
Mungkin saat kita berbicara tentang cinta lokasi (cinlok), mengingatkan kita pada suatu acara reality show yang dihadirkan salah satu stasiun televisi
Tapi insya Allah pada tulisan kali ini, kita tidak akan membahas cinlok versi tersebut. Melainkan cinlok versi aktifis dakawah. Ups!!!
Maka, Maha Besar Allah dan segala puji bagiNya yang telah menciptakan manusia dengan berpasang-pasangan. Laki-laki dan perempuan. Sebagaimana firmanNya, "Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan daripadanya Ia ciptakan isterinya..." (QS. 4 : 1). "Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan." (QS. 78 : 8), dan seperti yang disabdakan pula oleh RasulNya, "Sesungguhnya wanita adalah belahan tak terpisah dari laki-laki." (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).
Dan Allah SWT menciptakan laki-laki dan perempuan dengan masing-masing keunikannya untuk saling melengkapi satu sama lain. Dan karena itulah Allah yang Maha Pencinta ini pun menganugerahkan rasa kasih sayang dan cinta serta ketertarikan di antara keduanya. Sebagaimana difirmankan dalam kitabNya yang mulia, "Dijadikan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini (syahwat) dari wanita-wanita, anak-anak, dan harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan Allah, di sisiNyalah sebaik-baik tempat kembali." (QS. 3 : 14).
Cinlok (cinta lokasi), ternyata memang kerap kali terjadi di kalangan aktifis dakwah. Karena itu, cinlok bukan lagi istilah yang hanya digunakan bagi para aktris dan aktor yang saling kepincut sejak bertemu di lokasi syuting. Dari beberapa responden yang tentu saja adalah para aktifis dakwah pun tak mengelak untuk mengakui bahwa beberapa di antara mereka pernah mengalami hal ini. Bahkan salah satu responden akhwat yang berpartisipasi menyatakan, "Apabila dipersentasekan, maka kemungkinan terjadinya cinlok di kalangan aktifis berkisar pada angka 50 s/d 90 persen."
Lalu mengapa cinlok bisa hadir pula di antara para aktifis dakwah ini? Banyak hal yang melatarbelakangi kemunculan cinlok. Salah satunya adalah besarnya frekwensi pertemuan dan perbincangan di antara mereka. Entah dalam rapat, majelis, kebersamaan dalam suatu kepengurusan, dan sebagainya. Karena itu seorang akhi pun mengingatkan bahwa, "Interaksi yang terlalu sering terjadi di antara 2 jenis ini (ikhwan dan akhwat, red) akan berdampak munculnya 'rasa-rasa' tersebut (ketertarikan, perhatian, bahkan cinlok)."
Kehadiran 'rasa-rasa' tersebut memang merupakan hal yang wajar, lumrah, bahkan memang sudah ada dari sananya alias fitrah manusia. Namun akan kurang pas jika ternyata para aktifis dakwah justru turut pula bergelut di kegiatan para pengumbar cinta yang tidak atau belum halal bagi mereka. Ikhwah lain yang memiliki pengalaman pribadi tentang cinlok mengungkapkan, "Biasanya mereka (ikhwan-akhwat yang terjerat cinlok) kurang atau perlu waktu lebih lama untuk menyadari kealfaan tersebut, kecuali jika 'hubungan gelap' itu telah diketahui oleh ikhwah lainnya (ada yang mengingatkan), sehingga indikator-indikator di dalamnya pun kerap bersambut."
Karena kegiatan cinlok terjadi di lembaga atau organisasi dakwah, maka untuk melindungi cinlok, para aktifis pun mengangkat dalih untuk kepentingan dakwah sebagai background-nya.
Sebenarnya cukup mudah untuk mengenali indikator-indikator munculnya virus-virus cinlok. Karena indikator-indikator ini tidak jauh beda dengan yang terjadi di kalangan umum. Mulai dari besarnya rasa ingin tau segala sesuatu tentang si dia hingga mengalirnya perhatian-perhatian khusus tentang masalah-masalah pribadi si dia untuk tetap mendapatkan simpatinya.
Jadi, jalan dominan yang harus banyak dilakukan untuk diterapkan pada diri kita sendiri khususnya adalah dengan menjaga hati. Persis seperti senandungnya Aa Gym.
Jagalah hati... Jangan kau kotori!
Jagalah hati... Lentera hidup ini.
Jagalah hati... Jangan kau nodai!
Jagalah hati... Cahaya Ilahi.
Ya.. Saat kita merasa hati ini mulai dimasuki virus-virus merah jambu, maka berusahalah sekuat tenaga untuk dapat mengontrolnya dan jangan sampai kita tunduk hingga memperturutkannya saja. Bukankah banyak jalan yang dapat kita tempuh untuk sampai ke

0 komentar:
Poskan Komentar