“ Gimana?? Tadi malam jadi ngerjain Ahmad tidak??”Tanya Nanda.
“Ah… engga’, aku ga berani. Kami
“ Kamu sendiri gimana? Jadi ngubungin Fahri ya?” Tanya Aal, (gadis berjilbab gaul lagi lincah ini) dengan nada gontainya.
Gedubraakk (jatuh ala Boboho cs)…!!! “Iiihh… tau kamu ga jadi ngubungin Ahmad, aku juga engga deh! Tapi masalahnya, tadi malam aku sudah ngubungin Fahri, pake acara salah sambung gitu. Truz ya…. kenalan deh!!” ungkap Nanda ketus sambil tak lupa nyubitin Aal.
Begitulah kira-kira selintas obrolan Nanda dan Aal tadi siang yang membuat hati Nanda gondok. Februari yang menegangkan fikir Nanda. Nanda kini jadi keki sendiri tak kepalang, bayangkan saja gimana jadinya saat “kerjaan” ini terbongkar. Gadis yang selama ini terkenal pendiam di kelasnya ternyata begitu berani ngerjain ikhwan. Buussyyyeeettt…. Apa kata dunia???
Ya.. sekitar dua hari lalu tiba-tiba saja Aal mencetuskan ide untuk mencoba ngerjain sepasang ikhwan dari jurusan mereka. Kebetulan dua ikhwan itu adalah teman sekelas Aal. Rencananya, mereka hanya ingin mengetahui respon para ikhwan tersebut saat seorang gadis (rada genit n sok gaul gitu deeh..) mencoba dekat dengan sang ikhwan. Tapi kegiatan ini menurut prediksi hanya akan di jalankan dengan perantara ponsel.
Seminggu berlalu, ujian akhir semester pun semakin dekat. Dan hubungan Nanda dengan Fahri (ikhwan yang paling terkenal pemalu itu) ternyata masih berlanjut. Fahri cukup terbuka dengannya. Memang ada kebingungan yang kadang terangkat dari Fahri dalam perbincangan mereka via ponsel itu. Fahri cukup rajin menyelidiki seorang Nanda yang menyamarkan identitasnya dengan nama “Nindi”. Asli, dia seperti detektif saja.
“tinggalnya dimana?, sekolahnya?, ambil jurusan apa?n tau nomer hp ku dari siapa?”
Begitulah sederet bunyi sms Fahri saat ia mencoba mengenal Nindi. Belum lagi ternyata Fahri terkadang berani menelponnya. Ya… dari sini ia semakin gencar menyelidik.
“suaramu ko mirip banget sama seorang temen saya” tulis Fahri di salah satu sms yang dikirimnya beberapa hari lalu. Glekk!! Nanda terpaku, hatinya dag-dig-dug tidak menentu. Apa harus secepat ini Fahri membongkar siapa “Nindi” sebenarnya?? Ga mungkiinn… pikir Nanda cemas. Padahal sms itu hanya salah satu trik Fahri untuk memancing Nanda agar ia jujur padanya. Tapi sementara ini tampaknya Nanda tak mau kalah. Ia pun menyebarkan alasan-alasan lain untuk dapat menghindar.
***
masa perang dalam ujian akhir kelulusan sudah berlalu, ijazah beserta formulir pendaftaran kuliah pun telah di layangkan ke lembaga terkait beberapa bulan lalu dan kini… predikat baru pun tersandang, Nanda telah menjadi seorang mahasiswi..duilee senengnya tak kepalang, mahasiswi nieehh…
selama hampir 7 bulan itu pula hubungan Nanda dan Fahri masih berlanjut. Tapi bahasan mereka kini beralih 1800, ya.. mereka banyak bicara tentang Islam. Sejak sebelum kelulusan, Nanda memanfaatkan kesempatan untuk belajar Islam (tarbiyah dalam bahasa lingkungan aktifis) pada Fahri. Karna memang sebenarnya Nanda begitu tertarik dengan tata kehidupan dan pergaulan Islam yang sedikit banyak diaplikasikan oleh temen-temen di rohis dulu. Namun Nanda tak dapat bergabung bersama mereka saat itu. Tentu Nanda punya alasan. Tapi Nanda tau, tak ada kata terlambat dalam tarbiyah.
“ trus gmn rspon tmen2 u ttg hal in?” Tanya Nanda saat ia meminta Fahri untuk mengajarkan Islam padanya.
“ ya…sy sdh bcrakan dg tmen2. memg d phak akhwat mnentang sy, mrka tak spkat jk sy yg ngjarin Nindi. Tp dr tmen2 ikhwn jstru dkung sy. Jd sy ttp ptuskn untk bntu Nindi hgga sy anggp Nindi mmpu bljar sndri ato ad org yg bs d prcya untk bntu Nindi..” tulis Fahri dalam smsnya sekitar bulan Juni lalu. Ya..Fahri tampak sudah sedkit banyak tau tebtang Nanda.
Membaca itu Nanda pun merasa begitu tersanjung, keputusan besar itu… ya Allah.. Barokahilah jalan tarbiyah ini..
Sms demi sms terus dating dan pergi silih berganti, konsultasi, materi tarbiyah singkat, hingga masukan-masukan pembangkit ghiroh pun hilir mudik mengisi kotak masuk sms di ponsel Nanda. Dalam beberpa bulan memang tak setiap hari Nanda bias tarbiyah, tapi cukuplah membuat boros pulsa keduanya. Terutama Fahri, sms yg dikirimnya harus lebih panjang hngga 4 halaman lyar ponsel atau lebih. Itu karna ia harus selalu menjelaskan, menjelaskan dan menjelaskan..
