peluk pada dua saudarinya…

Khansa_asysyifa

#samarinda, Desember’07

diambil dari kisah ukhti cantik.

Jazakillah kisanya dahh boleh diangkat

Rabu, 16 Januari 2008

d3klar4s1

Nanda masih tampak kesal mengingat ulah Aal. Sahabat Nanda yang kini di kelas 3 tak lagi sekelas dengannya. Kali ini Nanda merasa terjebak. Aal ternyata tak jadi menjalankan misi yang dicetuskannya.

“ Gimana?? Tadi malam jadi ngerjain Ahmad tidak??”Tanya Nanda.

“Ah… engga’, aku ga berani. Kami kan temen sekelas, ntar ketahuan sama dia”

“ Kamu sendiri gimana? Jadi ngubungin Fahri ya?” Tanya Aal, (gadis berjilbab gaul lagi lincah ini) dengan nada gontainya.

Gedubraakk (jatuh ala Boboho cs)…!!! “Iiihh… tau kamu ga jadi ngubungin Ahmad, aku juga engga deh! Tapi masalahnya, tadi malam aku sudah ngubungin Fahri, pake acara salah sambung gitu. Truz ya…. kenalan deh!!” ungkap Nanda ketus sambil tak lupa nyubitin Aal.

Begitulah kira-kira selintas obrolan Nanda dan Aal tadi siang yang membuat hati Nanda gondok. Februari yang menegangkan fikir Nanda. Nanda kini jadi keki sendiri tak kepalang, bayangkan saja gimana jadinya saat “kerjaan” ini terbongkar. Gadis yang selama ini terkenal pendiam di kelasnya ternyata begitu berani ngerjain ikhwan. Buussyyyeeettt…. Apa kata dunia???

Ya.. sekitar dua hari lalu tiba-tiba saja Aal mencetuskan ide untuk mencoba ngerjain sepasang ikhwan dari jurusan mereka. Kebetulan dua ikhwan itu adalah teman sekelas Aal. Rencananya, mereka hanya ingin mengetahui respon para ikhwan tersebut saat seorang gadis (rada genit n sok gaul gitu deeh..) mencoba dekat dengan sang ikhwan. Tapi kegiatan ini menurut prediksi hanya akan di jalankan dengan perantara ponsel.

Seminggu berlalu, ujian akhir semester pun semakin dekat. Dan hubungan Nanda dengan Fahri (ikhwan yang paling terkenal pemalu itu) ternyata masih berlanjut. Fahri cukup terbuka dengannya. Memang ada kebingungan yang kadang terangkat dari Fahri dalam perbincangan mereka via ponsel itu. Fahri cukup rajin menyelidiki seorang Nanda yang menyamarkan identitasnya dengan nama “Nindi”. Asli, dia seperti detektif saja.

“tinggalnya dimana?, sekolahnya?, ambil jurusan apa?n tau nomer hp ku dari siapa?”

Begitulah sederet bunyi sms Fahri saat ia mencoba mengenal Nindi. Belum lagi ternyata Fahri terkadang berani menelponnya. Ya… dari sini ia semakin gencar menyelidik.

“suaramu ko mirip banget sama seorang temen saya” tulis Fahri di salah satu sms yang dikirimnya beberapa hari lalu. Glekk!! Nanda terpaku, hatinya dag-dig-dug tidak menentu. Apa harus secepat ini Fahri membongkar siapa “Nindi” sebenarnya?? Ga mungkiinn… pikir Nanda cemas. Padahal sms itu hanya salah satu trik Fahri untuk memancing Nanda agar ia jujur padanya. Tapi sementara ini tampaknya Nanda tak mau kalah. Ia pun menyebarkan alasan-alasan lain untuk dapat menghindar.

