Kamis, 27 Maret 2008

kePad4 BunD@....


Pautan dua cinta yang terikat kuat antara ibu dan anak sepertinya takan pernah putus. Tetapi kekokohannya bukan tidak mungkin usang dan kendur. Dan selalu anak yang mengendurkan tali kasih itu. Ibu, rasanya terlalu mulia untuk dituduh mengusangkan kekokohan pautan cinta suci yang berakar di hatinya.

Ibu tidak pernah mengumbar janji untuk menyayangi anaknya. Derai air mata dan cucuran peluhnya jauh lebih nyaring mengatakan "sayang" ketimbang janji manis atau bahkan omelannya ketika si anak berulah. Baginya cinta dan sayang selalu ada untuk anak-anaknya, hingga ia tak perlu lagi janji, karena janji hanya untuk sesuatu yang belum tersedia.

Tetapi terkadang janji adalah suara sehari-hari yang sampai ke telinga seorang ibu dari mulut anak-anaknya. Dan sering kali janji itu jauh lebih memekakan telinga daripada menjernihkan mata karena melihat bukti dari janji-janji itu.

Ada sebuah fragmen yang cukup menarik, dikisahkan pada suatu ketika seorang anak yang merasa sudah cukup sukses berucap janji kepada orang tua yang tinggal satu-satunya; ibu yang sangat disayanginya. "Ibu, kalau sudah punya cukup uang saya ingin sekali mengongkosi ibu naik haji." Ibunya tersenyum. Dari ujung matanya kristal-kristal bening meleleh. Didekapnya buah hati yang memiliki niat baik itu. Tanpa suara. Hanya dadanya yang bergemuruh memikul haru yang begitu besar. Bayangan masa-masa kecil anaknya yang menyimpan banyak kenangan manis lalu pun hadir. Disusul bayangan kerinduan yang sangat untuk berziarah ke baitullah. Dalam hatinya ia berucap, "Semoga niat sucimu terkabul, sayang." Dan sebuah kecupan mendarat di dahi puterinya yang cantik itu.

Waktu pun berlari menyisakan hitungan hari, hingga pada suatu saat keberuntungan berpihak pada puteri cantik pemilik niat baik itu. Bersama suami dan anak-anaknya ia kembali ke tanah air dari tugas dinas suaminya. Tentu di kantong keluarga kecil itu telah terkumpul cukup uang. Hal ini dipahami oleh sang ibu. Seketika hatinya berbunga menyambut kepulangan anak, mantu, dan cucunya.

Namun meski demikian, pantang bagi si ibu untuk mengungkit janji yang pernah diucapkan puterinya tentang naik haji itu. Ia tak ingin selaksa amalnya terkotori oleh sedikit pun pamrih. Namun, puterinya yang cantik itu seperti lupa dengan janji yang diucapkannya. Seminggu, sebulan, dua bulan, dalam hati, seorang bunda menunggu-nunggu anaknya yang mungkin akan memberikan buku ONH (Ongkos Naik Haji) atas namanya dan suaminya. Waktu pun berlalu tanpa suara, seperti tak berani janji kapan peristiwa itu akan terjadi. Hingga tibalah suatu hari, hati seorang bunda pecah dalam diam ketika anaknya itu membeli sebidang tanah seharga tiga kali ongkos haji untuk dibuat kolam ikan dan tempat peristirahatan keluarga kecilnya bila pulang ke desa.

Tak tahu sebesar apa gemuruh yang bergelombang di dada ibu, hanya dia yang tau, karena ia tetap tersenyum di depan semua anaknya. Tak terkecuali di depan puterinya yang cantik itu. Ia tak pernah menagih janji anaknya, bahkan sekedar mengungkit pun tidak. Tapi, entah isyarat apa ketika ikan-ikan di kolam anaknya tak pernah menghasilkan keuntungan. Rumah peristirahatannya pun menjadi hanya sebatas rumah kosong yang tidak banyak memberi manfaat. Lalu, entah isyarat apa ketika anak-anak yang lain yang ikut menggunakan uang anak perempuan ibu itu untuk berbagai usaha, tak satu pun dari mereka yang sukses. Alih-alih, sebuah kesalah-pahaman keluarga terjadi meretakan keharmonisan keluarga ibu yang diingkari janji itu.

