
“ini buku uminya ghazi ini…”
“waah..banyaknya buku ghazi…ammah boleh minta satu ga?”tanyaku menggodanya.
“iya..boleh..tapi yang ini aja ya..”jawabnya sembari memberikan buku ngaji berwarna biru kepadaku. “subhanallah…anak baik…terima kasih sayang..”pujiku. Ia pun tersipu girang dipuji begitu.
Hari ini aku, titis dan nisa mendapat buku ngaji baru dari ustadzah. Ini pertama kalinya kami memiliki sendiri buku ngaji. Untuk nisa, bukunya berwarna orange. Itu karna ngajinya sudah lebih mahir dari kami. Sedangkan titis dan aku mendapat buku biru. Tapi, aku belum bisa mulai ngaji dengan buku baruku hari ini, coz ini harinya aku untuk test naik buku.
“umi, buku untuk ghazi yang mana?” pintanya.
“oh iya…umi lupa..umi juga belikan buku ngaji untuk ghazi” sahut ustadzah.
“nah…ini dia bukunya ghazi..wah..tulisannya besar-besar ya..”
ya.. memang ghazi kadang suka bermanja mencari perhatian kami. Sehingga saat ngaji, suka tersendat-sendat. Mendapat buku baru, ghazi girang. Perhatiannya sempat menjurus beberapa saat dengan buku barunya itu.
“umi…ghazi juga mau ngaji..“ghazi dulu ya umi..” rayunya agar diberi izin. Subhanallah…adik kami yang satu ini ternyata pandai mengaji. Saat ia mengaji dnegan benar dan mampu menyelesaikan 1 halaman, kami bersorak memujinya seraya membaca hamdalah. Walaupun baru punya buku hari ini, ngajinya sedikit sekali yang salah..
“masih mau lanjut sayang?” Tanya ustadzah pada ghazi.“atau gantian sama ammahnya ya…ammahnya juga mau ngaji tuh..” lajut ustadzah mencoba memberi pengertian padanya.
“iya..gantian ya mi… tapi habis ammah, ghazi lagi ya mi..”celotehnya. dan ngaji dilanjutkan. Ghazi juga mendapat hadiah es krim dari abinya. Ya..lumbayan tuk melancarkan ngaji hari ini. Tapi…
“umi.. ghazi kentut…” serunya memecah suasana. Dan kami sempat geli dibuatnya. Anak yang lugu..
“diih..ghazi kok kentut smebarangan? Kalo kentut mah jangan bilang-bilang…malu tuh sama ammah..” sahut ustadzah.
“huufff baauuu…ghazi kentut..” Titis meledeknya seraya menjepit hidungnya dan tangan satunya mengibas-ngibas diudara. Lucut, dan geli.. aku dan nisa menertawakannya saja. Si kecil dengan rambut keriting itupun malu juga dibuatnya.
“kentutnya bau ya umi..” tanyanya polos. Ya…udara ruangan memang tercampur aroma tak sedap, tapi melihat tingkah polosnya malah rame sendiri. Ustadzah yang kemudian menyadari kalau ghazi sedang sakit perut itu pun mengajaknya ke belakang. Benar saja, 2hari terakhir pencernaannya terganggu.
Tak lama setelah usai mengantar ghazi dari belakang, ustadzah kembali dan melanjutkan mengaji, giliranku untuk test dan…Alhamdulillah, aku boleh naik buku menyusul Titis.
Usai pengajian kami ingin segera berpamit. “mba..pulang dulu ya.. syukron ngajinya hari ini” masing-masing berujar pamit. Tak ketinggalan ghazi pun ingin di say good bye pula. “ammah… sebentar lagi nanti kesini ya…main sama ghazi lagi..” serunya sambil menengok dari jendela rumah. Bahkan, seolah ia khawatir kami akan lupa, pesan itu disampaikannya berulang kali
. “iya…insyaAllah pekan depan ammahnya kesini lagi main sama ghazi ya..” jawab Titis. “sekarang ammahnya pulang dulu ya..Assalamu’alaikum ghazi..”
***
tulatut…tulatut…tulatut…ada sms masuk rupanya. Pantas benda mungil itu terus memekik. Dari Titis, ada pesan apa ya pagi begini???
“assalamu’alaikum ukhti…ghazi sakit ukh. Tadi malam dia dibawa ke rumah sakit dirgahayu. Tapi ana blom tau sakitnya apa”
innalillah…seakan tak percaya, aku pun segera memastikan
“wa’alaikum salam… ghazi putranya ustadzah? Yang kemaren sore barusan maen sama kita itu??sakit apa ukh? Anti dapat berita darimana?” balasku. Sms terkirim. Selang beberapa saat jawaban dating..