***

masa perang dalam ujian akhir kelulusan sudah berlalu, ijazah beserta formulir pendaftaran kuliah pun telah di layangkan ke lembaga terkait beberapa bulan lalu dan kini… predikat baru pun tersandang, Nanda telah menjadi seorang mahasiswi..duilee senengnya tak kepalang, mahasiswi nieehh…

selama hampir 7 bulan itu pula hubungan Nanda dan Fahri masih berlanjut. Tapi bahasan mereka kini beralih 1800, ya.. mereka banyak bicara tentang Islam. Sejak sebelum kelulusan, Nanda memanfaatkan kesempatan untuk belajar Islam (tarbiyah dalam bahasa lingkungan aktifis) pada Fahri. Karna memang sebenarnya Nanda begitu tertarik dengan tata kehidupan dan pergaulan Islam yang sedikit banyak diaplikasikan oleh temen-temen di rohis dulu. Namun Nanda tak dapat bergabung bersama mereka saat itu. Tentu Nanda punya alasan. Tapi Nanda tau, tak ada kata terlambat dalam tarbiyah.

“ trus gmn rspon tmen2 u ttg hal in?” Tanya Nanda saat ia meminta Fahri untuk mengajarkan Islam padanya.

“ ya…sy sdh bcrakan dg tmen2. memg d phak akhwat mnentang sy, mrka tak spkat jk sy yg ngjarin Nindi. Tp dr tmen2 ikhwn jstru dkung sy. Jd sy ttp ptuskn untk bntu Nindi hgga sy anggp Nindi mmpu bljar sndri ato ad org yg bs d prcya untk bntu Nindi..” tulis Fahri dalam smsnya sekitar bulan Juni lalu. Ya..Fahri tampak sudah sedkit banyak tau tebtang Nanda.

Membaca itu Nanda pun merasa begitu tersanjung, keputusan besar itu… ya Allah.. Barokahilah jalan tarbiyah ini..

Sms demi sms terus dating dan pergi silih berganti, konsultasi, materi tarbiyah singkat, hingga masukan-masukan pembangkit ghiroh pun hilir mudik mengisi kotak masuk sms di ponsel Nanda. Dalam beberpa bulan memang tak setiap hari Nanda bias tarbiyah, tapi cukuplah membuat boros pulsa keduanya. Terutama Fahri, sms yg dikirimnya harus lebih panjang hngga 4 halaman lyar ponsel atau lebih. Itu karna ia harus selalu menjelaskan, menjelaskan dan menjelaskan..

***

tak terasa sudah sampai di akhir desember, kini semakin bertambah pula ilmu yang didapat Nanda. Penyamarannya pun ternyata sudah terbongkar sekitar Oktober lalu. Tapi Fahri tetaplah Fahri, ia seolah tetap merasa bertanggung jawab untuk membantu Nanda. Namun demikian, kini Nanda pun mulai mencoba mengaktifkan diri. Mulai lagi dengan banyak baca buku-buku Islami, ta’aruf (kenalan) ma akhwat-akhwat hingga ikutan ngaji pun dilakoninya.

Walau demikian Nanda msih belum lepas dari Fahri, hal-hal yang dialaminya di ‘perjalanan baru’ itu sering dikisahkan dan didiskusikannya pula ke Fahri. Ohya, Nanda juga dah punya sobit akhwat lho…namanya Nuri.gadis mungil cantik dengan jilbab besarnya itu ternyata adalah kawan seperjuangan Fahri saat sama-sama di rohis sekolah dulu. Karna itulah mereka mudah dekat,walaupun Nanda tak pernah kenal Nuri sebelumnya. Mereka terkadang memang saling bercerita tentang Fahri.

“ukhti, tolong kasih kritikan pada ana. Tolong kritik soal tarbiyah ana ma akh Fachri” tiba-tiba saja Nanda ingin tahu penilaian Nuri tentang hal ini.

“menurut ana keliatannya kalian tuh dah saling terbiasa, kesannya deket and akrab banget gitu…” sahut Nuri dengan serta merta. Dan…gleekk!! hati Nanda tertohok. Apa maksudnya ini? “deket” seperti apa yang dimaksud Nuri? Fikir Nanda penuh tanda tanya. Sayangnya setelah saat itu, ia tak pernah bisa meminta penjelasan lebih lanjut. Nuri hanya pernah berkata “ya.. deket”.

Tak dapat penjelasan membuat Nanda larut dalam kesimpulannya sendiri. Apa mungkin Nuri mo bilang lo hubungan kami dah kelewat batas?? Ya Allah… seperti itukah mungkin pandangan orang-orang tentang hubungan ini? Tak tersadar, Nanda larut dalam tangis. Ia merasa iba dan malu terhadap dirinya sendiri. Sungguh seolah Nanda berada dalam suasana akhir desember yang kelabu.