Entah isyarat apa. Apakah itu akibat sakit hati ibu karena anaknya sendiri telah mengingkari janji untuknya? Hanya "mungkin" jawabannya. Karena senyum ibu tidak pernah berubah untuk semua anaknya; do'a ibu tidak pernah berganti untuk semua buah hatinya, selalu untuk kebaikan; dan pangkuan serta pelukannya selalu terbuka untuk seluruh belahan jiwanya. Tapi apakah seorang ibu tidak bisa sakit hati? itu juga pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Karena ibu juga manusia biasa, tapi sangat luar biasa jasanya. Terlalu mahal semua jasanya untuk ditukar dengan janji-janji kosong. Mungkin kekebalan hati seorang ibu telah mampu menyembunyikan sepedih apapun sakit hatinya, namun Allah tetaplah Dzat yang Maha Adil yang telah mentakdirkan Rasul-Nya bersabda: "Keridhoan Allah ada dalam keridhoan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah ada dalam kemurkaan Allah."

Mungkin lautan kasih sayang ibu terlalu dalam untuk sekedar menenggelamkan sebesar apapun kesalahan anak-anaknya hingga tak muncul kepermukaan. Tetapi sebagai anaknya, kita harus memahami sifat manusiawi ibu kita, bahwa beliau juga punya hati yang sakit jika tergores. Dan yang pasti Allah adalah Dzat yang Maha Adil, dan tidak pernah lupa dengan janji-janji yang tertuang dalam ajaran-ajaran Rasul-Nya. Jadi, berhati-hatilah memelihara janji yang pernah diucapkan di hadapan bunda.

Sahabat, sayangi ibumu, ibumu, ibumu!

Wa4JJI a'lam.

dikirimin dari Lis Susanti

L0v3 You M0m...


Seorang anak menulis :

Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anak yang mendapatkan
ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur.
Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. si
ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang
dihulurkan oleh si anak dan membacanya.

OngKos upah membantu ibu:
1) Membantu Pergi Ke Warung: Rp20.000
2) Menjaga adik Rp20.000
3) Membuang sampah Rp5.000
4) Membereskan Tempat Tidur Rp10.000
5) menyiram bunga Rp15.000
6) Menyapu Halaman Rp15.000
Jumlah : Rp85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya
berbinar-binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang
kertas yang sama.

1) OngKos mengandungmu selama 9bulan- GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu -GRATIS
4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu -GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu -GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu,
memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu".Kemudian si anak mengambil
pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya: "Telah
Dibayar" .

KAMU SAYANG IBUMU????
JIKA ADA JALAN UNTUK MEMBAHAGIAKAN IBUMU .. MAUKAH ANDA MELAKUKANNYA ??

DiPili# at4U m3miL1H


Hampir jam delapan. Kukeluarkan ponselku, tidak ada pesan baru. Sudah satu jam lebih sms yang kutunggu-tunggu belum juga sampai. Mungkin nanti. Tunggu saja. Atau mungkin disini sinyalnya kurang bagus? Kucoba mengirim sms ke mba Dina, mengatakan kalau aku dalam perjalanan pulang ke Purwokerto, dan besok pagi aku sempatkan mampir ke rumahnya di Perumahan Berkoh Indah. Terkirim. Lima menit kemudian kudapatkan balasannya : OK, mba Dina tunggu ya.Berarti sinyalnya bagus.

Pukul delapan lewat sepuluh menit, bis yang saya tumpangi berangkat, pelan-pelan keluar dari terminal, seperti gajah yang berjalan lamban keluar kandang. Setelah berhasil keluar, bis-ku terus melaju melintasi jalan raya, menembus gelap malam, berputar balik di Jalan Baru, lalu masuk jalan tol. Sms yang kutunggu belum juga ada.

Di kota Jakarta yang padat ini, aku mengontrak rumah bersama seorang temanku. Kecil memang, tapi harga sewanya terjangkau dan cukup nyaman untuk ditinggali berdua. Setahun sudah aku tinggal disitu bersama Wahyu, temanku yang kukenal sejak kuliah dulu.

"Jadi hari Jum'at ini mau pulang?" tanya Wahyu dua hari yang lalu.

"Iya yu. sudah kangen sama mbok.nanti kalau Sabtu Wawan kesini, bilangin aja buku yang mau dipinjem ambil aja"

"oke Di. aku boleh nitip kripik tempe asli purwokerto nda?"

"yo wes gampang, sip. tenang ae.."

Tentang Wahyu, dia memang teman yang baik hati dan pengertian. Buatku yang sudah lama tinggal dengannya, Wahyu adalah teman dalam suka dan duka. Fisiknya memang kecil, tapi sangat percaya diri, tidak gampang down atau putus asa.

Wahyu jugalah yang membuatku kenal dengan orang-orang di daerah sini. Cara bergaulnya yang supel membuat banyak orang kenal dengannya. Karena aku paling sering bersama Wahyu, aku jadi kecipratan ikut banyak kenal orang sekitar. Aku jadi kenal dengan mas Azik yang biasa mengisi pengajian remaja, dengan Dody ketua karang taruna, dengan Nia yang mengajar TK Islam, dan banyak orang lain yang tinggal di daerahku, profesi mereka beragam, dari pegawai negeri sampai penjual mie ayam. Aku juga jadi kenal dengan seseorang yang sering kujumpai saat aku berangkat dan pulang kantor, seseorang yang selalu menyapaku dengan senyumnya. Sofi.

Bis malam yang kutumpangi kini melewati daerah UKI Cawang. Saat ini pukul 20.40, pedagang kaki lima masih semangat mangkal di trotoar, malam-malam begini mereka masih setia menunggu barangkali ada orang yang tertarik dengan dagangannya. Jakarta memang tempat mencari rupiah.

Melalui kaca kulihat mereka menjual aneka sepatu kulit yang kelihatannya masih bagus, bermacam-macam tas wanita, CD-CD lagu populer, pakaian, dan ada juga perkakas berat seperti tang, palu, dan obeng. Sms yang benar-benar kutunggu belum ada juga. Kutaruh ponselku di saku jaket. Aku merasa gelisah, kenapa belum juga sms itu datang. Dinginnya AC tak lagi terasa, tertelan oleh rasa gundahku sendiri.

Setelah beberapa lama, akhirnya bisa juga bis besar ini melewati macetnya jalan di dekat UKI, lalu kembali masuk ke jalan tol.

"Kenal Nila kan Di? yang rumahnya di gang Abah, sebelah warung bu Meideh." tanya Sofi sebulan yang lalu. Kami bertemu tak terduga di suatu sore, saat kami sama-sama pulang kerja.

"mm. yang mana ya? Apa yang agak tinggi itu yah?" aku pura-pura menebak-nebak. Padahal aku tahu Nila.

"iya. Kantornya cukup dekat denganku. Biasanya kami bareng, tapi hari ini sepertinya dia ngga masuk."

"oh." jawabku singkat sebelum aku mengucapkan sampai jumpa di dekat rumahnya. Kontrakanku masih agak jauh masuk ke dalam gang.

Begitulah beberapa kali perbincanganku dengan Sofi, biasanya di sore hari saat aku pulang kerja, itu juga kalau aku tidak ada kerjaan lemburan. Kalau ada kerjaan tambahan pasti aku pulang malam. Di pagi hari Sofi berangkat agak siang, tapi sering ia terlihat duduk di kursi teras di depan rumahnya. Kalau aku tidak buru-buru biasanya kami sempat mengobrol sebentar. Dibatasi oleh pagar coklat yang mengelilingi taman bunganya, kami seperti sama-sama menikmati sejuknya embun pagi yang menetes dari daun jambu. Pernah suatu kali ia menawari aku kue nastar, katanya kemarin ia buat sendiri. Rasanya manis.

Bis besar yang kutumpangi melesat tanpa hambatan di jalan tol di daerah Cikarang. Di sebelah kanan dan kiriku terhampar tanah luas, diantaranya berdiri pabrik-pabrik, bentuknya hanya gedung-gedung satu lantai yang punya halaman dan pekarangan sangat luas. Di jembatan penyeberangan banyak terpampang reklame produk elektronik dan ucapan selamat datang di kawasan industri Jababeka.

Mobil-mobil sedan berwarna silver dan biru 'terbang' meninggalkan bis-ku. Dari balik awan tipis yang melapisi angkasa, bulan bulat sempurna menampakkan keindahannya. Sepertinya, rembulan yang berkilau itu selalu mengiringi kemanapun aku pergi.

Aku bosan menunggu sms, kucoba saja untuk tidur, memejamkan mata sambil bersandar di kursi. Sekarang jam sembilan lewat dua puluh menit. Kucoba menghalau perasaan gelisahku. Mungkin memang tidak malam ini. Malam yang pekat, mungkinkah kau menyimpan satu rahasia? Jangan biarkan aku gelisah sendirian. Temani aku dengan sepimu. Tenangkan aku dengan gulitamu. Biarkan dinginmu merasuk menyegarkan jiwaku. Bulan yang cantik, nyanyikan aku sebuah lagu pengantar tidur.

"Jadi sebaiknya gimana?"

Wahyu diam sejenak, sepertinya berpikir sesuatu. Aku menunggu jawabannya sambil berbaring menatap langit-langit kamar.

"Kalo kamu udah mantap, ya udah nikah aja Di. toh kamu udah punya kerjaan tetap. Kakakmu udah berkeluarga semua"

Aku diam. Masih melihat langit-langit.

"Tapi gajiku ngga seberapa yu. apa dia bakal mau?"

"Di. rizki itu udah ada yang ngatur. Kayak ga pernah mbahas surat AnNur aja. Inget, jika mereka miskin, Allah akan mengayakan mereka dengan karunia-Nya"

Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Hari-hari yang kulalui besoknya, lebih banyak kugunakan untuk merenung. Lamunan-lamunan panjang itu, kadang tak berujung dan tak berbuah kesimpulan. Namun, semakin aku berfikir, makin aku mempunyai sebuah kemauan. Angin musim hujan telah meniup semua keraguan dan menghembuskan semua ketakutan yang ada dalam hatiku.

"Sofi, ada seseorang yang ingin menikah denganmu." Ucapku melalui telepon disuatu malam.

Ia terdiam sejenak. Sepertinya kaget.

"eeh. ini serius Di?" suaranya masih seperti biasanya.

"iya serius. Dia ingin menikah denganmu"

"mm. siapa Di?"

"Aku. Mau ngga nikah denganku?" Seperti antara sadar dan tidak aku mengatakannya. Seperti telah hilang semua rasa takut dalam jiwaku.

"Kamu ga perlu ngasih jawaban sekarang." aku buru-buru menambahkan.

"okay mmm. gimana kalau aku telfon kamu hari Jumat malem?" kata Sofi.

Jumat malam? Wah. Jumat malam kan. gimana ya?

"Jumat malem ya? kalau sms aja fi. bisa?"

"Oh, baik kalo gitu, Jumat malem ku-sms yah."

Bis yang kutumpangi entah sampai dimana. Aku mencoba lagi untuk tidur ketika tiba-tiba kudengar dering sms dari HP-ku. Pohon-pohon yang berderet di kanan-kiri dan jalan raya yang tidak terlalu lebar membuatku mulai merasakan suasana luar-kota Jakarta. Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk metropolitan. Bulan bulat sempurna masih setia menemaniku diatas sana.

Jantungku berdebar-debar, gelisah yang mendera begitu terasa hingga aku seperti dapat merasakan darah yang mengalir di seluruh tubuhku. Agak gemetar kubuka inbox di ponselku.

From:Hendra. "Ass, besok Senin jangan lupa emailkan perkembangan terakhir kegiatan kita. Oya, oleh-olehnya jgn lupa ya."

Ah ternyata cuma Hendra. Uuh bikin kaget aja. Ngga tau apa orang lagi nunggu sms penting. biarin, kubalas saja,

To : Hendra."insya Allah, jazakallah"

Hehe, emang enak dibales gitu doang. Paling-paling dia ngedumel sendiri. Tak Sampai lima menit kemudian kudengar dering sms balasan dari Hendra. Segera saja kubuka, masih sambil nyengir penasaran gimana kira-kira Hendra bakal protes dengan sms jawabanku.

Ups, ternyata bukan dari Hendra. Pesan itu datang begitu mengagetkan hingga aku perlu membaca dua kali agar otakku bisa mengolah informasi dalam pesan itu.

From:Sofi. "Ass. Di, aku begitu menyukaimu sebagai temanku. Tapi aku tidak bisa menerima permintaanmu. Maaf ya Di, aku masih ingin melanjutkan kuliah ke S1. Saat ini, aku takut kehilanganmu sebagai temanku. Kuharap kau tetap seperti yang kukenal. kamu layak mendapat yg jauh lebih baik dari aku Di.. tak perlu sedih dengan keadaan ini."

Kututup ponselku. Berbagai pikiran berkelebat dalam kepalaku. Tiba-tiba semua terasa menyesakkan, dan tiba-tiba dingin terasa menusuk sampai tulang-tulangku. Kupejamkan mata dan kueratkan jaketku untuk mengusir rasa dingin dan sepi ini.

"yu, kalau misalnya dia ngga nerima gimana?" tanyaku.

"maksudmu ditolak?" kata Wahyu, sambil sedikit tertawa.

"Tenang aja Di. kalau misalnya ditolak, kamu ngga sendirian kok."

"maksudnya?" tanyaku bingung.

"Ya. buat laki-laki ditolak itu hal yang wajar. Banyak laki-laki merasakannya."

Wahyu berhenti sejenak.

"Hidup adalah sebuah pilihan Di. hidup itu kebebasan untuk memilih dan memilah. Tapi kamu juga harus menyadari, kita hidup dengan konsekuensi. Bebas memilih tidak membuat manusia bebas dari konsekuensi "

"Jika kamu memilih untuk mengajaknya menikah, konsekuensinya kamu harus menerima resiko terburuk, yaitu ditolak. Cuma ditolak Di.. Lalu, jika kamu memilih untuk tidak berani melamarnya, kamu juga menerima konsekuensi, perasaannya padamu tetap menjadi rahasia, padahal bisa jadi dia menerima loh."

