Selasa, 17 Juni 2008

Dia Ka#????



waa... ga nyangka banget....
puantes beberapa hari ini lo SMS dia suka nanya2 yang rada aneh gitu...

ya...beberapa hari lalu, setiap dapet moment waktu smsan, seorang kenalan ikhwan suka nanya hal yang menjurus2 soal pernikahan... mulai dari nanya soal " dah punya calon apa belum???" sampe " kapan target nikahnya ukhti?"

busyeetttt....saya kaget tak kepalang. awalnya memang bisa merespon biasa saja. tapi karena pertanyaannya yg ga biasa itu, bikin saya penasaran juga. 'ada apa sih dengan nih ikhwan?' ko nanya-nanya kesana??? mulai deh dag dig dug.. takut dia ada something ke saya (hehehe....GR duluan nieh).

tapi, usut punya usut, selidik punya selidik. akhirnya, rasa penasaran saya terjawab juga. sang ikhwan pun sempat memancing kembali dengan pertanyaannya tentang bagaimana perasaanku padanya... gubraakkk!!!! serasa apa ya??? au ah gelap. yang pastinya dag dig dug banget deh... dan lanjutan bahasannya (dari sang ikhwan), ternyata doski punya sedikit "rasa2 istimewa" gimana...gitu...

haaa..... ya Alloh.....bagaimana ini????

Kamis, 12 Juni 2008

t3nt4n6 HiDup


hidup ini adalah pilihan dimana engkau harus memilih arah tujuan
hidup ini adalah kenyataan dimana engkau akan mendapatkan rintangan
hidup ini adalah perjuangan dimana engkau akan menempuh berbagai rintangan
hidup ini adalah anugerah dimana engkau harus banyak memberi sebagai rasa syukurmu kepada-Nya

namun kenapa banyak orang yang belum bisa menentukan pilihan
putus asa dalam keterpurukan
berhenti ketika mendapat rintangan, kufur atas pemberian Tuhan

dimana letak keimanan dalam menentukan pilihan
dimana kepercayaan ketika jatuh dalam keputus asaan
dimana cinta dan semangatmu dalam menempuh medan dakwah yang penuh rintangan
dimana rasa kesyukuran kala Tuhanmu memberikan kelebihan

rintihan seorang hamba.....
yang dalam keguncangan jiwa
cobaan dalam dada
ejekan teman.... makian kawan...
dalam kesakitan...tak tahu arah tujuan
akankah diakhiri dengan kematian ????

Naudzubillah....
masih ada disana kawan yang mendengar
saudara yang memberi harapan dan mendo'akan

dikirimin dari : Mba' Zizah
8 juni 2008

Rabu, 11 Juni 2008

W4spaDa C1nl0K !!!!


Mungkin saat kita berbicara tentang cinta lokasi (cinlok), mengingatkan kita pada suatu acara reality show yang dihadirkan salah satu stasiun televisi Indonesia. Acara yang dibuat khusus bagi para jomblo yang ingin segera punya pacar. Caranya? Ternyata cukup singkat, program ini akan membantu para jomblo untuk mencari pasangan dengan menghadirkan 2 orang kandidat yang akan menjadi pilihan.

Tapi insya Allah pada tulisan kali ini, kita tidak akan membahas cinlok versi tersebut. Melainkan cinlok versi aktifis dakawah. Ups!!! Ada cinlok di kalangan aktifis? Namun memang begitulah realitanya, bahkan sebenarnya ini bukan lagi hal baru yang terjadi. Soalnya dah banyak juga para aktifis yang sempat menggelutinya.

Maka, Maha Besar Allah dan segala puji bagiNya yang telah menciptakan manusia dengan berpasang-pasangan. Laki-laki dan perempuan. Sebagaimana firmanNya, "Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan daripadanya Ia ciptakan isterinya..." (QS. 4 : 1). "Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan." (QS. 78 : 8), dan seperti yang disabdakan pula oleh RasulNya, "Sesungguhnya wanita adalah belahan tak terpisah dari laki-laki." (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).