“iya ukht…kepalanya bocor gitu. N hari ini di operasi di RS umum” Allahu Akbar..apa yang sebenarnya terjadi? Sampai harus dioperasi segala. Segitu parahnya kah?
Siangnya HP kecil itu berbunyi lagi. Sms lagi dari Titis..: “assalamu’alaikum…ukhti tadi ana jengukin ke rumah sakit bareng mba Went, tapi ghazinya belum boleh diliat. Masih di ruang ICU, cuma keluarganya yang boleh masuk. Ukhti…ghazi sakitnya parah. Pendarahannya sampai seperempat kepalanya ukh…salam dari mbanya, tolong do’akan ya ukh..”
“Ya Allah…jundi kecil kami sedang berjuang melawan sakitnya. Semoga dia segera pulih kembali.. ghazi… maafin amah ya sayang hari ini belum bisa jenguk ghazi ke rumah sakit…ghazi yang kuat ya dek…” do’a batinku.
Aku jadi semakin rindu pada mujahid usia 2 tahun 7 bulan itu. Dia yang kemarin sore begitu lincah bermain bersama kami, kini Allah punya kehendak…berjuang ya sayang… semoga Allah memberi yang terbaik.
***
hari ini sudah dua hari ghazi di rumah sakit. Kondisi terakhir yang kudapat dari Titis, bahwa ghazi masih belum sadarkan diri. selang-selang pernafasan, infus dan entah apalagi, kabarnya masih menemani tidurnya. Ghazi masih koma.
“Assalamu’alaikum… ukh, nanti kalo ghazi dah dipindah dari ruang ICU kita jengukin ya…hari ini dia juga masih belum sadar ukh..” sms Titis.
Semakin merasa iba dan sempat merasa bersalah juga coz sampai hari ini aku belum bisa menjenguknya. Ghazi yang kuat ya dek..dan entah mengapa saat mengharu biru begitu, difikiran ini justru terlintas lo ghazi tak akan bertahan. Ia tak akan tinggal. Ya Allah…apa-apaan ini… kenapa terlintas fikiran jika ghazi akan pulang kembali padaMu Rabb…
Lintasan fikiran itu sempat membuatku gulana. Tapi aku harus menyingkirkannya, akupun mengalihkan aktifitas diri agar tak terlalu lena pada fikiran itu. Sungguh!!seolah prasangka yang buruk.
Tapi jujur aku ketakutan, pasalnya beberapa kali aku pernah mengalami hal tersebut. Lintasan fikiran akan “berpulangnya” orang-orang terdekat. Yang paling dramatis adalah saat almarhum ayah sakit hingga meninggal. Aku nyaris tak ingin memejamkan mata karena bayangan itu terus muncul. Ngeri… seperti menghantui..
Namun aku hanya menganggap semua itu sebagai suatu kebetulan saja. Alhamdulillah saat fikiran buruk tentang “berpulangnya” ghazi tak sedramatis saat ada fikiran yang sama pada almarhum ayah.
Hari ini pun akhirnya dapat kulalui dengan tenang. Berbagai kegiatan luar rumah, mampu sejenak mendamaikan hati dan fikiranku. Ya harapan akan kesembuhan Ghazi terus merekah.
***
“deekkk…bangun… nih ada sms..” mba’ku berujar sambil menggedor pintu kamar. Sms??bukannya HP sudah kumatikan sejak tadi malam? Fikirku. Dengan sedikit terpaksa aku membangunkan diri, aku masih mengantuk berat saat pagi itu mba’ku membangunkan. Tadi malam aku “lembur” tidurnya sih…
segera kubuka pintu kamar, ko HP ibu yang diberikannya?ohya, lupa… beberapa temen memang tahu nomer ibu. Mungkin karna HP ku tak aktif, jadinya sms kesini. Dengan mata yang masih remang-remang (merem melek dikiitt bener..he..he…dasar males)aku harus baca sms. Dariii Titis…
“Assalamu’alaikum warahmatullah…Innalillah wa innailaihirojiun… telah berpulang ke Rahmatullah ananda Ghazi (putra pak Ali & umi Kaltsum) hari kamis, 14 Februari jam 03.15 wita. Sebarkan…”
innalillah wa innailaihirojiun… aku nyaris lemah. Tak percaya, terus kubaca sms itu sembari turun ke lantai satu rumah. Aku sibuk mencari-cari HPku sendiri. Mungkin ada sms lain yang masuk memberitakan. Dan saat HP kuaktifkan benar saja, ada sms dari mba Went dengan isi sms yang sama.
#samarinda, 14 Februari 2008 (09.33pm)
khansa_asysyifa
Innalillah wa innailaihirojiun….
dan sang jundi berpulang ke rahmatullah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar