
Demi memanfaatkan waktu, selama perjalanan menuju kampus, sekitar 30 menit. Aku sempatkan membaca beberapa bahan materi ujian dari makalah teman2 yang telah di presentasikan sebelumnya. Ya…lumayanlah, walaupun hanya dapat sekedar membaca seadanya materi. Setidaknya aku paham sedikit. Dan siap tak siap quiz pagi ini harus dijalani.
Setibanya di kelas. Aku masih berat mengatur nafas. Alhamdulillah aku tak terlambat. Sebelum sang dosen terlihat ‘penampakannya’ dalam hati aku sempat berharap “ya Alloh…semoga hari ini bapak ga hadir trus ga jadi ujian deh…”. Ada2 saja, ketahuan banget lo ga siap ujian, hehehe….tapi ternyata harapan serupa tak hanya terpanjat dari hatiku sendiri. Beberapa teman pun salaing berbincang dengan harapan yang demikian.
Namun, sayang harapan sirna saat sang dosen mulai tampak di depan pintu. Hari ini beliau hanya membawa map absensi saja. Sudah jelas itu artinya kita akan tetap Quiz…so, Bismillah….ku panjat do’a dalam hati. “mudahkan ya Alloh…”. Dan pak dosen pun ternyata hari ini hanya mengeluarkan 1 soal saja yang perlu dijelaskan. Soal ini menilai sejauh mana pemahaman kami akan mata kuliah yang beliau pandu. Alhamdulillah….ini soal yang cukup mudah bagiku.
Selama 1 jam bergelut memerah otak dalam quiz. Akhirnya selesai juga. Teman2 segera meninggalkan kelas, beberapa ada yang menuju kantin, memnuhi hak si perut.
Seorang adik datang dan masuk ke dalam kelas. Jika saya mengira-ngira, mungkin usianya sekitar 11tahun. Awalnya diantara kami ada yang tak mengerti ucapannya saat masuk. Karena jujur, logat bahasanya sungguh beda, jenis suaranya pun begitu khas. Saya bahkan belum pernah dengar yang seperti dia. Ia pun duduk di salah satu kursi temen2 putra. Dan berkata “mba… ada yang mau semir sepatu kah?” ya begitulah kira-kira. Kebetulan yang tersisa di dalam kelas hanya tinggal kami saja.
“sebaiknya di tawarkan ke ruang dosen saja dek…” seorang diantara kami memberi saran.
“ dosen tuh apa sih mba?” ternyata dia tak mengerti.
“ dosen itu artinya guru” kali ini Rusla angkat bicara.
“ ooo…memangnya dimana itu (ruang guru_red)” tanyanya lagi.
“ di gedung sebelah
“ ooo…sudah tadi saya kesana, nyemirkan sepatu sampai sepuluh.” Jawabnya.
“ wa…Alhamdulillah.. kalo begitu.. kalau di ruang dosen yang sebelah sini?” Eni menwarkan seraya menunjukkan ruang dosen lain, di gedung sebelah kiri bangunan kelas kami.
“ sudah juga. Saya sudah keliling tadi.” Jawabnya dengan senyum dan mimic wajah yang tampak ceria dan begitu khas.
Saying, kami tak bias memanfaatkan jasanya. Soalnya, kebetulan diantara kami tidak ada yang mengenakan sepatu dari bahan kulit. Yang cocok untuk disemir. Karna bingung, kami sempat saling sibuk kembali dengan urusan masing-masing. Dan sementara itu, ternyata si adik penyemir sepatu itupun bersenandung. Dia menyanyikan lagu dangdut. Buuusyyeeetttt… perhatian kami kembali padanya.
“ suka nyanyi ya? Suaranya bagus juga” celetuk seorang teman
“ hehehe…iya mba, tapi saya bisanya Cuma lagu dangdut. Yang lain, saya ga bias” jelasnya malu-malu (tapi mau…)
“ suaranya bagus, kenapa ga ikut dangdut mania kah gitu?” Eni menawarkan. Sementara itu, si penyemir sepatu hanya tertawa saja. Entah apa jawabannya saat itu, aku tak begitu memperhatikan. Aku masih sesekali sibuk dengan ponselku.
“ mba mau kunyanyikan lagunya Rhoma Irama kah?” ia menawarkan pada kami.
“ wah…iya..iya…boleh…” sahut Putri.
Dan adik itu pun kembali bersenandung. Suaranya beneran bagus. Tapi karna rada malu-malu mau, nyanyinya jadi sepotong-sepotong. Lucu juga dia nih…
Tiba-tiba ada salah seorang teman yang bertanya “ kamu muslim kah?”