***

seperti di malam-malam akhir tahun sebelumnya, malam ini kembali akan ada pesta di lingkungan Rt sekitar rumah tinggal Nanda. Sejak sore, para om-om panitia sudah sibuk membuat panggung. Kembali dendang pesta dangdut tampaknya akan digelar lagi dn lagi. Bener-bener ‘Dangdut is the music of my country…my country… ooo my country..’.

pesta yang dimulai sejak ba’da Isya’ itu semakin larut terdengar semakin marak. Seolah begitu gegap gempita dengan lampu-lampu ala diskotik yang terus benderang dengan nyala cahaya yang bercorak. Sementara Nanda, ia sedang larut dalam ruang kamarnya di lantai 2. ia masih mencoba mengungkap apa maksud perkataan Nuri 3 hari lalu. Ia gigih ingin terus mengungkap apa yang Allah inginkan dari peristiwa ini? Dan apa yang Allah rencanakan untuk Nanda kedepannya?. Meskipun tetap dengan berlinang air mata, dan sepintas terfikir ‘Rabb…apakah ini waktunya? Apakah ini masa yang paling tepat itu? Ya Allah… ampuni Nanda, Nanda memang belum pernah mencoba berusaha sendiri untuk ini, Nanda khilaf ya Robb.. hingga Engkau pilihkan jalan seperti ini untuk Nanda. Allah….Nanda terlena..’ ungkap hati Nanda yang terus berbaik sangka kepada Allah.

Kini Nanda tak lagi terpaku. Ia mulai bergerak, hp digenggamnya dan mulai menekan tombol-tombol di benda mungil itu. Nanda sedang mengetik sms. Ya… ia menulis sms deklarasi itu.

“Assalamu’alaikum akhi… jazakallah khoiran selama ini sudah banyak mambantu Nanda. Dan masalah tentang ungkapan akhwat kemarin itu…” ya, saat merasa terpuruk di hari Nuri mengungkap argumennya, Nanda menceritakan itu pada Fahri.

“akh.. mungkin ini saatnya Nanda berlepas dari antum. Mungkin ini saatnya Nanda mencoba tarbiyah secara mandiri, bersama akhwat-akhwat tentunya. Dan afwan jiddan harus melibatkan antum dalam masalah ini, juga masalah-masalah dahulu itu. Afwan harus dengan jalan seperti ini.” Dan tak berapa lama sms itupun terkirim. Seiring dengan semakin meriahnya suasana diluar sana saat mercon dan kembang api menghias langit sebagai tanda telah masuknya 1 Januari.

Kini Nanda mengalihkan perhatiannya pada buku diary mungilnya. Nanda pun bercerita tentang deklarasi tahun baru ini. Di akhir tulisannya Nanda merangkai kata:

Untukmu..

Murobbi yang tiada pengganti

Kawan yang senantiasa memahami dan terus mencoba mengerti

Umpama seorang kakak yang ingin selalu menjagaku

dalam berpegang pada tali Allah tercinta…

jazaakumullah khoiran katsiiran…

atas keputusan besar untuk tetap mengajarkan Islam

atas perjuangan menemani perjalanan Hijrah

atas kedewasaan yang kau contohkan untuk mendewasakanku

dan atas setiap perubahan dan keistiqomahan

yang terus antum ingatkan dengan pembangkit ghiroh, do’a serta tentang janji-janji Allah…

juga atas semua pengorbanan pulsa, waktu, tenaga, fikiran,

dan kekuatanmu dalam menjaga hatimu sendiri…

karna kini aku mengerti, aku bisa menjadi fitnah terbesar bagimu akhi…

jazaakumullah khoiran katsiiran…

atas semua yang telah antum lakukan di luar sepengetahuanku

apapun itu,

semoga Allah senantiasa merahmatimu ya…akhi..

membarokahi setiap perjuanganmu…

wahai…mujahid muda yang pemberani dalam sifat pemalu itu..

#samarinda, Desember ‘07

saat di tuntut membuat cerpen dari Tim Buletin

Cerpen perdana