***
tak terasa sudah sampai di akhir desember, kini semakin bertambah pula ilmu yang didapat Nanda. Penyamarannya pun ternyata sudah terbongkar sekitar Oktober lalu. Tapi Fahri tetaplah Fahri, ia seolah tetap merasa bertanggung jawab untuk membantu Nanda. Namun demikian, kini Nanda pun mulai mencoba mengaktifkan diri. Mulai lagi dengan banyak baca buku-buku Islami, ta’aruf (kenalan) ma akhwat-akhwat hingga ikutan ngaji pun dilakoninya.
Walau demikian Nanda msih belum lepas dari Fahri, hal-hal yang dialaminya di ‘perjalanan baru’ itu sering dikisahkan dan didiskusikannya pula ke Fahri. Ohya, Nanda juga dah punya sobit akhwat lho…namanya Nuri.gadis mungil cantik dengan jilbab besarnya itu ternyata adalah kawan seperjuangan Fahri saat sama-sama di rohis sekolah dulu. Karna itulah mereka mudah dekat,walaupun Nanda tak pernah kenal Nuri sebelumnya. Mereka terkadang memang saling bercerita tentang Fahri.
“ukhti, tolong kasih kritikan pada ana. Tolong kritik soal tarbiyah ana ma akh Fachri” tiba-tiba saja Nanda ingin tahu penilaian Nuri tentang hal ini.
“menurut ana keliatannya kalian tuh dah saling terbiasa, kesannya deket and akrab banget gitu…” sahut Nuri dengan serta merta. Dan…gleekk!! hati Nanda tertohok. Apa maksudnya ini? “deket” seperti apa yang dimaksud Nuri? Fikir Nanda penuh tanda tanya. Sayangnya setelah saat itu, ia tak pernah bisa meminta penjelasan lebih lanjut. Nuri hanya pernah berkata “ya.. deket”.
Tak dapat penjelasan membuat Nanda larut dalam kesimpulannya sendiri. Apa mungkin Nuri mo bilang lo hubungan kami dah kelewat batas?? Ya Allah… seperti itukah mungkin pandangan orang-orang tentang hubungan ini? Tak tersadar, Nanda larut dalam tangis. Ia merasa iba dan malu terhadap dirinya sendiri. Sungguh seolah Nanda berada dalam suasana akhir desember yang kelabu.
***
seperti di malam-malam akhir tahun sebelumnya, malam ini kembali akan ada pesta di lingkungan Rt sekitar rumah tinggal Nanda. Sejak sore, para om-om panitia sudah sibuk membuat panggung. Kembali dendang pesta dangdut tampaknya akan digelar lagi dn lagi. Bener-bener ‘Dangdut is the music of my country…my country… ooo my country..’.
pesta yang dimulai sejak ba’da Isya’ itu semakin larut terdengar semakin marak. Seolah begitu gegap gempita dengan lampu-lampu ala diskotik yang terus benderang dengan nyala cahaya yang bercorak.
Kini Nanda tak lagi terpaku. Ia mulai bergerak, hp digenggamnya dan mulai menekan tombol-tombol di benda mungil itu. Nanda sedang mengetik sms. Ya… ia menulis sms deklarasi itu.
“Assalamu’alaikum akhi… jazakallah khoiran selama ini sudah banyak mambantu Nanda. Dan masalah tentang ungkapan akhwat kemarin itu…” ya, saat merasa terpuruk di hari Nuri mengungkap argumennya, Nanda menceritakan itu pada Fahri.
“akh.. mungkin ini saatnya Nanda berlepas dari antum. Mungkin ini saatnya Nanda mencoba tarbiyah secara mandiri, bersama akhwat-akhwat tentunya. Dan afwan jiddan harus melibatkan antum dalam masalah ini, juga masalah-masalah dahulu itu. Afwan harus dengan jalan seperti ini.” Dan tak berapa lama sms itupun terkirim. Seiring dengan semakin meriahnya suasana diluar
Kini Nanda mengalihkan perhatiannya pada buku diary mungilnya. Nanda pun bercerita tentang deklarasi tahun baru ini. Di akhir tulisannya Nanda merangkai kata:
Untukmu..
Murobbi yang tiada pengganti
Kawan yang senantiasa memahami dan terus mencoba mengerti
Umpama seorang kakak yang ingin selalu menjagaku
dalam berpegang pada tali Allah tercinta…
jazaakumullah khoiran katsiiran…
atas keputusan besar untuk tetap mengajarkan Islam
atas perjuangan menemani perjalanan Hijrah
atas kedewasaan yang kau contohkan untuk mendewasakanku
dan atas setiap perubahan dan keistiqomahan
yang terus antum ingatkan dengan pembangkit ghiroh, do’a serta tentang janji-janji Allah…
juga atas semua pengorbanan pulsa, waktu, tenaga, fikiran,
dan kekuatanmu dalam menjaga hatimu sendiri…
karna kini aku mengerti, aku bisa menjadi fitnah terbesar bagimu akhi…
jazaakumullah khoiran katsiiran…
atas semua yang telah antum lakukan di luar sepengetahuanku
apapun itu,
semoga Allah senantiasa merahmatimu ya…akhi..
membarokahi setiap perjuanganmu…
wahai…mujahid muda yang pemberani dalam sifat pemalu itu..
#samarinda, Desember ‘07
saat di tuntut membuat cerpen dari Tim Buletin
Cerpen perdana

Tidak ada komentar:
Posting Komentar