Dan Allah SWT menciptakan laki-laki dan perempuan dengan masing-masing keunikannya untuk saling melengkapi satu sama lain. Dan karena itulah Allah yang Maha Pencinta ini pun menganugerahkan rasa kasih sayang dan cinta serta ketertarikan di antara keduanya. Sebagaimana difirmankan dalam kitabNya yang mulia, "Dijadikan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini (syahwat) dari wanita-wanita, anak-anak, dan harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan Allah, di sisiNyalah sebaik-baik tempat kembali." (QS. 3 : 14).

Cinlok (cinta lokasi), ternyata memang kerap kali terjadi di kalangan aktifis dakwah. Karena itu, cinlok bukan lagi istilah yang hanya digunakan bagi para aktris dan aktor yang saling kepincut sejak bertemu di lokasi syuting. Dari beberapa responden yang tentu saja adalah para aktifis dakwah pun tak mengelak untuk mengakui bahwa beberapa di antara mereka pernah mengalami hal ini. Bahkan salah satu responden akhwat yang berpartisipasi menyatakan, "Apabila dipersentasekan, maka kemungkinan terjadinya cinlok di kalangan aktifis berkisar pada angka 50 s/d 90 persen."

Lalu mengapa cinlok bisa hadir pula di antara para aktifis dakwah ini? Banyak hal yang melatarbelakangi kemunculan cinlok. Salah satunya adalah besarnya frekwensi pertemuan dan perbincangan di antara mereka. Entah dalam rapat, majelis, kebersamaan dalam suatu kepengurusan, dan sebagainya. Karena itu seorang akhi pun mengingatkan bahwa, "Interaksi yang terlalu sering terjadi di antara 2 jenis ini (ikhwan dan akhwat, red) akan berdampak munculnya 'rasa-rasa' tersebut (ketertarikan, perhatian, bahkan cinlok)."

Kehadiran 'rasa-rasa' tersebut memang merupakan hal yang wajar, lumrah, bahkan memang sudah ada dari sananya alias fitrah manusia. Namun akan kurang pas jika ternyata para aktifis dakwah justru turut pula bergelut di kegiatan para pengumbar cinta yang tidak atau belum halal bagi mereka. Ikhwah lain yang memiliki pengalaman pribadi tentang cinlok mengungkapkan, "Biasanya mereka (ikhwan-akhwat yang terjerat cinlok) kurang atau perlu waktu lebih lama untuk menyadari kealfaan tersebut, kecuali jika 'hubungan gelap' itu telah diketahui oleh ikhwah lainnya (ada yang mengingatkan), sehingga indikator-indikator di dalamnya pun kerap bersambut."

Karena kegiatan cinlok terjadi di lembaga atau organisasi dakwah, maka untuk melindungi cinlok, para aktifis pun mengangkat dalih untuk kepentingan dakwah sebagai background-nya. Kan mereka adalah orang-orang yang bergelut di bidang ini. Dan atas nama dakwah, awalnya hubungan yang terjadi relatif terkontrol perlahan terselip pula di dalamnya perhatian-perhatian khusus yang bersifat pribadi yang saling berkelanjutan hingga pada hal-hal kecil. Inilah yang dimaksud dengan 'gayung bersambut' tersebut.

Sebenarnya cukup mudah untuk mengenali indikator-indikator munculnya virus-virus cinlok. Karena indikator-indikator ini tidak jauh beda dengan yang terjadi di kalangan umum. Mulai dari besarnya rasa ingin tau segala sesuatu tentang si dia hingga mengalirnya perhatian-perhatian khusus tentang masalah-masalah pribadi si dia untuk tetap mendapatkan simpatinya.

Jadi, jalan dominan yang harus banyak dilakukan untuk diterapkan pada diri kita sendiri khususnya adalah dengan menjaga hati. Persis seperti senandungnya Aa Gym.

Jagalah hati... Jangan kau kotori!

Jagalah hati... Lentera hidup ini.

Jagalah hati... Jangan kau nodai!

Jagalah hati... Cahaya Ilahi.

Ya.. Saat kita merasa hati ini mulai dimasuki virus-virus merah jambu, maka berusahalah sekuat tenaga untuk dapat mengontrolnya dan jangan sampai kita tunduk hingga memperturutkannya saja. Bukankah banyak jalan yang dapat kita tempuh untuk sampai ke kota suci? Maka banyak pula cara dan ikhtiar yang dapat kita lakukan untuk menjaga hati, hingga Allah SWT mempertemukan kita dengan yang halal. Dan satu lagi sebagai pengontrol diri, ingatlah bahwa Allah SWT, Rabb kita yang Maha Pencinta itu juga adalah yang Maha Pencemburu.

Minggu, 08 Juni 2008

Qsah AdiK sang PenyemiR 5ePatu


Hmmm…hari ini aku bener2 mati kutu, pasalnya tadi malam aku ga ada belajar. Padahal pagi ini akan ada Quiz. Mata kuliah Kebijakan dan Inovasi Pendidikan. Dengan dosen pengajar yang cukup tegas.

Demi memanfaatkan waktu, selama perjalanan menuju kampus, sekitar 30 menit. Aku sempatkan membaca beberapa bahan materi ujian dari makalah teman2 yang telah di presentasikan sebelumnya. Ya…lumayanlah, walaupun hanya dapat sekedar membaca seadanya materi. Setidaknya aku paham sedikit. Dan siap tak siap quiz pagi ini harus dijalani.

Setibanya di kelas. Aku masih berat mengatur nafas. Alhamdulillah aku tak terlambat. Sebelum sang dosen terlihat ‘penampakannya’ dalam hati aku sempat berharap “ya Alloh…semoga hari ini bapak ga hadir trus ga jadi ujian deh…”. Ada2 saja, ketahuan banget lo ga siap ujian, hehehe….tapi ternyata harapan serupa tak hanya terpanjat dari hatiku sendiri. Beberapa teman pun salaing berbincang dengan harapan yang demikian.

Namun, sayang harapan sirna saat sang dosen mulai tampak di depan pintu. Hari ini beliau hanya membawa map absensi saja. Sudah jelas itu artinya kita akan tetap Quiz…so, Bismillah….ku panjat do’a dalam hati. “mudahkan ya Alloh…”. Dan pak dosen pun ternyata hari ini hanya mengeluarkan 1 soal saja yang perlu dijelaskan. Soal ini menilai sejauh mana pemahaman kami akan mata kuliah yang beliau pandu. Alhamdulillah….ini soal yang cukup mudah bagiku.

Selama 1 jam bergelut memerah otak dalam quiz. Akhirnya selesai juga. Teman2 segera meninggalkan kelas, beberapa ada yang menuju kantin, memnuhi hak si perut. Ada yang bersegera ke perpus, harus mengembalikan buku yang dah terkena denda akibat lambatnya pengembalian. Dan entah kemana2 lagi berhamburannya temen2ku itu. Dan pak dosen pun telah meninggalkan kelas pula. Sementara itu aku, Salsa, Eni, Siti, Nia, Rusla dan Putri (maaf bila ada yang tak tersebutkan namanya ya…mungkin saya lupa). Masih ingin menetap sejenak lagi di kelas. Dan tak lama….

Seorang adik datang dan masuk ke dalam kelas. Jika saya mengira-ngira, mungkin usianya sekitar 11tahun. Awalnya diantara kami ada yang tak mengerti ucapannya saat masuk. Karena jujur, logat bahasanya sungguh beda, jenis suaranya pun begitu khas. Saya bahkan belum pernah dengar yang seperti dia. Ia pun duduk di salah satu kursi temen2 putra. Dan berkata “mba… ada yang mau semir sepatu kah?” ya begitulah kira-kira. Kebetulan yang tersisa di dalam kelas hanya tinggal kami saja.

“sebaiknya di tawarkan ke ruang dosen saja dek…” seorang diantara kami memberi saran.