“ iya mba… saya baru saja masuk Islam. Baru 2 bulan lebih.” Begitu katanya kalau tidak salah. Hmmm…ternyata dia cukup terbuka. Walaupun kami tak mengenalnya, tapi ia mau saja berbagi cerita. Dari sini, keingintahuan tentangnya pun semakin besar.
“ oya, memangnya kamu orang mana sih?” Tanya Putri.
“ saya dari
“ trus kok bias ke samarinda ikut siapa? Sama keluarga kah? Sama kakak atau adik?” Tanya teman yang lain lagi. Aku tak pernah memperhatikan siapa yang bertanya, aku lebih tertarik dengan ceritanya si penyemir sepatu itu. Dan maaf lagi, aku tak tahu namanya.
“ waktu itu saya ikut kapal. Saya anak tunggal. Ga punya sodara” jawabnya singkat.
“ trus disini kamu tinggal dimana?” lanjut temanku bertanya
“ disini saya nge-kost. Saya nyemir buat bayar uang kost” jawabanya, tetap dengan mimic wajahnya yang ceria. Selama bercerita tak pernah sedikit pun ia menampakkan ekspresi wajah sedih atau mengiba.
“ berapa biaya uang kost-nya?” Rusla kembali bertanya.
“ seratus
“ oya, trus kenapa kamu jadi masuk Islam?” Tanya Eni.
“ waktu itu, saya ketemu seorang bapak-bapak. Dia nanya ke saya, katanya ‘ kenapa kamu menyembah yesus? Dia itukan hanya nabi, bukan Tuhan?’. Gitu mba, trus saya mikir, iya juga. Tuhan kok mati sih?” jawabnya polos.
saya bersyahadat di masjid Darussalam. Waktu itu sampai 3 kali mengucapkan syahadat, baru bias masuk Islam” ujarnya. Merinding saya mendengar ceritanya di sesi ini. Seolah berujar dalam hati “ Baarokallah ya dek…selamat bergabung dalam barisan, semoga tetap istiqomah dalam kebenaran”
“ waktu saya dulu ke gereja, pendetanya pernah berpidato begini. ‘ rasakanlah kehadiran Yesus dalam dirimu…’. Padahalkan Yesus sudah mati, makamnya saja masih ada di Yerussalem” lanjutnya bercerita sembari tertawa. Ia malah geli sendiri mengingat hal itu. Kami pun jadi turut tertawa bersamanya.
“Allahu Akbar…. Mudahnya Engaku memberi hidayah padanya ya Robb…” gumamku lagi dalam hati. Aku hanyut dalam kekagumanku akan kuasa Alloh SWT dari cerita adik penyemir sepatu itu. Tak hanya aku, saat dia bercerita demikian, teman2 yang lain pun berdecak kagum memuji Alloh SWT. Robb kami, Robb seluruh alam semesta ini.
“ dek... kamu sekolah sudah kelas berapa?” Tanya Eni lagi.
“ saya ga pernah sekolah dari kecil. Orangtua saya ga punya biaya-nya mba..” jawabnya. Namun ia menjawabnya tetap dengan senyum khas di wajahnya itu.
“ memangnya kamu bercita-cita jadi apa?” Tanya yang lain.
Hehehe… maaf lagi, saya malah lupa jawabannya waktu itu apa.. penulis cerita yang payah nih, saya…
“ saya dengar, katanya ada sekolah gratis disini ya mba? Dimana itu?” kali ini dia balik bertanya. Sepertinya, keinginannya untuk bersekolah cukup besar.
“ iya, ada di tenggarong” jawab Rusla.
“ wa… jauhnya ya…” sahut sang adik penyemir sepatu.
“ di Bontang juga ada” tambah Rusla.
Yeee….yang di Tenggarong saja, dia sudah kejauhan. Apalagi yang di Bontang….piye tho mba???? Ada-ada saja nih.
Tak terasa waktu berlalu, seru banget mendengarkan cerita adik penyemir itu. Namun saying, kami tak bias berbincang lebih lama dengannya. Dia harus kembali mengitari kampus, menjemput rezeki. “ saya pergi dulu ya mba… Assalamu’alaikum..” si adik penyemir sepatu itu pun berpamit. Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarokatuh...senang bisa mendengar ceritamu dek…semoga tetap berada dalam keadaan sebagai muslim, hingga akhir hayat, Baarokallah… aamin..
# Samarinda, 10 Juni ‘08
khansa_asysyifa
sepekan setelah pertemuan denganmu dek…
Ke3p 15tiQ0maH yaaaa

0 komentar:
Poskan Komentar