"Sebagai laki-laki Di.. sebaiknya kita berani. Laki-laki sejati tidak takut ditolak. Hanya laki-laki penakut yang tak pernah berusaha mewujudkan hasrat hatinya."

"Banyak contoh orang ditolak."

"Siapa misalnya?" tanyaku penasaran.

"Ya saya. sudah tiga kali ditolak hehehe" Wahyu tertawa.

Aku jadi tersenyum sendiri mengingat tawa ceria teman satu kontrakanku itu. Rasa sesak dalam dadaku sedikit berkurang.

"Mungkin terlalu tinggi kali yu, sampe ditolak 3 kali." kataku polos.

"Mungkin Di. tapi untuk yang terakhir, sebelum aku melamarnya, aku sudah bertanya pada tiga orang temanku, apakah standar atau tidak dia denganku. Dan sama seperti perasaanku, mereka juga bilang aku cukup se-level dengannya."

"Lalu?" tanyaku.

"Ya, begitulah Di.. perempuan juga punya hak untuk tidak menerima. Seperti kita yang juga punya hak untuk memilih."

"iya. Bener juga ya yu."

"Tapi kuharap tidak banyak yang demikian Di. aku melihat beberapa orang laki-laki yang setelah gagal dalam proses membina rumah tangga, entah ditolak atau orangtuanya tidak setuju, tapi sikap mereka menjadi berbeda sama sekali."

"Ada yang jadi sensitif, sedikit kasar, banyak juga yang tidak lagi produktif, lebih banyak murung, ya jadi beda lah. makanya aku berharap banyak pada perempuan, sedikit nrimo."

Kukeluarkan ponselku, kubalas sms Sofi, mengatakan aku baik-baik saja dan mencoba untuk bersikap sama dengan kemarin, tetap menjadi teman. Aku juga mengabarkan padanya aku dalam perjalanan pulang ke kampung halaman.

Sang rembulan cepat berlalu mengusir malam, dan mentari kembali menggeser gulita, bertahta di singgasananya, menciptakan pagi yang benderang. Pukul tujuh aku sampai di depan rumah.

Ibu menyambut kepulanganku dengan segelas teh manis hangat. Teh tubruk pekat khas buatan ibu. Semua kegundahan dan rasa sedihku telah kubuang jauh-jauh. Kupasang muka ceria demi sang ibu tercinta. Bunda yang akan selalu kuberikan kehangatan yang kupunya.

"Loh kok mukanya dilipet begitu?" tanya ibu. Ternyata ibu masih bisa membaca perasaanku, betapapun telah kupaksa bersikap ceria didepannya. Ah ibu, bundaku yang selalu menyayangiku. Aku menyandarkan kepalaku di pangkuannya. Ibu membelai lembut rambutku. Sebagai anak terakhir, aku memang sering dibilang paling manja. Tapi biarlah, dari dulu memang begitu.

Air mataku meleleh membasahi pakaian ibuku. Meskipun manja, biasanya aku tak pernah menangis. Saat ini, kubiarkan saja air mata itu jatuh. Kubiarkan saja. Kurasakan belaian bundaku begitu hangat.

"Loh loh loh. kenapa? Kok malah nangis?"

judul cerpen: sketsa rembulan jingga
FLP 2005; oleh : Wahyu Yuliadi

Senin, 24 Maret 2008

D0'a C1nT@....

hari ini aku jadi teringat tentang bahasan liqo'at kemaren sore...boleh ku ceritakan ya...menurutku, ini bahasan yang seru banget....
"bi... ada seorang lelaki yang datang kepadaku... dia menanyakan apakah aku mau menjadi pendampingnya...tapi bi... beliau belum mengaji..."curhat seorang temen akhwat, saat liqo' kemaren sore.
"memangnya, kamu suka dengan dia?" tanya abi balik.
si akhwat hanya tersenyum-senyum saja. ia tampak malu ingin menjawab pertanyaan abi saat itu. mungkin masih 50:50...namun, abi paham dengan gelagatnya.
"ya...kalau dia belum mengaji...maka ajaklah dia agar bisa ikut mengaji terlebih dahulu. bukankah kita ingin mendapat pasangan yang dengannya, kita semakin dekat kepada Allah??"jalas abi perlahan.
"jika dia memang serius padamu dan ikhlas karena Allah...insyaAllah, dia akan bersedia. bukankah para lelaki itu adalah pemimpin bagi isteriya? jika dia tak memiliki ilmu yang baik terhadap Allah dan Islam, lalu ke jalan mana kira-kira ia membimbingmu dan anak-anakmu?"lanjut abi, masih dengan nada suaranya yang lembut.
"ingat firman Allah: sesungguhnya lelaki yang baik itu adalah untuk wanita yang baik-baik. dan sebaliknya, wanita yang baik-baik adalah untuk lelaki yang baik pula. jadi tak perlu ragu...." abi meneruskan nasihatnya. kami yang hadir, turut pula serius mendengarkan nasihat abi. ustadz liqo'at kami. dan memang begitulah kami menyapa beliau, sudah seperti ayah kedua setelah ayah kandung...
"bismillah...bicaralah dengannya secara baik-baik. kalau perlu, mintalah ia untuk menghadap abi, ya..."nasihat abi menutup bahasannya. sudah waktunya ashar, liqo' pun di rehat....
maka dalam sholat ashar itu, dalam hati terpanjat do'a....

Senin, 17 Maret 2008

"C3rMiN Dir1"


karya: Abdullah Gymnastiar

tatkala kudatangi sebuah cermin

tampak sesosok wajah yang telah kukenal

dan sangat sering kulihat,

namun aneh sesungguhnya aku belum mengenal siapa yang kulihat

tatkala kutatap wajah…hatiku bertanya

apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya…bersinar di surga sana

ataukah wajah ini yang akan hangus legam di neraka Jahannam

tatkala ku tatap mata…nanar hatiku bertanya

mata inikah yang akan menatap penuh kelezatan dan kerinduan

menatap Allah…menatap Rasulullah…menatap kekasih-kekasih Allah kelak

ataukah mata ini yang akan terbeliak…melotot…

menganga…raih menatap neraka Jahannam

akankah mata penuh maksiat ini akan menyelamatkan

wahai mata…apa gerangan yang kau tatap selama ini

tatkala ku tatap mulut

apakah mulut ini yang akan mendesah penuh kerinduan

mengucap Laa Ilaaha Illallaah… saat sakaratul maut menjemput

ataukah menjadi mulut menganga dengan lidah menjulur

dengan lengking jeritan pilu

yang akan mencopot sendi-sendi pendengar

ataukah mulut ini menjadi pemakan buah jakun Jahannam

yang getir penghangus…penghancur setiap usus

apakah gerangan yang engkau ucapkan wahai…mulut yang malang

berapa banyak dusta yang kau ucapkan

berapa banyak hati yang remuk

dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam

berapa banyak kata-kata manis semanis madu

yang palsu yang kau ucapkan untuk menipu

betapa jarang kau jujur

betapa langkanya engkau syahdu memohon agar Tuhan mengampunimu

tatkala ku tatap tubuhku

apakah tubuh ini kelak yang akan penuh cahaya

bersinar…bersuka cita…bercengkrama di syurga

atau tubuh yang akan tercabik-cabik

hancur…mendidih di dalam lahar membara…terpasung tanpa ampun

derita yang tak pernah berakhir

wahai tubuh…berapa maksiat yang engkau lakukan

berapa banyak orang-orang yang kau dzalimi dengan tubuhmu

berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah

yang kau tindas dengan kekuatanmu

berapa banyak peri pertolongan yang kau acuhkan padahal engkau mampu…

berapa banyak hak-hak yang kau rampas wahai…tubuh

seperti apa gerangan isi hatimu

apakah isi hatimu sebgaus kata-katamu

atau sekotor daki-daki yang melekat ditubuhmu

apakah hatimu segagah ototmu

atau selemah daun-daun yang mudah rontok

apakah hatimu seindah penampilanmu

atau sebusuk kotoran-kotoranmu

betapa beda…betapa beda

apa yang tampak di cermin dengan apa yang tersembunyi

aku…aku telah tertipu…aku tertipu oleh topeng

betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng

hanyalah topeng belaka

betapa yang pujian terhambur hanyalah memuji topeng

betapa yang indah hanyalah topeng

sedangkan aku…hanya seonggok sampah busuk yang terbungkus

aku tertipu…aku malu ya Allah…aku malu

Allah…selamatkan aku ya Allah

Allah…selamatkan aku…selamatkan aku

Aamin yaa Robbal ‘alamin

#Samarinda, 15 Maret ’08 (10.36 am)

Khansa Asy-syifa

Muhasabah 21 tahun…

Semoga Allah SWT senentiasa memberkahi dan menyelamatkan

Aamin…

Senin, 10 Maret 2008



Maka gemuruhlah Makkah dan Madinah

Oleh lantunan takbir dan talbiyah,

Ketika sunyi membungkam Roma dan Konstantinopel

Dalam kekakuan dogma.

Maka hangatlah diskusi-diskusi di Bashrah dan Kufah,

Saat Genoa dan Venesia di hantui inkuisisi.

Maka bersinarlah perpustakaan Kairo,

Ketika para dukun komat-kamit di kegelapan Lissabon.

Maka gemerlaplah Baghdad oleh lantunan ayat di semarak malam,

Ketika Paris gulita sejak senja dalam takhayul dan mitos.

Maka gemericiklah air mancur Damaskus dalam kesucian thaharah.

Ketika para ‘bangsawan’ di London

Menganggap mandi adalah aktivitas berbahaya.

Maka berdengunglah ayat-ayat Allah menjelang buka puasa

Dengan sajian kurma, yoghurt, serta buah segar

Di balkon-balkon pualam Cordoba dan Granada,

Saat Kathedral di Wina dan Bern menutup makan malam

Dengan pudding darah babi.

(disadur dari buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim karya Salim A. Fillah)

Rabu, 05 Maret 2008

LaHirKaN 63neRa5! RaBbaN1


“assalamualaikum.....

cuma mo ngasih tau , ukhti ayu udah melahirkan dengan selamat hari sabtu , jam 01:30, anaknya laki-laki(kaya' gagah seperti bapaknya). bayinya udah di kasih nama, namanya ABDULLAH KHAIRUL AZZAM, saya sempat kaget dengar nama itu, bagus banget, trus juga itu kan nama tokoh utama dalam novelnya "ketika cinta bertasbih 1&2" karangan Habiburrahman Elsirazy. saya senang banget arsyad kasih nama itu, biar nanti dia saya panggil azzam. haa... ha..ha.. saya senang banget hari vyn...”.

Wa….saya pun senangnya tak kepalang, menyambut kabar kelahiran si adik bayi dari email yang dikirim temen baik saya itu. Setelah hamper 2 pekan lalu, keluarga besar yayasan pengajian kami kehilangan seorang generasi mujahid mudanya. Kini Allah SWT mendatangkan ganti sang calon mujahid kecil. Memang adik kecil yang berpulang itu, tentulah takkan tergantikan. Dia satu-satunya. Namun maksudnya, Allah kembalikan seorang mujahid kecil kembali padaNya, dan kini Allah pun akan bersegera mendatangkan kepada kami 1000 calon mujahid kecil lainnya. Allahu Akbar… pasalnya, memang beberapa ummahat dalam waktu yang nyaris berdekatan akan segera melahirkan. Aku jadi teringat tentang janji Allah SWT akan suatu generasi Rabbani. namun sebelum kita bahas itu, boleh saya ajak antum sekalian untuk memaknai kelahiran dulu ya…seperti dalam ayat berikut:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging,

dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang,

lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.

Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.

Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”

(QS. 23: 13-14)

Maha benar Allah dengan segala firmanNya…

Jika kita mau memaknai arti diri kita sendiri, ternyata dari surah tersebut diatas noh… kita ga da apa-apanya ya… bahkan di akui atau di ingkari, kita tuh hanya seonggok tanah yang di bentuk sedemikian rupa oleh Allah Rabb sang Pencipta. Bahkan nih ya…asal muasal kejadian kita tuh ternyata dari saripati tanah yang kemudian di jadikan air mani. Allahu Akbar…segitu kerdilnya kita ternyata.

Tapi…mbo ya ko muaasssiiihhh….buuaaannnyyyaakkk bener manusia-manusia yang menyombongkan dirinya di dunia ini. Tak ayal dan tak sedikit manusia yang men”dewa”kan dirinya. Misalnya nih ya… ketika seseorang meraih sukses dalam hidupnya (sukses duniawi nih umumnya), dengan PD yang teramat sangat orang tersebut malah merasa bahwa semua kesuksesan (duniawi) itu adalah hasil jerih payahnya sendiri aja tuh, bahkan yang lebih ngerriiii lagi apabila di kala susah Allah SWT mengujinya dengan menahan sejenak hajatnya akan kemajuan atau kesuksesannya itu, sehingga ia merasa Allah itu ga adil n bahkan ga ada. Kemudian saat jayanya tiba, ia lantas berasumsi kalo semua itu tanpa campur tangan Allah SWT…hiii…na’udzubillah ya…

Padahal jika kita mengetahui asal muasal kita tuh ya… rasanya ya muana puantes makhluk selemah kita ini mo menyombongkan diri di bumi Allah, lha wong tinggal di bumi aja numpang ya tho??bahkan yang paling bikin ga pantes tuh, tiap desah nafas kita aja masih ngarep dari Allah, bener kan??...dan adalah Allah Maha Kuasa untuk melengserkan kita dari muka bumiNya dengan sangat mudahnya. Seperti firman Allah SWT berikut: Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS.5: 54)

Dari ayat ini, jelas banget lo Allah SWT akan dengan mudahnya menggantikan kita-kita yang ingkar, sombong, bahkan berpaling dari pembelaan terhadap Islam dan penegakan syari’atNya atau kembali kepada kebathilan setelah mendapat kebenaran, yang merupakan makna lain dari kata murtad. Dengan generasi Rabbani, yakni generasi yang Allah SWT mencintai mereka dan merekapun begitu cintanya kepada Allah SWT.

Sok atuh…. kita mulai kerdilkan kesombongan kita terhadap apa-apa yang Allah berikan kepada kita di dunia ini, bahkan kesombongan kita terhadap Allah SWT itu sendiri, dan secara tegasnya “yuk..jangan sampai kita termasuk golongan ashabul murtadin. Teruss…kita mulai deh mebangun dan membentuk diri menjadi generasi Rabbani yang kriterianya sebagai berikut (QS. 5: 54):

1. mereka itu bersikap lemah lembut dan rendah hati pada orang-orang mukmin (… yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin…). Yang mana orang-orang mukmin itu adalah mereka yang menjadikan Allah SWT, rosulNya dan orang-orang yang beriman sebagai penolong bagi mereka (liat lagi QS. 5: 55 ya..)

2. bersikap keras terhadap kaum kuffar (…yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir..). Artinya, mereka itu tegas terhadap mereka. Kata keras disini, jangan lantas di maknai dengan bersikap kasar ya… beda lho… keras ma kasar tuh…kaji juga nih maknanya dari kamus- kamus kebahasaan. Ya…

3. yang mereka itu berjihad di jalan Allah (…yang berjihad dijalan Allah…). Ada banyak ragam jihad lho ternyata, ga cuman sebatas turut berperang ke Palestina aja (tapi itu juga tetep salah satunya kok). Nilai jihad lain seperti: saat antum hendak pergi ngaji misalnya, trus terjadi suatu musibah yang menimpa antum di pertengahan jalan, maka niat hati n perjalanan antum yang tertahan itu juga dah dapet nilai jihad lho… Subhanallah ya… tentang jihad, bisa antum kaji lebih lanjut di beberapa referensi lain. Saya belum pantas membahas lebih banyak.

4. mereka itu tidak takut akan celaan dari orang-orang yang gemar mencela (… dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela…). Yang ini contoh paling kecilnya, saat antum (dari pihak ikhwan) di ledekin tuh ma temen-temen sebagai seorang yang kekurangan kain atau kebanjiran di tiap musim, coz mereka melihat celana antum yang cingkrang. Atau dibilang kayak (maaf) kambing, karena jenggot antum yang menawan (cieeyy…apaan nieh??) atau kalo di akhwat, biasanya orang-orang suka ngeledekin tuh… “eh..ada gulungan kain mo lewat” saat anti mengenakan jilbab besar nan lebar n jubah tergerai menutup kaki. Atau “awas..ninja mendekat tuh…kabuurrr….” ketika anti mengenakan cadar misalnya. Maka kamu harus pandai-pandai menyikapi mereka. Setidaknya maklumilah, karena celaan mereka tuh bukti nyata bahwa mereka belum punya ilmunya…

Demikian lah kriterianya para generasi Rabbani, susah-susah gampang. Walau biasanya banyakan susahnya, tapi Allah punya imbalan lho…buat kita-kita yang senantiasa berusaha menjelmakan criteria tersebut pada diri kita. Apaan ya…??? Yakni berupa karunia terbesar yang Allah SWT berikan kepada kita, berupa KEMENANGAN. Firman Allah SWT :

“Dan barangsiapa mengambil Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS. 5: 56)

dan firmanNya dalam ayat lainnya:

“ Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang Kuat (banyak). Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (QS. 48:1-4)

Subhanallah…begitu banyaknya ya imbalan yang Allah SWT janjikan untuk kita. Ga tanggung-tanggung....apalagi pada janji Allah SWT di surah 48: 1-4 itu, siapa hamba yang ga ngiler coba. Itu kalo kamu mo masuk dalam barisan para generasi Rabbani tadi. Ya..kan..ya..dong…benerkan…bener dong… dan yang bikin tambah ngeh nih ya…janji Allah itu pan selalu bener. Ga ada bo’ongannya deh.. Pasti gitu lho…

Trusss…siapa nih yang pada siap berlomba n berkompetisi tuk mampu mejadikan dirinya sebagai generasi Rabbani (antum kah??? )…sok atuh…basmalah n… let’s start….

#samarinda, 01 maret ’08. (08.21pm)

Khansa_asysyifa

Saat memaknai kelahiran para penerus generasi…

ABDULLAH KHAIRUL AZZAM (putra pasangan M. Arsyad &Ayu Astria)

NADA SAHLA SYAHIDAH (putri pasangan Riyan &Hema)

Barokallahu…