“uuhh!!!...Bete…Bete…” Fath masih nampak gelisah hari ini. Susana belajar yang ramai di kelas pagi menjelang siang ini ternyata tak mampu membuatnya ‘sadar’.
Sejak bertemu di musholla pagi tadi, gadis cantik berjilbab ini selalu saja mengungkapkan kebosanannya. Yup!, ia akhir-akhir ini memang sedang asyik menikmati biusan dari seorang ikhwan yang mulai rajin menemaninya bercanda ria via ponsel. Ups!fath sedang terjaring jerat VMJ yang belum disadarinya. Lagi-lagi.. ikhwan dan akhwat korban ponsel…
“ukhti… masa’ malam kemaren ana sms dia, tapi ko ga di balaz-balaz sampe sekarang. Ana bete…bete…!!?”Fath berujar mengungkap isi hatinya pada Een dan Nini tadi pagi, tak lupa dengan raut ekspresi manyunnya.
“ya… mungkin bener-bener lagi sibuk” Een berujar.
“atau lagi ga punya pulsa! Kan pulsanya anti kuras tuuuhh!!” tambah Nini sambil rada meledek..he..he..
ya.. sebenarnya bukan maksud hati mendukung atau coba menghibur Fath yang terus-terusan bete saat tak dapat sms dari sang ikhwan. Tapi kali ini mereka hanya tak ingin kena getahnya.
Sejak sekitar sebulan ini Fath asyik ‘bermain’ bareng sang ikhwan, ia nyaris hanya bersama Een dan Nini di saat-saat seperti ini, bete karna ga dihubungin ato ga bias ngubungin sang ikhwan. Selebihnya??jangan Tanya lagi, seolah kehadiran dua sahabat ini tak lagi begitu menghibur hati Fath. Fenomena yang tak menyenangkan..
***
lain dua hari kemarin, lain pula Fath di hari ini. Sejak masuk kelas, ia tampak sibuk pencat-pencet hp dan tak jarang senyam-senyum sendiri. Tampak cerah ceria eeuuyy….
“duuhh!!yang senyumnya dah merekah hari ini…”Een yang baru dating bersama Nini langsung saja menggodanya..
“lancar nieh yee smsannya… doski dah punya pulsa ya...”Nini tak mau kalah menggoda Fath. Ya.. sebenarnya mereka lagi-lagi justru sedang menyindirnya.
Fath pun melemparkan nyengir kuda yang lebar sembari cipika-cipiki menyambut dua sahabatnya itu. Senyum yang sangat khas.
Tapi…gedubbraakk!! Dalam hati kedua sahabat ini sedang jatuh, sindiran itu ga nyentuh.. gaaawaattt…mereka pun saling menatap iba sambil merapikan tempat duduk masing-masing. Huuhh! Payah nieh..!!
Saat tiap-tiap pelajaran silih berganti hari ini, Een dan Nini masih tak luput memperhatikan tingkah Fath. Sepanjang pelajaran ia terkadang masih sibuk berkutat dengan ponsel birunya yang mungil itu.
tiba saat rehat, ketiganya keluar kelas dan berjalan menuju kantin. Een dan Nini sengaja memperlambat langkah hingga keduanya berjalan beberapa jarak dibelakang Fath yang masih saja melanjutkan cengar-cengir bareng ponselnya. Ya, mereka masih bersenda gurau ria.
“bagaimana ini, kita tak mungkin membiarkan kebathilan dihadapan mata kan??”Nini membuka perbincangan serius dengan nada suara yang dipelankan agar Fath tak mendengar mereka.
“yaa tentu saja tidak, terlebih fath kan saudara kita. Jika ia terjerumus namun terlena begitu, kitalah yang harus membantunya.kita harus bertindak fath tak boleh terus-terusan begitu.”
Yang membuat keduanya gusar adalah Fath merupakan pribadi yang terlalu sensitive. Ia terlalu mudah menangis, segala sesuatu terlalu cepat di masukkan ke ati. Seolah ia menganggap bahwa dirinya sedang dihakimi. Hal ini akan membuat luluh hati dan memunculkan perasaan bersalah yang teramat sangat pada dua sahabatnya.
“kita harus bicarakan ini, kita harus buat rapat. Kalau perlu kita adakan ‘sidang’. Yaa.. tentu saja ‘sidang’ tarbiyah”
“’sidang tarbiyah? apa maksudmu dangan itu?” Een tamapak kurang faham dengan istilah baru ini.
“ya.. kita adakan siding yang tak menghakimi, tapi disana kita munculkan lagi tarbiyah tentang hubungan ikhwan akhwat dalam Islam. Sebagaimana yang sudah kita dapat dari MR. jadi intinya bentuk siding kita memang hanya sharing tapi dengan bobot” jelas Nini.
“apa kita harus melibatkan MR dalam siding ini?”
“jangan dulu, cukup kita saja. Apabila setelahnya tak ada perubahan, baru kita bicarakan pada MR. OK?”
“Ok. kapan kita gelar sidangnya?” Een tampak semangat, ia begitu khawatir pada Fath.
“kita lihat sikon dulu. Bagaimana perkembangan Fath kedepan. Jika ia makin terlena, baru kita adakan rapat atau sidang. Sementara ini kita beri sindiran-sindiran saja dahulu” jelas Nini
“OK..OK…”jawab een singkat. Mereka harus menyudahi perbincangan ini. Fath sudah menunggu mereka di kursi depan bakso kantin.
***
“ukhti… sudah semingguan gini dia ga da sms ana ukh..!!HP ana jd ga bunyi-bunyi..” lagi-lagi.. Fath merengek mempersoalkan sms itu.
“padahalkan HP ana aktif terus, 24 jam lho.. tapi dia tetep aja gas sms atau apa kek!!” kusut wajahnya mulai muncul.
“kira-kira dia kenapa ya ukh?? Ana ada salah kah ma dia, kok dia ga sms ana lagi??” lanjut Fath kecemasan.
‘busyeettt… meneketehe… kan situ yang asyik sendiri ma doski. Emangnya gue tahu perkara elo..’gerutu Een dalam hati. Ia begitu gemez dengan saudaranya yang satu ini.
“kenapa ga coba silaturrahmi ma temen-temen yang lain aja? Kan kenalan anti banyak tuh!!” Een coba memunculkan realitas.
“sama siapa lagi?? Ana kan ga punya temen??” Fath beralasan.
‘Allahu Akbar!! Terus kita-kita ini apaan? Bukan temen loe orang ya… alamak… kacau…kacau…padahal sebelum sidia muncul tuh, loe kan mainnya ma kite-kite orang niee…’ lagi-lagi Een menggerutu dalam hati sambil pelotot-pelototan heran ke Nini.
“bukannya masih ada temen-temen akhwat, temen-temen sekolah dulu, keluarga atau siapa kek! Ko’ bisanya anti bilang ga punya temen, emangnya kita berdua bukan temen anti apa?” kali ini Nini berani nyindir terang-terangan. Dan Fath, ia hanya mampu terdiam. Tampaknya kali ini sindiran itu kennnaaa…
tapi perbincangan tak dapat diteruskan. Karna sudah saatnya masuk kelas.
Siang hari saat sekolah usai, een dan nini sengaja tidak ingin pulang. Hari ini mereka akan adakan ‘rapat’.
“kalian ko ga pulang sih? Ada acara ya? Acara apaan emangnya? Perginya barengan kah? Kemana memangnya? Ko ana ga diajak sieh?” kebiasaan. Fath langsung saja menyerbu dua sahabatnya itu dengan pertanyaan bertubi.
“iya, kami masih ada acara. Kebetulan bareng. N kenapa ga ngajak anti? Bukannya anti bilang tadi pagi lo sore ini anti ada acara di rumah?” Een menjelaskan.
“ya..iya sieh. He..he.. ana lupa. Ya udah deh, ana pulang duluan ya…Assalamu’alaikum!!”Fath pamit sambil diiring peluk dan cium dua sahabatnya.
“wa’alaikum salam.. hati-hati ya sayang!!” Een lagi romantis. Dan huff… ia lega, Fath kali ini tak banyak mengungkit kegiatan mereka. Keduanya lantas kembali masuk ke musholla sekolah dan rapat dimulai.
***
sesuai rencana hasil rapat, bahwa siding akan dilaksanakan tiga hari setelahnya. Dan benar saja, sikon saat itu tampak begitu tepat. Hari ini Fath tampak ceria. Suasana hatinya sedang bagus, begitu pula sikap yang dimunculkannya pada dua sahabatnya.
Fath tak lagi hanya mengeluh saat datang kepada mereka. Bahan perbincangan pun hingga pagi menjelang siang ini cukup ramai dan beragam. Tak hanya didominasi soal lucunya guyonan si dia, sms yang tak terbalas ataupun bahagianya saat malam-malam terlewat bersama sms-sms si dia. Tapi saat rehat waktu sholat…
“ukhtis-ukhtis…”sapa fath tiba- tiba. ‘Ukhtis’ apa maksud loe?? Een dan Nini keheranan mendengar istilah itu. Lantas keduanya tersenyum geli. Sok kebarat-baratan gitu. Pengennya menampilkan unsure English di dalamnya, namun tampak tak cocok. Uuhh!!ga banget dehh…
“tau ga tadi malam masa dia…” belum selesai fath berujar, Nini sudah angkat bicara.
