Minggu, 10 Februari 2008

n1km4T yan9 di Du5takaN

“kebakaraaannn….kebakaaraaannn… cepat bu haji, ada kebakaran dibelakang…”teriak kang Danang, penjaga malam di kampong temapat tinggalku.
Bunda yang saat itu sedang asyik mempersiapkan bahan jualannya sempat kebingungan, ia cepat menghambur keluar warungnya untuk mencari tahu dimana gerangan kebakaran terjadi. Dan ternyata, benar saja api yang sudah cukup besar itu berada tepat disekitar belakang lokasi tinggal kami. Warga kampong Air Putih tuh sama serentak terbangun. Bak serombongan prajurit yang selalu siaga, masing-masing menyelamatkan diri dan harta benda.
Ibu yang panic segera berlari sekuat tenaga menuju rumah yang kebetulan berjarak beberapa rumah lagi dari warung jualannya. Ia berteriak membangunkan keluarga paman dan kami semua. Dan lebih panic lagi keadaan keluarga saat itu, api begitu dekat. Sudah mulai melahap perlahan kebun warga dibelakang rumah. Bahkan, hawa panasnya api telah merasuk kedalam rumah kami…bersama dengan kepanikan dan berlomba berkompetisi dengan si raja merah, kami menyelamatkan harta benda, surat-surat penting, pakaian yang masih bias diangkat, televise dan barang-barang yang masih mampu diangkat pun dikeluarkan dari rumah… suasana kampong dini hari itu menjadi hiruk pikuk. Bahkan ada saja tetangga yang kemudian menjadi begitu lemah, hingga ia hanya mampu menangis…
Namun beruntung, Allah…Rabb yang Menggenggam si jago merah itu, menyelamatkan kami. Bahkan tak hanya kami dan warga kampoeng, tetapi juga seluruh harta benda kami… Allahu Akbar…Allahu Akbar… Allahu Akbar…


Dari peristiwa malam itu, belajar mencari hikmah di dalamnya. Jadi teringat dengan salah satu ayat yang berulangkali Allah sebutkan dalam satu surah.. ya..surah Ar-Rahman. Dan ayat yang dimaksud adalah “Dan nikmat Tuhan kamu yang manakah yang ingin kamu dustakan?”. Maka Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Sadar tidak sadar, mengakui ataupun tidak, sengaja hingga tidak sengaja. Ada-ada saja nikmat Allah yang sebenarnya mungkin telah kita dustakan, kita anggap remeh, hingga yang kita sombongkan bahwa nikmat itu dating pada kita karna usaha diri kita sendiri. Na’udzubillah…

Mari sejenak bercermin diri. Ya… mungkin suatu saat lalu kita pernah lalai akan nikmat sehat yang Allah berikan, hingga tiada puji yang terucap untukNya atas kesehatan itu. Mungkin sebulan lalu kita alfa akan rizki yang Allah tambahkan pada kita hingga kita enggan membaginya kepada saudara yang fakir dan kita memakan hak mereka atas rizki yang telah Allah lebihkan itu. Bahkan mungkin kita lupa mengucap kesyukuran dan membesarkan namaNya padahal baru beberapa jam yang lewat Ia telah menambahkan ilmu yang begitu manfaat bagi kehidupan kita. Maka mari beristighfar…Astaghfirullahal’adhziim..

Dan inilah salah satu sifat kita yang Allah sebutkan dalam firmanNya: sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan,ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir”(QS.70:19-21).

Padahal dalam firmanNya yang lain, Allah SWT telah mengabarkan bahwa sesungguhnya dunia ini hanyalah kesenangan yang melenakan.ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan diantara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering ddan kamu lihat warnanya menjadi kuning kemudian hancur. Dan diakhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridha-anNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”(QS.57:20)

Karenanya, sebagai seorang yang mengakui diri sebagai hamba Allah SWT sahaja, tak lah pantas bagi kita mengingkari setiap nikmat yang Allah berikan kepada kita. Walau hanya sejumpilit yang kita dapatkan di dunia untuk hari ini, tapi berharaplah dengan kesyukuran atas nikmat yang sejumpilit itu, Allah SWT melipatgandakannya untuk bekal hadiah kesyukuran bagi kehidupan akhirat…

Tidak ada komentar: