Senin, 25 Februari 2008

B!rRuL w4Lida1N

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya;

ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah,

dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu,

hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. 31:14)

Islam begitu memperhatikan tiap hak dan kewajiban manusia dalam seluruh aspek kehidupannya bersama manusia lainnya, hal ini karena Allah SWT telah menciptakan manusia itu sendiri bersifat social. Yang tak mungkin hidup seorang diri di muka bumi ini. Dan salah satu hal terpenting dalam bahasan ini, akan dikhususkan pada perhatian hak dan kewajiban kita (anak-anak) terhadap kedua orang ibu-bapaknya.

Allah SWT menurunkan perintah sekaligus tuntunan bagi anak manusia dalam bersikap kepada kedua orang tuanya. Bahkan begitu di tekankannya hal ini, sehingga Allah SWT mendampingkan perintahNya ini setelah perintah untuk tidak mempersekutukanNya. Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,”(QS.4:36)

jika orangtua mempunyai beban memenuhi hak dan kewajibannya pada anak-anak mereka, maka pada tiap diri anak pun terdapat hak dan kewajiban yang harus dipenuhinya terhadap kedua ibu bapaknya. Disebutkan diantaranya terdapat 10 hak orangtua yang harus ditunaikan oleh anak, yaitu:

1. memberi makan apabila di butuhkan. Artinya, saat orangtua tak mampu lagi memenuhi kebutuhan makannya, maka menjadi tanggung jawab anak untuk memenuhinya. Ataupun apabila orangtua masih mampu, namun sang anak hendak membantunya, maka hal ini lebih utama.

2. mengabdikan diri kepada keduanya, sebagai tanda bakti kepada mereka. Dan bentuk pengabdian ini dibatasi hanya pada hal-hal yang sesuai dengan syariat-syariat Allah SWT. Artinya, ketika keduanya memerintahkan untuk membangkang terhadap hokum-hukum Allah SWT, maka gugurlah pengabdian atas mereka sebatas hal tersebut. Dalam QS 31:15 Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”

3. bersegera mendatangi ketika dipanggil. Hal ini banyak diabaikan oleh anak, ketika orangtua menyeru atau memanggil mereka, anak umumnya justru hanya tetap tinggal di tempatnya berada, dan menyahut mereka sembari berteriak.

4. berbicara dengan lembut.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia…….” (QS.17:23)

5. memberikan pakaian kepada keduanya

6. tidak mendahuluinya dalam berjalan. Maksudnya, hendaknya seorang anak itu berjalan di belakang para orangtuanya. Hal ini lebih santun.

7. Mengusahakan keridhoannya. Dalam sebuah hadits Rosulullah SAW bersabda: “sesungguhnya keridhoan Allah SWT bersamaan dengan ridhonya kedua orangtua.”

8. menjauhkannya dari hal-hal yang tidak disukainya

9. berdo’a untuk keduanya dengan memohonkan ampunan

“…..Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil".” (QS. 17:24)

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)".(QS. 14:41)

10. menyambung hubungan silaturahim dengan rekan-rekannya.

Saat Allah SWT memrintahkan kita untuk berlaku dan beradab baik terhadap kedua ibu-bapak. Disisi lain Allah SWT mengingatkan kepada kita akan balasan yang telah disiapkanNya bagi para pembangkang. Allah SWT berfirman:

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka Itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. 47:22-23)

Begitulah Allah SWT yang Maha Adil dan Maha Mengetahui akan penciptaanNya. Mengaturkan kehidupan kita agar kita selamat dari kemurkaanNya. Karena sesungguhnya setiap aturan atau hokum yang Allah SWT turunkan kepada manusia itu adalah sebagai bukti kecintaan Allah SWT kepada manusia.

Senin, 18 Februari 2008

JunDi KeCiL beRnaM4 6#az!


“ini buku uminya ghazi ini…”

“waah..banyaknya buku ghazi…ammah boleh minta satu ga?”tanyaku menggodanya.

“iya..boleh..tapi yang ini aja ya..”jawabnya sembari memberikan buku ngaji berwarna biru kepadaku. “subhanallah…anak baik…terima kasih sayang..”pujiku. Ia pun tersipu girang dipuji begitu.

Hari ini aku, titis dan nisa mendapat buku ngaji baru dari ustadzah. Ini pertama kalinya kami memiliki sendiri buku ngaji. Untuk nisa, bukunya berwarna orange. Itu karna ngajinya sudah lebih mahir dari kami. Sedangkan titis dan aku mendapat buku biru. Tapi, aku belum bisa mulai ngaji dengan buku baruku hari ini, coz ini harinya aku untuk test naik buku.

“umi, buku untuk ghazi yang mana?” pintanya.

“oh iya…umi lupa..umi juga belikan buku ngaji untuk ghazi” sahut ustadzah.

“nah…ini dia bukunya ghazi..wah..tulisannya besar-besar ya..”

ya.. memang ghazi kadang suka bermanja mencari perhatian kami. Sehingga saat ngaji, suka tersendat-sendat. Mendapat buku baru, ghazi girang. Perhatiannya sempat menjurus beberapa saat dengan buku barunya itu.

“umi…ghazi juga mau ngaji..“ghazi dulu ya umi..” rayunya agar diberi izin. Subhanallah…adik kami yang satu ini ternyata pandai mengaji. Saat ia mengaji dnegan benar dan mampu menyelesaikan 1 halaman, kami bersorak memujinya seraya membaca hamdalah. Walaupun baru punya buku hari ini, ngajinya sedikit sekali yang salah..

“masih mau lanjut sayang?” Tanya ustadzah pada ghazi.“atau gantian sama ammahnya ya…ammahnya juga mau ngaji tuh..” lajut ustadzah mencoba memberi pengertian padanya.

“iya..gantian ya mi… tapi habis ammah, ghazi lagi ya mi..”celotehnya. dan ngaji dilanjutkan. Ghazi juga mendapat hadiah es krim dari abinya. Ya..lumbayan tuk melancarkan ngaji hari ini. Tapi…

“umi.. ghazi kentut…” serunya memecah suasana. Dan kami sempat geli dibuatnya. Anak yang lugu..

“diih..ghazi kok kentut smebarangan? Kalo kentut mah jangan bilang-bilang…malu tuh sama ammah..” sahut ustadzah.

“huufff baauuu…ghazi kentut..” Titis meledeknya seraya menjepit hidungnya dan tangan satunya mengibas-ngibas diudara. Lucut, dan geli.. aku dan nisa menertawakannya saja. Si kecil dengan rambut keriting itupun malu juga dibuatnya.

“kentutnya bau ya umi..” tanyanya polos. Ya…udara ruangan memang tercampur aroma tak sedap, tapi melihat tingkah polosnya malah rame sendiri. Ustadzah yang kemudian menyadari kalau ghazi sedang sakit perut itu pun mengajaknya ke belakang. Benar saja, 2hari terakhir pencernaannya terganggu.

Tak lama setelah usai mengantar ghazi dari belakang, ustadzah kembali dan melanjutkan mengaji, giliranku untuk test dan…Alhamdulillah, aku boleh naik buku menyusul Titis.

Usai pengajian kami ingin segera berpamit. “mba..pulang dulu ya.. syukron ngajinya hari ini” masing-masing berujar pamit. Tak ketinggalan ghazi pun ingin di say good bye pula. “ammah… sebentar lagi nanti kesini ya…main sama ghazi lagi..” serunya sambil menengok dari jendela rumah. Bahkan, seolah ia khawatir kami akan lupa, pesan itu disampaikannya berulang kali

. “iya…insyaAllah pekan depan ammahnya kesini lagi main sama ghazi ya..” jawab Titis. “sekarang ammahnya pulang dulu ya..Assalamu’alaikum ghazi..”

***

tulatut…tulatut…tulatut…ada sms masuk rupanya. Pantas benda mungil itu terus memekik. Dari Titis, ada pesan apa ya pagi begini???

assalamu’alaikum ukhti…ghazi sakit ukh. Tadi malam dia dibawa ke rumah sakit dirgahayu. Tapi ana blom tau sakitnya apa”

innalillah…seakan tak percaya, aku pun segera memastikan

wa’alaikum salam… ghazi putranya ustadzah? Yang kemaren sore barusan maen sama kita itu??sakit apa ukh? Anti dapat berita darimana?” balasku. Sms terkirim. Selang beberapa saat jawaban dating..

“iya ukht…kepalanya bocor gitu. N hari ini di operasi di RS umum” Allahu Akbar..apa yang sebenarnya terjadi? Sampai harus dioperasi segala. Segitu parahnya kah?

Siangnya HP kecil itu berbunyi lagi. Sms lagi dari Titis..: “assalamu’alaikum…ukhti tadi ana jengukin ke rumah sakit bareng mba Went, tapi ghazinya belum boleh diliat. Masih di ruang ICU, cuma keluarganya yang boleh masuk. Ukhti…ghazi sakitnya parah. Pendarahannya sampai seperempat kepalanya ukh…salam dari mbanya, tolong do’akan ya ukh..”

“Ya Allah…jundi kecil kami sedang berjuang melawan sakitnya. Semoga dia segera pulih kembali.. ghazi… maafin amah ya sayang hari ini belum bisa jenguk ghazi ke rumah sakit…ghazi yang kuat ya dek…” do’a batinku.

Aku jadi semakin rindu pada mujahid usia 2 tahun 7 bulan itu. Dia yang kemarin sore begitu lincah bermain bersama kami, kini Allah punya kehendak…berjuang ya sayang… semoga Allah memberi yang terbaik.

***

hari ini sudah dua hari ghazi di rumah sakit. Kondisi terakhir yang kudapat dari Titis, bahwa ghazi masih belum sadarkan diri. selang-selang pernafasan, infus dan entah apalagi, kabarnya masih menemani tidurnya. Ghazi masih koma.

Assalamu’alaikum… ukh, nanti kalo ghazi dah dipindah dari ruang ICU kita jengukin ya…hari ini dia juga masih belum sadar ukh..” sms Titis.

Semakin merasa iba dan sempat merasa bersalah juga coz sampai hari ini aku belum bisa menjenguknya. Ghazi yang kuat ya dek..dan entah mengapa saat mengharu biru begitu, difikiran ini justru terlintas lo ghazi tak akan bertahan. Ia tak akan tinggal. Ya Allah…apa-apaan ini… kenapa terlintas fikiran jika ghazi akan pulang kembali padaMu Rabb…

Lintasan fikiran itu sempat membuatku gulana. Tapi aku harus menyingkirkannya, akupun mengalihkan aktifitas diri agar tak terlalu lena pada fikiran itu. Sungguh!!seolah prasangka yang buruk.

Tapi jujur aku ketakutan, pasalnya beberapa kali aku pernah mengalami hal tersebut. Lintasan fikiran akan “berpulangnya” orang-orang terdekat. Yang paling dramatis adalah saat almarhum ayah sakit hingga meninggal. Aku nyaris tak ingin memejamkan mata karena bayangan itu terus muncul. Ngeri… seperti menghantui..

Namun aku hanya menganggap semua itu sebagai suatu kebetulan saja. Alhamdulillah saat fikiran buruk tentang “berpulangnya” ghazi tak sedramatis saat ada fikiran yang sama pada almarhum ayah.

Hari ini pun akhirnya dapat kulalui dengan tenang. Berbagai kegiatan luar rumah, mampu sejenak mendamaikan hati dan fikiranku. Ya harapan akan kesembuhan Ghazi terus merekah.

***

“deekkk…bangun… nih ada sms..” mba’ku berujar sambil menggedor pintu kamar. Sms??bukannya HP sudah kumatikan sejak tadi malam? Fikirku. Dengan sedikit terpaksa aku membangunkan diri, aku masih mengantuk berat saat pagi itu mba’ku membangunkan. Tadi malam aku “lembur” tidurnya sih…

segera kubuka pintu kamar, ko HP ibu yang diberikannya?ohya, lupa… beberapa temen memang tahu nomer ibu. Mungkin karna HP ku tak aktif, jadinya sms kesini. Dengan mata yang masih remang-remang (merem melek dikiitt bener..he..he…dasar males)aku harus baca sms. Dariii Titis…

Assalamu’alaikum warahmatullah…Innalillah wa innailaihirojiun… telah berpulang ke Rahmatullah ananda Ghazi (putra pak Ali & umi Kaltsum) hari kamis, 14 Februari jam 03.15 wita. Sebarkan…”

innalillah wa innailaihirojiun… aku nyaris lemah. Tak percaya, terus kubaca sms itu sembari turun ke lantai satu rumah. Aku sibuk mencari-cari HPku sendiri. Mungkin ada sms lain yang masuk memberitakan. Dan saat HP kuaktifkan benar saja, ada sms dari mba Went dengan isi sms yang sama.

#samarinda, 14 Februari 2008 (09.33pm)

khansa_asysyifa

Innalillah wa innailaihirojiun….

dan sang jundi berpulang ke rahmatullah

Minggu, 10 Februari 2008

Visi Misi


Allah berfirman "Aku adalah apa yang diprasangkakan hamba-Ku".

Maka jadilah seorang muslim tangguh baik dari segi fikroh maupun fisiknya, Muslim yang kuat lebih dicintai dan dimuliakan daripada Muslim yang lemah.

Maka Allahlah Ghayatuna "Tujuan kita". Rasulullah "Teladan kita". Jihad adalh "Jalan Juang Kita". Syahiid adalah Cita-cita kita tertinggi".

by: a' Yanu
jazakallah khaoiran katsiiran ya akhi..

n1km4T yan9 di Du5takaN

“kebakaraaannn….kebakaaraaannn… cepat bu haji, ada kebakaran dibelakang…”teriak kang Danang, penjaga malam di kampong temapat tinggalku.
Bunda yang saat itu sedang asyik mempersiapkan bahan jualannya sempat kebingungan, ia cepat menghambur keluar warungnya untuk mencari tahu dimana gerangan kebakaran terjadi. Dan ternyata, benar saja api yang sudah cukup besar itu berada tepat disekitar belakang lokasi tinggal kami. Warga kampong Air Putih tuh sama serentak terbangun. Bak serombongan prajurit yang selalu siaga, masing-masing menyelamatkan diri dan harta benda.
Ibu yang panic segera berlari sekuat tenaga menuju rumah yang kebetulan berjarak beberapa rumah lagi dari warung jualannya. Ia berteriak membangunkan keluarga paman dan kami semua. Dan lebih panic lagi keadaan keluarga saat itu, api begitu dekat. Sudah mulai melahap perlahan kebun warga dibelakang rumah. Bahkan, hawa panasnya api telah merasuk kedalam rumah kami…bersama dengan kepanikan dan berlomba berkompetisi dengan si raja merah, kami menyelamatkan harta benda, surat-surat penting, pakaian yang masih bias diangkat, televise dan barang-barang yang masih mampu diangkat pun dikeluarkan dari rumah… suasana kampong dini hari itu menjadi hiruk pikuk. Bahkan ada saja tetangga yang kemudian menjadi begitu lemah, hingga ia hanya mampu menangis…
Namun beruntung, Allah…Rabb yang Menggenggam si jago merah itu, menyelamatkan kami. Bahkan tak hanya kami dan warga kampoeng, tetapi juga seluruh harta benda kami… Allahu Akbar…Allahu Akbar… Allahu Akbar…


Dari peristiwa malam itu, belajar mencari hikmah di dalamnya. Jadi teringat dengan salah satu ayat yang berulangkali Allah sebutkan dalam satu surah.. ya..surah Ar-Rahman. Dan ayat yang dimaksud adalah “Dan nikmat Tuhan kamu yang manakah yang ingin kamu dustakan?”. Maka Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Sadar tidak sadar, mengakui ataupun tidak, sengaja hingga tidak sengaja. Ada-ada saja nikmat Allah yang sebenarnya mungkin telah kita dustakan, kita anggap remeh, hingga yang kita sombongkan bahwa nikmat itu dating pada kita karna usaha diri kita sendiri. Na’udzubillah…

Mari sejenak bercermin diri. Ya… mungkin suatu saat lalu kita pernah lalai akan nikmat sehat yang Allah berikan, hingga tiada puji yang terucap untukNya atas kesehatan itu. Mungkin sebulan lalu kita alfa akan rizki yang Allah tambahkan pada kita hingga kita enggan membaginya kepada saudara yang fakir dan kita memakan hak mereka atas rizki yang telah Allah lebihkan itu. Bahkan mungkin kita lupa mengucap kesyukuran dan membesarkan namaNya padahal baru beberapa jam yang lewat Ia telah menambahkan ilmu yang begitu manfaat bagi kehidupan kita. Maka mari beristighfar…Astaghfirullahal’adhziim..

Dan inilah salah satu sifat kita yang Allah sebutkan dalam firmanNya: sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan,ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir”(QS.70:19-21).