“ dosen tuh apa sih mba?” ternyata dia tak mengerti.

“ dosen itu artinya guru” kali ini Rusla angkat bicara.

“ ooo…memangnya dimana itu (ruang guru_red)” tanyanya lagi.

“ di gedung sebelah sana dek…” yang lain ikut memberi petunjuk dengan tangan. Mengarahakan tangannya menunjukkan sebuah gedung di seberang bangunan kelas kami. “ mungkin disana kamu bias nyemir sepatunya dosen-dosen” sahut teman yang lain.

“ ooo…sudah tadi saya kesana, nyemirkan sepatu sampai sepuluh.” Jawabnya.

“ wa…Alhamdulillah.. kalo begitu.. kalau di ruang dosen yang sebelah sini?” Eni menwarkan seraya menunjukkan ruang dosen lain, di gedung sebelah kiri bangunan kelas kami.

“ sudah juga. Saya sudah keliling tadi.” Jawabnya dengan senyum dan mimic wajah yang tampak ceria dan begitu khas.

Saying, kami tak bias memanfaatkan jasanya. Soalnya, kebetulan diantara kami tidak ada yang mengenakan sepatu dari bahan kulit. Yang cocok untuk disemir. Karna bingung, kami sempat saling sibuk kembali dengan urusan masing-masing. Dan sementara itu, ternyata si adik penyemir sepatu itupun bersenandung. Dia menyanyikan lagu dangdut. Buuusyyeeetttt… perhatian kami kembali padanya.

“ suka nyanyi ya? Suaranya bagus juga” celetuk seorang teman

“ hehehe…iya mba, tapi saya bisanya Cuma lagu dangdut. Yang lain, saya ga bias” jelasnya malu-malu (tapi mau…)

“ suaranya bagus, kenapa ga ikut dangdut mania kah gitu?” Eni menawarkan. Sementara itu, si penyemir sepatu hanya tertawa saja. Entah apa jawabannya saat itu, aku tak begitu memperhatikan. Aku masih sesekali sibuk dengan ponselku.

“ mba mau kunyanyikan lagunya Rhoma Irama kah?” ia menawarkan pada kami.

“ wah…iya..iya…boleh…” sahut Putri.

Dan adik itu pun kembali bersenandung. Suaranya beneran bagus. Tapi karna rada malu-malu mau, nyanyinya jadi sepotong-sepotong. Lucu juga dia nih…

Tiba-tiba ada salah seorang teman yang bertanya “ kamu muslim kah?”

“ iya mba… saya baru saja masuk Islam. Baru 2 bulan lebih.” Begitu katanya kalau tidak salah. Hmmm…ternyata dia cukup terbuka. Walaupun kami tak mengenalnya, tapi ia mau saja berbagi cerita. Dari sini, keingintahuan tentangnya pun semakin besar.

“ oya, memangnya kamu orang mana sih?” Tanya Putri.

“ saya dari Ambon. Bapak saya asli orang Dayak. Ibu saya asli Ambon jawabnya. “ Bapak saya sudah meninggal. Ibu saya juga meninggal sekitar 2 tahun lalu” lanjutnya. Sebenarnya waktu itu dia sempat menjelaskan sebab meninggalnya sang ayah. Namun maaf, saya lupa ceritanya.

“ trus kok bias ke samarinda ikut siapa? Sama keluarga kah? Sama kakak atau adik?” Tanya teman yang lain lagi. Aku tak pernah memperhatikan siapa yang bertanya, aku lebih tertarik dengan ceritanya si penyemir sepatu itu. Dan maaf lagi, aku tak tahu namanya.

“ waktu itu saya ikut kapal. Saya anak tunggal. Ga punya sodara” jawabnya singkat.

“ trus disini kamu tinggal dimana?” lanjut temanku bertanya

“ disini saya nge-kost. Saya nyemir buat bayar uang kost” jawabanya, tetap dengan mimic wajahnya yang ceria. Selama bercerita tak pernah sedikit pun ia menampakkan ekspresi wajah sedih atau mengiba.