“oya, ada undangan rapat hari ini setelah pulang sekolah di musholla sekolah kita. Jangan lupa hadir ya…wajib n kudu, lo anti tak dating, rapat ga akan dimulai” ujar Nini sembari terus berlalu meninggalkan temapt wudhu bareng Een menuju kedalam musholla dan meninggalkan fath seorang diri. Kebetulan saat itu mereka hanya bertiga disana.
Saat bel pulang berdentang, nini dan Een telah lebih dulu ngacir. Fath yang ditinggalkan pun sengaja memperlambat gerak. Ia masih ingin meregangkan otot-ototnya. Tubuhnya terasa pegal.
Fath mulai melangkahkan kaki menuju musholla. Sesampai disana, dua sahabatnya itu telah duduk rapi di salah satu sudut. “tafadhol…silahkan masuk dan bergabung ya..ukhti” Nini mempersilakan fath bergabung dengan mereka.
Namun fath justru tampak heran “ ko cuma kita aja?yang lain pada kemana? Emang kita mo rapat tim apa sieh? Untuk bentuk tim cheers ya? Siapa yang akan bina?”panjang pertanyaan fath dengan ditambah nada canda.
Suasana pun di buat santai mengikut alur yang dibawa fath, mereka mencoba mengalihkan sejenak untuk kemudian bicara serius. Hal ini agar Fath tak langsung ‘pingsan’ karna merasa ‘diserang’.
“sebelumnya maaf, karma rapat ini bukan rapat resmi. Ini memang hanya rapat kita-kita aja. Trus, maksud daripada rapat ini adalah…..” Een tak harus menjelaskan, itu tugas Nini. Sebagaimana hasil rapat mereka sebelumnya.
“tafadhol ukhti.. mungkin bias langsung saja” een mempersilahkan Nini angkat bicara.
“begini ukhti, ada hal yang ingin kami bicarakan pada anti. Ini tentang perubahan sikap anti. Tapi sebelumnya kami harap anti tak merasa terhakimi, karma kami pun tak bermaksud menghakimi anti.”
“kami ingin kita bicara soal hubungan anti dengan seorang ikhwan yang akhir-akhir ini kami rasa mulai mengkhawatirkan…” nini berhenti untuk mengatur nafasnya. Ia tak kuasa menatap mata Fath. Ia tahu mungkin Fath akan sangat terkejut tentang ini.
Suasana pojok ruang musholla yang lengang itu hening. Ketiganya masih dalam diam. Sementara Fath, ia masih heran dan penuh tanda Tanya ‘sebenarnya apa yang ingin dibicarakan kedua sahabatnya ini’. Fath belum connect, ia masih menganggap wajar hubungan antara dirinya dan ikhwan X tersebut.
“begini ukhti. Kegelisahan dan berontak sebenarnya menggebu dalam hati kami saat kami melihat perubahan sikap anti. Saat pancaran kebahagiaan justru tampak di wajah ukhti saat dia dengan rajinnya melayani anti. Jujur kami cemburu, tapi kami bukan cemburu karma hanya anti saja yang begitu asyik bercanda ria dengan dia. Bukan..”
“tapi kami cemburu karma keceriaan itu bukan lagi dari dan untuk kami. Karma hingga akhirnya anti seolah hanya mengharapkan dia. Bahkan yang paling membuat cemburu adalah saat anti tak lagi menganggap kami saudari bahkan sekedar teman pun tidak…”een mulai tak kuasa, setumpuk air mata yang ditahannya mulai ingin gugur meluap.
“Fath… kami tak ingin anti terjerumus. Hubungan yang terjalin antara kalian itu sudah tidak begitu wajar. Apa yang kalian perbincangkan malah jauh dari suatu hal penting. Itu hanya perkara yang dipenting-pentingkan saja. Lelucon-lelucon yang anti anggap hiburan itu sudah berlebihan…” Nini kembali diam.
“anti tentu ingat nasehat Rosulullah terindu ‘dan janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang perempuan tanpa ada mahromnya, karna yang ketiganya adalah syaithan’ . dan kita juga pernah dapat materi dari MR tentang HTS kan? Belum lagi contoh-contoh kisah yang MR sajikan pada kita.”
“kami hanya tak ingin anti begitu, kami tak ingin anti terpaling setelah dapat pengetahuan kebenaran…”
suasana semakn mengharu biru, dua sahabat itu membiarkan keadaan lengang. Fath kini sedang hanyut dalam muhasabahnya.
Mereka membiarkannya menyelami lautan hatinya. Mereka sengaja membiarkan Fath mengoreksi dirinya sendiri. Dan…selang beberapa saat, Fath serta merta melemparkan peluk pada dua saudarinya…
Khansa_asysyifa
#samarinda, Desember’07
diambil dari kisah ukhti cantik.
Jazakillah kisanya dahh boleh diangkat