Padahal dalam firmanNya yang lain, Allah SWT telah mengabarkan bahwa sesungguhnya dunia ini hanyalah kesenangan yang melenakan.ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan diantara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering ddan kamu lihat warnanya menjadi kuning kemudian hancur. Dan diakhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridha-anNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”(QS.57:20)

Karenanya, sebagai seorang yang mengakui diri sebagai hamba Allah SWT sahaja, tak lah pantas bagi kita mengingkari setiap nikmat yang Allah berikan kepada kita. Walau hanya sejumpilit yang kita dapatkan di dunia untuk hari ini, tapi berharaplah dengan kesyukuran atas nikmat yang sejumpilit itu, Allah SWT melipatgandakannya untuk bekal hadiah kesyukuran bagi kehidupan akhirat…

Minggu, 03 Februari 2008

yuukk... ngobrol tentang C1NT4


Ketika kita membaca QS.51:56 yang artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Seolah-olah Allah membutuhkan ketaatan makhlukNya. Padahal jika kita mau merenunginya lebih dalam, sebenarnya Allah menciptakan jin dan manusia kemudian memerintahkan untuk taat, bukan karena Allah membutuhkan ketaatan makhlukNya. Sungguh, semua perintah dari Allah adalah karunia agar kita menjadi terhormat, mulia dan kembali ke asal mula kita (syurga). Kalaupun kelak kita masuk kedalam neraka, sama sekali bukan karena kurangnya karunia dari Allah, tapi karna saking gigihnya kita ingin jadi ahli neraka. Dengan banyak melakukan perbuatan maksiat dan dosa.

Allah Maha Tahu bahwa kita lebih cenderung melakukan kesalahan, tapi Allah tidak lantas membiarkan kita dalam keadaan merasa bersalah. Justru Allah menyiapkan ampunanNya sedemikian dahsyat yang melebihi luasnya langit dan bumi. Allah selalu medahulukan kasih sayangNya daripada kemarahanNya.

Subhanallah… ternyata Allah amat sayang kepada kita semua. Jangan biarkan ♥Nya bertepuk sebelah tangan….

Sebagai seorang muslim, kita pasti sudah tahu bahwa keindahan ♥ yang hakiki adalah ketika kita men♥i Allah SWT. Ke♥an dan pengharapan kita kepada makhluk hanya akan menambah sakit hati. Sudah semestinya kebutuhan kita akan kebahagiaan duniawi, membuat kita berfikir bahwa Allah lah satu-satunya yang memiliki semua ini dan seharusnya itu menjadi jalan agar kita lebih men♥i Allah SWT.

Semakin kita mengenal Allah, maka akan terasa semakin kecil nilai makhluk. Disaat kita merasakan betapa sempurnanya balasan Allah, maka berapapun besarnya balasan dari makhluk, tak sebanding harganya dengan balasan dari Allah. Makin detailnya pandangan Allah, makin tak penting pengawasan dari makhluk. Siapapun yang mengenal Allah tidak akan pernah kecewa dengan perbuatan Allah. Semoga ini dapat memicu kita untuk semakin mengenal Allah yang Maha Dekat, Maha Menyayangi….

Jumat, 01 Februari 2008

3nj0y yanG terTund4

Jadi ingat banget ma salah satu iklan televisi yang satu ini. Tapi disini bukan ajang promosi produk tersebut lho (ga bangeettt…). yups! Cerdas, karna kita akan bahas all about GAGAL. Satu kata yang begitu singkat dengan 5 huruf saja di dalmnya itu. Ternyata benar-benar bisa menohok, menancap begitu tajam kedalam hati. Tak jarang, dari kata tersebut tuh ya… orang-orang ada yang sampai berputus asa. Nau’dzubillah…

Padahal jika kita mampu berfikir dengan tenang dan bijak. Ternyata kegagalan yang terjadi pada kita merupakan salah satu karunia Allah to kita. Lho, kok karunia?? Karena kegagalan teh ibarat suatu tantangan yang Allah berikan dalam menguji kita. Menguji apa?? Semuanya, keimanan kita pada Allah, besarnya perjuangan kita to terus dekat denganNya, bahkan to mengukur seberapa besar cinta kita pada Allah..Rabb Yang Maha Mencinta.

Semakin banyak tantangan yang Allah berikan kepada kita, insya Allah peluang untuk semakin dekat pada Allah pun semakin besar. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Asr: 6-7 “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka, apabila kamu selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh”.


Berikut beberapa tips menikmati enjoy kita yang tertunda:

  • Siap. Kita harus sadar, bahwa kita hanyalah makhluk yang memiliki banyak keterbatasan. Karna itu kita harus siap menghadapi hal-hal yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Namun adalah fitrah bila kita punya cita-cita, keinginan, harapan dan berjuta rencana dalam hidup ini. Namun, kita tak boleh lupa bahwa Allah pun punya rencana terhadap kehidupan kita. Dan merugilah orang yang hanya bersikap pasrah, menyerah apalagi berputus asa dalam memperbaiki diri dan kehidupannya. Menyerah sebelum berjuang. Padahal Allah menghendaki kita bersikap “fa idzaa azamta fa tawaqqal alallah” bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar, namun hati teteeppp… serahkan segala keputusan dan kejadian terbaik hanya kepada Allah SWT. Dalam QS. 2: 216 Allah berfirman: …Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, apdahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”.
  • Ridho’. Ketahuilah, hidup kita terdiri dari berbagai episode yang tidak monoton. Sehingga kita harus benar-benar arif dalam menyikapi setiap episode dengan lapang dada, kepala dingin dan hati yang ikhlas. Kita juga kudu belajar menerima kenyataan yang ada. Tapi, pikiran dan tubuh wajib ikhtiar untuk memperbaiki keadaan dengan cara-cara yang diridhoi Allah SWT. Karena kondisi hati yang ridho’ sangat membantu menjadikan ikhtiar menjadi positif, optimal dan bermutu
  • Jangan mempersulit diri. Karna ternyata kita tuh emang doyan bener dengan hobi mengarang, mendramatisir dan mempersulit diri. Sebagian besar penderitaan kita adalah hasil daramatisasi perasaan dan pikiran sendiri. Padahal itu akan membuat kita semakin nelangsa menghadapinya. Sehingga kita tuh mustinya bias tenang n menguasai diri seraya merenungkan janji dan jaminan atas pertolongan Allah SWT. Kerna, segalanya di dunia ini akan ada akhirnya dan akan dipergilirkan dengan adil oleh Allah SWT.
  • Evaluasi diri. kehidupan kita nih ibarat gaung di pegunungan, apa yang kita bunyikan, itulah suara yang akan kembali kepada kita. Artinya, segala yang terjadi pada kita adalah buah dari apa yang kita lakukan. Dalam QS. Al-Zalzalah: 7-8 Allah SWT berfirman “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun, nisacaya dia akan lihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun niscaya dia akan melihat balasannya (pula)”. Renungkan, segala yang terjadi di kehidupan kita ini tak mungkin kita salahkan kepada orang lain. Kerna pada dasarnya, focus persoalan justru ada pada diri kita sendiri.
  • Yakin padapertolongan Allah. Jangan pernah takut dan gusar terhadap enjoy kita yang tertunda. Karna sesungguhnya, tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali atas izin dari Allah SWT. Dan karna kita sebagai makhluk Allah itu hendaknya selalu “ laa haula walaa quwwata illa billahil’aliyyil’aziim”. Allah SWT berjanji dalam QS. At-Thalaq: 3 yang artinya “barangsiapa yang bersungguh-sungguh mendekati Allah (bertaqwa) niscaya akan diberi jalan keluar bagi setiap urusannya, dan akan diberi rizki dari tempat yang tidak disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakal hanya kepada Allah niscaya akan dicukupi segala kebutuhannya”. Semoga enjoy kita yang tertunda menjadi jalan belajar yang akan semakin mematangkan diri, mendewasakan, manambah ilmu, maluaskan pengalaman, melipatgandakan ganjaran dan menjadikan hidup ini jauh lebih bermutu, mulia dan terhormat dunia dan akhirat….

sok atuh sekarang mah dah ngga' zamannya lagi kita-kita begitu cepet berputus asa dari rahmat Allah hanya karena enjoy yang tertunda. nikmatin aja tiap fase hidup kita. Bismillah...yuukk...yaa...yuukkk....

khansa_asysyifa’

saat menikmati enjoy yang tertunda