“ berapa biaya uang kost-nya?” Rusla kembali bertanya.

“ seratus lima puluh ribu. Ruangannya kecil, Cuma kamar saja” sahutnya. “Hmmm…. Ya Alloh dek… kamu hebat banget. Bias bertahan di wilayah orang dengan kesendirian. Bekerja semampumu untuk membiayai dirimu sendiri…hebat…” gumamku dalam hati. Selama mendengarkan ceritanya, beberapa kali aku dan teman2 mengucapkan tasbih. “Subhanallah…” perjalanan hidup adik seusianya bener2 mengagumkan buatku dan temen2. pasalnya sampai seusia ini, kami masih bergantung pada orangtua. Sedangkan dia…. Ya Alloh… kuatkan dia…

“ oya, trus kenapa kamu jadi masuk Islam?” Tanya Eni.

“ waktu itu, saya ketemu seorang bapak-bapak. Dia nanya ke saya, katanya ‘ kenapa kamu menyembah yesus? Dia itukan hanya nabi, bukan Tuhan?’. Gitu mba, trus saya mikir, iya juga. Tuhan kok mati sih?” jawabnya polos.

saya bersyahadat di masjid Darussalam. Waktu itu sampai 3 kali mengucapkan syahadat, baru bias masuk Islam” ujarnya. Merinding saya mendengar ceritanya di sesi ini. Seolah berujar dalam hati “ Baarokallah ya dek…selamat bergabung dalam barisan, semoga tetap istiqomah dalam kebenaran”

“ waktu saya dulu ke gereja, pendetanya pernah berpidato begini. ‘ rasakanlah kehadiran Yesus dalam dirimu…’. Padahalkan Yesus sudah mati, makamnya saja masih ada di Yerussalem” lanjutnya bercerita sembari tertawa. Ia malah geli sendiri mengingat hal itu. Kami pun jadi turut tertawa bersamanya.

“Allahu Akbar…. Mudahnya Engaku memberi hidayah padanya ya Robb…” gumamku lagi dalam hati. Aku hanyut dalam kekagumanku akan kuasa Alloh SWT dari cerita adik penyemir sepatu itu. Tak hanya aku, saat dia bercerita demikian, teman2 yang lain pun berdecak kagum memuji Alloh SWT. Robb kami, Robb seluruh alam semesta ini.

“ dek... kamu sekolah sudah kelas berapa?” Tanya Eni lagi.

“ saya ga pernah sekolah dari kecil. Orangtua saya ga punya biaya-nya mba..” jawabnya. Namun ia menjawabnya tetap dengan senyum khas di wajahnya itu.

“ memangnya kamu bercita-cita jadi apa?” Tanya yang lain.

Hehehe… maaf lagi, saya malah lupa jawabannya waktu itu apa.. penulis cerita yang payah nih, saya…

“ saya dengar, katanya ada sekolah gratis disini ya mba? Dimana itu?” kali ini dia balik bertanya. Sepertinya, keinginannya untuk bersekolah cukup besar.

“ iya, ada di tenggarong” jawab Rusla.

“ wa… jauhnya ya…” sahut sang adik penyemir sepatu.

“ di Bontang juga ada” tambah Rusla.

Yeee….yang di Tenggarong saja, dia sudah kejauhan. Apalagi yang di Bontang….piye tho mba???? Ada-ada saja nih.

Tak terasa waktu berlalu, seru banget mendengarkan cerita adik penyemir itu. Namun saying, kami tak bias berbincang lebih lama dengannya. Dia harus kembali mengitari kampus, menjemput rezeki. “ saya pergi dulu ya mba… Assalamu’alaikum..” si adik penyemir sepatu itu pun berpamit. Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarokatuh...senang bisa mendengar ceritamu dek…semoga tetap berada dalam keadaan sebagai muslim, hingga akhir hayat, Baarokallah… aamin..

# Samarinda, 10 Juni ‘08

khansa_asysyifa

sepekan setelah pertemuan denganmu dek…

Ke3p 15tiQ0maH yaaaa